Disclaimer:Tulisan ini tidak mewakili teman-teman kristen &  gereja manapun.

Terkait kasus Paul Zhang, orang  Kristen protes kenapa interpol turun padahal penghinaan terhadap Kristen tak pernah diusut. Beberapa Muslim intelektual menyarankan agar orang Kristen melaporkan Waloni, dkk  mengingat kasus Zhang  ditindaklanjuti polisi karena kaum Muslim kompak melapor.

Sebenarnya  sudah ada yang melaporkan  tapi  secara umum bisa disimpulkan orang Kristen memang pasif menghadapi  isu ini.  Ada beberapa penyebab.

Pertama. Pesimis. Pasti tidak ditindaklanjuti dan mungkin akan dilaporkan balik. Ini sudah terjadi berkali-kali.

Kedua: Takut. Pihak yang dilaporkan  memiliki pengikut yang tidak keberatan main pukul dan membunuh.

Ketiga. Banyak yang beranggapan bahwa dipersekusi memang risiko jadi orang Kristen.

Keempat. Banyak yang sadar pasal penistaan agama adalah pasal karet dan hanya efektif saat dipakai kaum Muslim.

Kelima. Di Kristen tidak ada konsep membela agama hanya ada konsep Yesus membela umat-NYA.

Keenam. Orang  kristen  cukup banyak yang apolitis.

Sikap apolitis ini (yang sebenarnya justru menunjukkan betapa politisnya gereja) terjadi karena  ajaran Kristen yang sampai kepada umat tidak komplet. Begini, Yesus peduli dengan kehidupan sosial politik. DIA disalib karena melawan pemerintah. 

Lukas 1:52,“ Ia menurunkan para penguasa dari takhta mereka.”Pembangkangan sipil banyak  yang  bersifat biblikal. Yesus  kerap menentang ketaatan legalistik.

Namun, gereja yang  peduli dengan  isu sosial-politik hanya gereja yang berorientasi Teologi Pembebasan, gereja seperti ini hampir tak ada di Indonesia.   Gereja biasanya fokus ke isu surga, neraka, dan aktivitas sosial. Jemaat diajarkan ’Tampar pipi kanan, kasih pipi kiri’ dan ‘Doakanlah musuhmu.’

Ketujuh. Tidak  melapor karena tidak marah. ‘Ulama-ulama’ memang bicara jelek tapi yang mereka sampaikan salah.  Orang  miskin akan marah  atau tersinggung saat dibilang miskin karena kalimat  itu jelek tapi benar. Tapi, kalau  kita ngomong depan muka  Bill Gates,”Miskin lu!” kalimat itu jelek tapi salah. Dia  pasti hanya geleng-geleng sambil bergumam,”Apaan sih.”

Nah, kami adalah Bill Gates.

Kedelapan. Wajar jika ‘ulama-ulama’ mengatakan Alkitab  itu palsu, mereka bukan Kristen. Kalau mereka percaya bahwa Alkitab adalah asli, itu berarti mereka Kristen.

Kesembilan.  Tidak mau  mengurangi waktu  untuk keluarga padahal aktivitas sesudah melapor pasti makan banyak waktu. Hampir semua gereja punya konselor pernikahan dan program retret suami-istri. Keluarga dianggap sangat penting,  tak boleh poligami atau poliandri.

Agar bisa bahagia  dan  tidak kawin-cerai, banyak orang Kristen menganggap kebersamaan dengan keluarga sangat penting.  Oleh karena itu orang  Kristen yang akrab dengan kegiatan lapor-melapor atau pergerakan sosial politik biasanya aktivis, politisi, dan sejenisnya, karena memang itulah pekerjaan mereka sehari-hari.

Kesepuluh, sebagian yakin bahwa gerakan sporadis yang dilakukan kelompok atau pribadi pada akhirnya sia-sia, harus ada dukungan politis  dari partai atau pemerintah.

Bagaimana kalau demonstrasi ? Daniel Mananta, Ernest Prakasa, Agnes Monica, bersama dengan gereja-gereja, KWI serta PGI rame-rame ke Monas pas tanggal cantik?  

Etika kerja Protestan  dari Calvinisme  mengajarkan tentang kerja keras dan disiplin. Bagi banyak orang Kristen, daripada demo   lebih baik  mengembangkan bisnis, melakukan kegiatan sosial, riset, bangun klinik, menulis  buku, dan lain-lain.

Sekedar catatan, tidak ada satu pun orang Kristen yang terikat semua alasan di atas. Masing-masing tidak melapor karena  sebagian  alasan saja.  Lalu terkait Waloni, dkk, bagaimana?

Bisa saja melapor tapi  dengan pasal yang tepat. Misal:Mereka   memukuli pendeta, tuntut pelakunya dengan pasal penganiayaan. Umat mereka merusak gereja, pakailah pasal 200 KUHP.  ‘Ulama’ mengatakan darah kafir halal atau Kristen agama setan? Mungkin bisa pakai pasal tentang ujaran kebencian?

Sayangnya,  kasus Paul Zhang membuat  sebagian orang Kristen kian  apatis. Banyak yang berpendapat bahwa kasus Zhang menunjukkan Muslim intelektual bergerak lebih cekatan dan  teriak  lebih keras saat merasa agamanya dihina daripada ketika dasar negara hendak diganti. Mungkin di Islam memang ada konsep bela agama, entahlah.

Kendati diam kami tahu apa implikasi politis dari ajaran tersebut, jika ajaran itu ternyata benar-benar ada,  terhadap kaum ‘minoritas’. Dan tentu, kita semua tahu, bangsa ini hanya bisa rukun bukan jika orang Kristen protes. Gerakan sporadis tak bisa melawan strategi khilafah yang demikian rinci dan rapi.  

Satu-satunya cara: Pemerintah turun tangan. Mereka harus menunjukkan  bahwa Pancasila bukanlah jargon politik melainkan dasar yang menjadi landasan  yang tak tergoyahkan bagi setiap warga negara untuk bernafas dan bergerak.