Kayak apa sih perkembangan sastra Indonesia? Saya kerap mendapat pertanyaan itu dari orang asing (dan orang dalam negeri juga sebenarnya) dan harus menjawab dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jadi, ini biasanya yang saya katakan bagi mereka yang buta sastra Indonesia:

1. Apa itu sastra Indonesia? Indonesia masih muda. Republik ini baru berdiri 1945. Bahasa Indonesia baru dideklarasikan tahun 1928. Sebelum itu? Yang ada sastra berbahasa daerah. Sastra Melayu, Jawa, Bali, Bugis, dll. Merekalah cikal-bakal khazanah sastra Indonesia kemudian.

Kalau ingin mencicipi, ada beberapa teks yang telah diterjemahkan dan masih beredar: Negarakertagama (Mpu Prapanca), Wedhatama (Mangkunegara IV), La Galigo (anonim, Bugis), dll. Biasanya, kesusastraan ini bersifat religius-spiritual dan dekat dengan keraton. Sebutlah ini babak “Sastra Berbahasa Daerah”.

2. “Sastra Indonesia dalam bahasa Belanda.” Sebelum Indonesia merdeka, kaum intelektual memakai bahasa penjajah: Belanda. Tulisan-tulisan berbahasa Belanda dari masa ini (sekitar 1900 sd 1945), yang berharga sampai sekarang, membawakan sikap kritis perihal kolonialisme.

Yang wajib  kita baca adalah surat-surat Kartini (terjemahannya diterbitkan dalam beberapa versi). Surat Kartini adalah karya sastra non fiksi yang sangat berharga. Selain itu, baca juga Max Havelaar (novel karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker). Keduanya menginspirasi semangat kebangsaan sehingga terus dikenang di era Indonesia merdeka.

3. “Sastra dalam bahasa Melayu.” Bahasa Melayu adalah bahan dasar bahasa Indonesia. Ia adalah lingua franca di nusantara. Ada bahasa Melayu yang digunakan kaum pujangga dan cendekia kesultanan-kesultanan Melayu.

Ada juga yang dipakai untuk berdagang dan komunikasi umum—biasa disebut Melayu Pasar. Untuk mengintip teks yang masih tersedia, bisa cari Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji, yang berisi petatah-petitih. Itu yang menggunakan Melayu tinggi.

Sementara itu, mendekati 1900 hingga kemerdekaan, banyak novel berbahasa Melayu Pasar yang ditulis dan diterbitkan oleh orang-orang Tionghwa. Ketika itu, mereka sudah maju dalam industri media cetak.

Kalau mau baca, silakan pilih Drama di Boven Digul karya Kwee Tek Hoay, pernah diterbitkan ulang beberapa tahun lalu. Temanya berkenaan dengan situasi penjajahan juga. Para penulis Tionghwa besar perannya, tapi sering tidak diakui dalam sejarah sastra kita.

4. “Balai Pustaka.” Di awal 1900-an itu, setelah ada politik etis, pemerintah Belanda ingin memberi bacaan yang [mereka anggap] baik dalam bahasa-bahasa di negeri jajahan, terutama bahasa Melayu. Mereka membuat Balai Pustaka yang menerbitkan karya-karya yang dianggap memenuhi syarat.

Karena didirikan Belanda, tentu saja buku-buku terbitan Balai Pustaka tidak kritis terhadap penjajahan. Tema menonjol: konflik antara adat dan modernitas. Contoh yang sangat terkenal: Siti Nurbaya (Marah Roesli), Tenggelamnya Kapan van der Wijk (Hamka)—keduanya pernah dijadikan film.

5. “Pujangga Baru.” Ini nama majalah yang diterbitkan oleh trio Sutan Takdir Alisjahbana, Armyn Pane, dan Amir Hamzah tahun 30-an. Mereka ingin sebuah terbitan yang independen, tak seperti Balai Pustaka, yang dikontrol Belanda.

Para intelektual di balik Pujangga Baru sangat sadar akan proyek kebangsaan. Dalam semangat Sumpah Pemuda, mereka “menciptakan” bahasa Indonesia untuk kesusastraan bangsa yang baru—mencampur dan menyerap kata-kata daerah ke dalam bahasa Melayu, tindakan yang kontroversial di masa itu.

Benih puisi modern Indonesia mulai lahir. Yang paling sering disebut sampai sekarang adalah karya Amir Hamzah (penyair ini wafat secara tragis, dibunuh oleh barisan anti bangsawan di masa revolusi kemerdekaan). Pujangga Baru berhenti terbit ketika Jepang berkuasa.

6. “Angkatan 45.” Ini tahun Revolusi Kemerdekaan. Istilah “angkatan” juga tak bisa dilepaskan dari jargon revolusi dan semangat zaman. Tiga nama yang sering disebut adalah Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani, yang menerbitkan kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir, yang menantang pendekatan Sutan Takdir.

Tapi, yang paling ikonik tentu saja Chairil Anwar. Puisi-puisinya sangat berbeda dari tradisi puisi sebelumnya. Sangat kontemporer. Bahkan masih bisa kita nikmati tanpa terasa kuno sampai sekarang! Hampir semua anak Indonesia ingat sajak “Aku”.

7. “Modernisme dan Sastra Indonesia.”  Ini bukan periodisasi waktu, melainkan pembabakan tematis yang bisa kita pakai untuk melihat sastra Indonesia menjelang dan di awal kemerdekaan. Katakanlah, dari era Sumpah Pemuda hingga Demokrasi Terpimpin (1930-an sd 60-an).

Proses modernisme di Indonesia terjadi bersama kesadaran nasionalisme. Kemajuan, kemerdekaan, humanisme adalah kata-kata kunci dalam memahami babak ini. Yang wajib dibaca untuk tema ini setidaknya Pramoedya Ananta Toer dan Sutan Takdir Alisjahbana. Setidaknya, bacalah Bumi Manusia dari Pram, dan Layar Terkembang dari Takdir.

8. “Polemik dan Politik Sastra.” Ini juga perspektif lain yang bisa dipakai untuk mendalami sastra Indonesia di era yang lebih panjang. Para sastrawan tidak hanya mengarang cerita atau menulis puisi. Mereka juga beradu pendapat,  bersikap politis, bermusuhan.

Polemik adalah pertentangan pendapat secara terbuka, biasanya antara dua kubu. Setidaknya, ada dua polemik yang wajib diingat. Pertama, Polemik Kebudayaan di tahun 30-an. Topiknya: apakah sastra Indonesia harus baru, lepas dari belenggu masa lalu dan nilai-nilai Timur, atau sinambung.

Untuk mendalami ini, baca Polemik Kebudayaan (editor Achdiat Karta Mihardja). Politik Kebudayaan ini bersifat intelektual, tak sampai saling cacimaki. Yang kedua, perseteruan antara kelompok Lekra (organisasi di bawah payung PKI) melawan Manifes Kebudayaan di tahun 60-an, yang berakhir bersama peristiwa berdarah 1965-66. Perseteruan ini kasar dan melibatkan tindakan sensor. Bahkan masih menimbulkan debat panas hingga saat ini.

9. “Sastra dan Rezim Militer.” Setelah G30S dan pembunuhan massal terhadap tertuduh PKI (1965-66), Indonesia memasuki rezim militer di bawah Jenderal Soeharto. Di masa ini ada pertumbuhan ekonomi yang pesat. Daya beli meningkat.

Lahirlah novel-novel populer, misalnya karya Marga T, Mira W, Ashadi Siregar, Motinggo Busye, dll. Sering kali novel populer tidak mengangkat tema politis. Di ujung lain, ada pengarang yang berusaha menyingkapkan ketidakadilan dan menyuarakan korban.

Novelis yang menggarap tema itu secara hati-hati, antara lain: Umar Kayam, YB Mangunwijaya alias Romo Mangun, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma. Era ini juga ditandai pelarangan, misalnya terhadap karya Pramoedya dan penampilan penyair W.S. Rendra. Penyair Wiji Thukul termasuk orang hilang, diduga karena puisi-puisinya yang kritis. Salah satu kutipannya yang sangat terkenal: Hanya ada satu kata: Lawan!

10. “Reformasi.” Reformasi Indonesia kebetulan diawali oleh maraknya filsafat postmodernisme. Pendekatan dan kritik sastra di tahun 1990-an didominasi wacana postmodernisme. Saya sendiri menerbitkan novel pertama di era ini: Saman, yang mendapat penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 karena dianggap menulis dengan cara baru, mendobrak tabu dan meluaskan cakrawala sastra Indonesia.

Kejutannya, sepuluh hari setelah peluncuran Saman, Presiden Soeharto mundur. Rezim militer usai! Setidaknya tujuh tahun pertama era Reformasi dipenuhi dengan karya yang mengusung tema kebebasan. Pengarang perempuan urban bermunculan—Jenar Maesa Ayu, Dewi Lestari,  Vira Basuki, dll—sehingga ada istilah yang sebenarnya agak mengejek, “sastra wangi”.

+1. Hingar bingar Era Digital. Perubahan politik Indonesia terjadi bersamaan dengan revolusi teknologi di seluruh dunia. Kini adalah era digital. Teknologi ini memudahkan penerbitan dan penyebaran teks. Keadaan sangat ramai dan bising. Segala pilihan ada. Dari aspek best seller, trend kebebasan di awal Reformasi bergeser menjadi trend novel religi dan cerita sukses.

Contohnya, Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata). Pelbagai eksplorasi dan eksperimen sastra terjadi, seperti penulisan novel ramai-ramai sampai fiksimini. Anak-anak muda menulis dengan bahasa Inggris dan menampilkan “spoken words” tanpa rasa menyalahi keindonesiaan. Ada banyak perubahan paradigma yang belum diteliti. Di tengah hingar-bingar ini, kritik sastra pontang-panting mengimbangi kecepatan produksi sastra...

Di tengah bising itulah, semoga tulisan yang [terpaksa] simplistis ini bisa membantu siapapun yang awam untuk melihat peta besar sastra Indonesia. Sambil kita menunggu kritik atau penjelasan yang lebih dalam. Misalnya, buku Anton Kurnia (Mencari Setangkai Daun Surga) yang akan terbit akhir Februari 2016 ini.