Aroma tangan keriput itu mulai menyengat
Tikar daun berlapis-lapis lapuk dilumat sendi bocah tengil
Sapu lidimu mulai tumpul tak ada lagi yang bisa memanjat nyiur
Mematahkan sayap-sayap lengkung di diujung dhuhur
Air kelat tempat ikan-ikan sepat sembunyi di balik daun karet kering kerontang

Tanah kosong ditanami sarang walet
Hutan karet primadona desa menjadi gadis sial yang dibabat habis ditambal gincu sawit plasma
Gerah tiba bersama duha
Keringat jingga mengalir hingga beduk buka puasa

Lalu ke mana bocah tengil itu mencari cacing menggelut belut di ladang hijau
Lalu ke mana bocah-bocah membawa ketapel membidik pleci di hari minggu
Kalau mereka tak punya hutan, burung tak punya reranting
Lalu ke mana anak cucuku akan tualang
Mengejar layang-layang sebelum petang datang 

Oh, kampungku yang malang
Ke mana lagi aku kan pulang 

Oh, kampungku yang hilang
Ke mana lagi moyang kucari

Kalau tanahku tak lagi suci 

Kubu Raya, Kalbar, Juli 2016