Persenggamaan dengan binatang setingkat kebun binatang atau bestialitas atau zoofilia (zoophilia) telah ditemukan hampir di semua kebudayaan, termasuk dalam perkembangan sastra Jawa.

Setiap kebudayaan pada dasarnya memberikan pengaruh akulturasi terhadap kebudayaan lainnya. Belum diketahui kebudayaan mana yang memelopori persenggamaan dengan binatang ini.

Bahasa tidak hanya mempunyai hubungan dengan budaya, tetapi juga sastra. Bahasa mempunyai peranan yang penting dalam sastra karena bahasa punya andil besar dalam mewujudkan ide dan keinginan penulisnya.

Banyak hal yang bisa tertuang dalam sebuah sastra, baik itu puisi, novel, roman, bahkan drama. Setiap penulis karya sastra hidup dalam zaman yang berbeda, dan perbedaan zaman inilah yang turut ambil bagian dalam menentukan warna karya sastra mereka.

Termasuk dalam buku dengan judul Babad Tanah Jawa karya Purwadi ini. Sebuah karya prosa yang berbentuk dokumentasi historis setebal 680 halaman ini menceritakan leluhur masyarakat dan sejarah tanah Jawa Kuno dalam perspektifnya sendiri.

Ringkasnya, berisi beberapa kisah kerajaan besar di Jawa, seperti Medang, Kemulyan, Malawapati, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram.

Penulis membuat prosanya dengan alur yang kurang enak sekali. Terlihat adanya kesenjangan ketika menghubungkan bab satu dengan lainnya tanpa adanya kejelasan korelasi waktu.

Saya juga kurang begitu paham dengan maksud penulis ini. Beliau membuat narasi-narasi dari berbagai sumber yang dibagi dalam bab-bab yang panjang seperti kitab suci saja.

Menurutku, buku ini layak disebut sebagai fabel saja, karena begitu banyak binatang yang berperan di dalamnya. Termasuk yang berhubungan dengan zoofilia.

Inilah bagian yang paling menarik, menurutku. Penulis sepertinya juga terbentur dengan gaya penerjemahan dari sumber tulisannya yang berbahasa Jawa atau lainnya. Terlihat sangat kaku sekali.

Terutama pada retorika zoofilia yang kaku banget dalam penuangan narasinya. Namun, menurutku, justru itulah yang memberikan ceritanya terasa alami dan kasar. Menimbulkan sentuhan-sentuhan kebinatangan yang memang dilakukan oleh seekor binatang terhadap kemolekan tubuh wanita.

Seperti penggalan pada halaman 470 ini:

Tanpa takut mati, belibis mencocori kembali sela-sela payudara sang Putri. Sanggulnya sudah terurai, kembennya sudah terlempar jauh membuat si belibis bernafsu.

Dikecupnya bibir sang Putri dengan cocornya, lalu beralih ke pipi kiri dan kanan. Dicakar-cakarnya rambut-rambut halus di dahi sang Puteri dan diciumi juga rambutnya….

Tampak sekali semangat zoofilia mewarnai kisah aduhai itu. Tentunya cocor dan cakar adalah pemantik yang tak lazim digunakan pasangan manusia. Ini yang menimbulkan sensasi-sensasi pada bab zoofilia. 

Peran binatang dalam seksualitas cerita ini disebabkan oleh konsep “jelmaan” manusia yang sering berbentuk binatang. Manusia-manusia sakti dengan kelebihan ilmunya menjelma untuk suatu keperluan tertentu.

Termasuk untuk urusan asmara yang berujung persenggamaan dalam bentuk zoofialia untuk mendapatkan menikmati dan sensasi yang lain. Mitologi Yunani juga begitu getol bercerita urusan ini. Semisal tentang kisah Dewa Zeus yang menyamar sebagai angsa jantan dan menggoda Leda, Ratu Sparta.

Zoofila itu sudah tua umurnya. Termasuk yang mempunyai relasi dengan redaksi kitab suci. Sebuah kontroversi relasi bestialitas atau zoofilia (zoophilia) dengan agama atau kitab suci dapat dilihat pada diskursus yang pernah berkepanjangan tentang isi Alkitab terbitan 1928.

Yang pada akhirnya diedit juga oleh Pendeta Albert D. Meyer dari Gereja Reformis Belanda. Alkitab terbitan 1928 tersebut kini tersimpan di Nationalbibliothiek, Vienna, Austria.

”Naiklah Yesus ke atas keledai betina. Seperti biasa, Yesus selalu memasukkan jari telunjuk dan kemaluannya ke dalam lobang kemaluan keledai betina yang baru saja dicuri dari Betfage hingga Yesus mengeluarkan cairan rupa mani. Semua orang Israel melihat hobi Yesus sambil berseru: ”Inikah kerjaan mesias?” (Matius 20:22)

Zoofilia yang merupakan penyimpangan seksual (parafilia) yang menggambarkan tingginya hasrat seksual seseorang terhadap binatang.

Dengan melihat tingkat ketertarikan dan simpangannya, zoofilia dapat dibagi lagi ke dalam beberapa jenis dan klasifikasi sebagai berikut:

Zoophilic fantasizer adalah parafilia seksual dengan fokus simpangan fantasi kopulasi dengan binatang. Hanya berfantasi saja, tidak melakukan persenggamaan dengan binatang.

Seperti seorang wanita yang melakukan self-service dengan fantasi kelamin kuda, misalnya. Karena kekhasan ukuran yang size is matter banget itu.

Bentuk lain kekinian, pengidap zoophilic fantasizer ini bisa dilihat nyata dalam film-film dewasa dengan genre bunny.

Genre ini merupakan kegemaran fantasi senggama dengan badut kelinci yang tentunya manusia isinya atau dengan kelamin manusia sungguhan. Termasuk juga berfantasi dengan memeluk si boneka Teddy Bear.

Jenis kedua adalah bestialitas, yang ini jelas melakukan hubungan seksual yang melibatkan binatang. Seperti anjing dan lainnya.

Dan, kenyataannya memang bisa ereksi dan penetrasi itu kelamin anjing. Genre kegilaan ini langganan JAV (Japanese Adult Video) yang memang terkenal eksentrik dalam urusan penganekaragaman bahan cabul yang penuh inovasi.

Bentuk ketiga adalah bestialitas sadisme, gemar menyiksa binatang demi mendapatkan kepuasan tanpa adanya berhubungan seksual. Ini diderita oleh orang-orang yang mendukung sirkus binatang, termasuk penontonnya.

Yang paling parah zooseksual, atau penghasrat seksual terhadap binatang saja. Semisal untuk meningkatkan kejantanannya, laki-laki Mesir bersenggama dengan seekor buaya betina. Sedang formikofilia adalah ketertarikan seksual terhadap binatang kecil seperti semut ataupun serangga lainnya.

Tujuan kepuasan ini berbasis sensasi geli karena “digrepek” serangga dengan berbagai formasi aplikasi, seperti: cicak yang melata di paha hingga selangkangan. Ataupun semut yang hilir-mudik di di ujung puting yang sudah dibasahi air gula dan sebagainya.

Purbakala juga banyak menceritakan zoofilia. Semisal lukisan dinding gua di Val Camonica, Italia utara, ataupun relief kuil Khajuraho di India.

Bukan hanya buku “Babad Tanah Jawa” saja yang disisipi dengan retorika zoofilia. Beberapa karya sastra Jawa seperti serat Narasawan, Gatholoco, ataupun Centhini juga penuh dengan semangat dan retorika zoofilia.

Memang pada dasarnya, anatomi kelamin binatang tertentu menawarkan berbagai macam alternatif kepuasan yang tidak didapati pada manusia dalam hal keanehan bentuk atau ukuran. Semisal echidnas sejenis berang-berang yang mempunyai penis yang berkepala (glandula) 4 buah yang bercabang.

Untuk hal ukuran, mungkin kuda yang favorit. Ular dan kadal yang kelaminnya berduri atau Hyena yang mempunyai klitoris sepanjang 7 inci.

Semua itu di atas bisa jadi sebagai bahan-bahan inspirasi sastra yang mengangkat ataupun menyelipi kisahnya dengan zoofilia.