Didirikan 7 Ramadhan 361 H. Jika menggunakan penanggalan itu, maka saat ini Universitas Al Azhar 1.081 tahun. Ketika itu, Dinasti Fatimiyah yang memerintah Mesir.

Ketika Jendral Fatmiyah menaklukkan Mesir, Jauhari Al Siqilli, program pertama yang dilaksanakan dengan membangun masjid. Dengan perintah Khalifah al-Mu’izz Lidinillah, dimulailah pembangunan masjid dengan peletakan batu pertama.

Selanjutnya, dinamakan Jami’ Al Qahirah. Bolehjadi kata jami ini yang maknanya juga universitas, kemudian di Indonesia dibangun dengan nama masjid jami’. Dimana masjid yang dilengkapi dengan fasilitas belajar.

Diawali dengan madrasah yang berada di masjid, semata-mata hanya sebagai wahana pembelajaran pendidikan Islam. Pada kesempatan berikutnya, bahkan juga membuka jurusan eksakta, diantaranya teknik.

Sementara pembukaan Mesir sendiri diawali oleh sahabat Amru bin Ash. Masjid yang didirikannya sampai sekarang tetap berdiri kokoh. Usai shalat, sejenak duduk menyelami kawasan masjid sekaligus menyapukan pandangan. Bahwa di masa lalu, pada Kawasan itulah sahabat baginda nabi berada dan memperjuangkan pembukaan Mesir.

Semasa kejatuhan Fatimiyah, penguasa yang memerintah adalah Dinasti Ayyubiyah. Merekapun tetap menjaga kesinambungan lembaga pendidikan tersebut. Bahkan bertahan hingga kini.

Kampus dipisahkan untuk mahasiswa dan di tempat lainnya khusus untuk mahasiswi. Salah satu pusat pembelajaran yang dijadikan tempat transmisi pengetahuan masjid Azhar. Dimana secara terjadwal pengajian dengan sistem halaqah.

Februari 2019, berkesempatan shalat di masjid itu. Sekaligus duduk menyelami atmosfer kampus. Walau saya tidak melihat sistem absensi, namun mahasiswa tetap saja dengan tekun menyimak syarahan dosen.

Masjid yang diselimuti bukan dengan kemewahan, apalagi sapuan emas di dinding ataupun tiang. Masjid yang sangat sederhana bahkan. Tempat wudhunya, masih sementara proses penyelesaian. Lagi-lagi tidak dialasi dengan kemewahan, tetapi kecukupan peralatan yang dapat menunjang proses ibadah.

Walau begitu, salah satu impian para santri yang menekuni pengajian agama. Terselip impian untuk duduk di bangku kuliah di perguruan tinggi tertua kedua, setelah Universitas Al Karaouine, Maroko.

Ketika kelas akan dimulai, beberapa orang diantaranya berlari kecil untuk dapat menyimak pelajaran tepat waktu. Mereka membawa buku yang diikat dengan tali, tersusun hingga tiga atau empat buku. Bukan dengan membawanya menggunakan tas.

Penjelasannya mungkin karena semua yang datang belajar berasal dari tempat yang jauh. Sehingga sebuah kerugian besar kalau mereka melewatkan kesempatan untuk belajar.

Salah satu karakteristik alumni Azhar adalah dimana selalu melihat pesan keagamaan secara seimbang. Mereka berpandangan moderat.

Dalam salah satu percakapan untuk mendapatkan informasi lebih jauh terkait dengan hipotesis ini, bahwa semua madzhab diajarkan. Begitu pula secara khusus tidak dipesankan keunggulan madzhab tertentu.

Hanya saja, ketika duduk di bangku kuliah, mereka tetap diminta untuk memegang teguh madzhab yang dijadikannya sebagai referensi. Sementara itu, juga diminta untuk tidak mencela dan bahkan turut mempelajari pandangan madzhab lainnya.

Nama yang dikenali publik merupakan alumni Azhar diantaranya AGH. Prof. Dr. Quraish Shihab. Bukan saja sebagai pakar tafsir, tetapi juga menduduki jabatan rektor hingga mentri agama.

Pandangan-pandangannya yang terwujudkan semasa kepemimpinan merupakan cerminan dari pembelajaran Al Azhar. Alumni Azhar, menurut saya merupakan kembang di tengah masyarakt muslim.

Merekalah yang menjadi warna tersediri. Walau bukan dominan, tetapi menjadi bagian dalam memperindah masyarakat dengan praktik keagamaan yang moderat.

Belum lagi, diantara mereka ada yang menekuni profesi sebagai politisi yang kemudian menjadi gubernur. Begitupun juga terjun ke dunia usaha. Apalagi dengan menjadi guru agama atau dosen, sudah menjadi default tersendiri. Ini merupakan profesi bentukan yang secara otomatis menjadi tanggungjawab alumni Azhar.

Hanya saja, tidak seperti di perguruan tinggi di pelosok dunia dimana wujud perayaan wisuda. Di Azhar sendiri, tidak ada seremoni tertentu untuk perayaan kelulusan.

Sehingga perhimpunan pelajar Indonesia kemudian berusaha membuat satu acara pelepasan yang juga turut mengundang petinggi kampus.

Pada acara “wisuda” itulah penyematan topi putih dengan warna merah di bagian tengah yang menjadi penanda alumni Azhar. Termasuk topi yang sama digunakan oleh para imam masjid di negeri-negeri Malaysia.

Kini, perguruan tinggi seluruh dunia berlomba-lomba dalam urusan rangking, publikasi di pangkalan data yang berindeks. Justru karena Azhar menjadi perguruan tinggi sebelum semua tolok ukur itu, maka tetap Azhar kukuh dengan pandangan dan praktik yang dianutnya.

Termasuk penataan rekruitmen mahasiswa dari Indonesia yang dikerjasamakan dengan ikatan alumni dan juga penyediaan beasiswa melalui Kementerian Agama RI.

Dari Azhar, kita dapat belajar pelbagai ragam pesan pendidikan. Termasuk soal keteguhan menjaga warisan. Dimana dari Dinasti Fatimiyah yang kemudian silih berganti, tetapi tetap saja kemudian masa sekarang ini kita dapat mewarisinya.

Begitu pula dengan kemampuan bertahan dan meneruskan praktik pendidikan yang sesuai dengan komitmen awal. Tidak terbuai dengan godaan material dimana perguruan tinggi diukur bukan lagi komitmen kemasyarakatan tetapi bahkan melangkahi amanat pendirian awalnya untuk menjadi tempat belajar.

Termasuk penerimaan mahasiswa yang menggunakan ukuran meritokrasi. Bukan pada kemampuan yang lain.

Walau kini, sudah melampaui 1.000 tahun. Tetap saja Azhar mengirimkan wangi pengetahuan ke pelosok masyarakat muslim.