Jika mendengar kata 10 November, hampir pasti sebagian besar di antara kita akan menyebut atau setidaknya mengenal dengan Hari Pahlawan. Hari bersejarah yang latar belakangnya yaitu sebuah peristiwa heroik pada tahun 1945 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di Surabaya.

Nah, selain momen tersebut, pada tanggal 10 November juga pernah ada momen bersejarah yang mungkin tidak banyak orang yang tahu. Pada tanggal 10 November 1963 resmi dibuka pesta olahraga akbar bernama GANEFO (Games Of The New Emerging Forces). 

Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dan mengadakan upacara pembukaan dengan meriah di Stadion Senayan (Sekarang Stadion Gelora Bung Karno) dengan mengusung semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur).

Presiden kita waktu itu, Soekarno merupakan orang yang menggagas diadakannya Ganefo. Sebagamana kita ketahui bahwa Soekarno merupakan salah satu orang yang paling keras dan vokal menentang neo-kolonialisme dan imperialisme yang banyak dilakukan negara-negara Barat. 

koransulindo.com

Latar Belakang Terbentuknya Ganefo

Pada waktu itu negara besar dunia memang masih dalam suasana persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur. Sebagai penengah, Soekarno bersama empat pemimpin dunia lainnya membentuk Gerakan Non-Blok.

Kemudian dia mengenalkan konsep NEFOS (The New Emerging Forces). Nefos ini bisa dianggap sebagai representasi negara-negara berkembang yang berusaha melawan kolonialisme dan imperialisme. Kebanyakan mereka merupakan negara-negara yang baru merdeka. 

Soekarno pun merasa NEFOS ini merupakan lawan atau menjadi saingan dari OLDEFOS yang dikatakannya sebagai negara-negara imperialis dan kekuatan lama, sehingga menurutnya dunia terbagi menjadi dua kekuatan tersebut.

Setelah NEFOS, Bung Karno kemudian mengenalkan konsep Games of the New Emerging Forces (GANEFO) atau bisa kita artikan pesta olahraga negara-negara NEFO (berkembang). Karena melibatkan banyak negara di dunia, kegiatan ini bisa dikatakan berskala internasional. 

Ancaman dari IOC

Lalu bagaimana dengan Olimpiade? IOC sebagai induk dari olimpiade tidak mengakui adanya Ganefo apalagi tahun berikutnya akan diadakan olimpiade. Tapi hal itu tidak dihiraukan dan Ganefo tetap berlangsung.

Bagi Soekarno sendiri, Ganefo merupakan tandingan Olimpiade yang banyak dikuasai negara-negara Barat. Dilaksanakan selama 12 hari, Ganefo ini diikuti kurang lebih 2700 atlet dari 51 negara benua Asia, Afrika, sebagian Eropa-Amerika dengan mempertandingkan 20 cabang olahraga. 

Wartawan dari penjuru dunia juga meliput ajang olahraga besar tersebut. Keluar sebagai juara umum adalah Tiongkok diikuti Uni soviet. Kontingen Indonesia tampil bagus menduduki peringkat ketiga dengan 21 emas, 25 perak, dan 35 perunggu. 

Yang menarik juga, banyak negara-negara undangan yang mengirim kontingen atlet seadanya karena mereka masih ada rasa takut dengan IOC yang bisa membekukan keanggotaannya dan tidak bisa mengikuti Olimpiade.

Semboyan Ganefo (WordPress.com)

Politik yang Begitu Kental

Kalau kita lihat sekilas bagaimana latar belakangnya di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa Ganefo ini tidak bisa dipisahkan dari unsur politik. Jika ditelusuri ternyata nuansa politik ini sudah mulai terasa saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962. 

Saat itu Indonesia (panitia) tidak mengundang Israel dan Taiwan dengan alasan visa. Tapi menurut para pengamat, ada motif politik di belakangnya. Israel seperti kita ketahui bermasalah dengan Palestina, sementara Taiwan oleh pemerintah Indonesia masih dianggap sebagai bagian dari Tiongkok. 

Indonesia waktu itu memang bersahabat baik dengan kedua Palestina dan Tiongkok. Akibatnya IOC (Komite Olimpiade Internasional) memberikan peringatan keras kepada Indonesia dan menunda keikutsertaannya dalam Olimpiade selanjutnya. 

Mengetahui hal ini, Soekarno marah besar dan kemudian mencetuskan pesta olahraga internasional tandingan yaitu Ganefo yang didukung penuh negara-negara besar seperti Uni Soviet, Tiongkok dan Jepang.

Dengan menjadi tuan rumah Ganefo, Indonesia mendapat sanksi berat dari IOC yaitu dilarang mengikuti Olimpiade tahun 1964 di Tokyo, Jepang. Walau demikian, Indonesia masih berharap dapat mengikuti Olimpiade tersebut. Indonesia mendapat dukungan dari negara-negara lain terutama tuan rumah Jepang (Jepang sebelumnya juga ikut Ganefo). 

Dengan berbagai pertimbangan dan desakan dari berbagai negara, Indonesia diizinkan mengikuti Olimpiade dengan syarat dan kontingen diberangkatkan. Namun sesampainya di Jepang, atlet atletik Indonesia dilarang ikut karena sanksi dari organisasi atletik dunia akibat penyelenggaraan Ganefo. 

Hal ini menimbulkan kekecewaan bagi official Indonesia dan melakukan aksi boikot. Sebagai bentuk kekecewaan, akhirnya seluruh atlet Indonesia dipulangkan ke tanah air dan Soekarno bersikeras ingin mengembangkan Ganefo.

Perangko edisi Ganefo (belajarsampaimati.com)

Sisi Lain Ganefo dan Dampak Bagi Indonesia

Sebenarnya Ganefo tidak hanya terpaku pada persaingan menang-kalah dan perlombaan menjadi juara. Lebih dari itu ada hal lain yang juga ingin ditonjolkan yaitu semangat persaudaraan, solidaritas dan memperkenalkan seni kebudayaan.

Selama pertandingan Ganefo 12 hari dari 10 November – 22 November 1963, juga diadakan Ganefo Festival Art (pentas seni dari negara peserta), pertunjukan penyanyi dari rombongan Mexico serta kunjungan atau tur keliling atlet dan delegasi ke beberapa wilayah Indonesia.

Terselenggaranya Ganefo menimbulkan dampak politik yang cukup besar bagi tuan tumah. Indonesia dan tentu saja Soekarno semakin melambung dalam pergaulan internasional. Mungkin banyak negara yang tercengang bagaimana negara yang baru merdeka belum sampai 20 tahun dan keadaan ekonomi waktu itu yang tidak begitu baik tapi bisa menyelenggarakan pesta olahraga besar sekelas olimpiade. 

Walau demikian, pada pagelaran Ganefo selanjutnya tidak begitu memikat seperti di Jakarta. Pada Ganefo II yang awalnya akan berlangsung di Kairo dipindah ke Kamboja dengan pertimbangan politik. Ganefo III yang semula direncanakan di Beijing Tiongkok, mereka menyerahkan ke Korea Utara. Tetapi pada akhirnya Ganefo III tidak pernah terselenggara sampai sekarang.