Suatu kali Noor Huda Ismail menyitir gagasan tentang lethal cocktail (campuran mematikan) terkait 3 faktor yang mendorong orang terlibat dalam kekerasan atau terorisme: individu yang termarjinalkan, kelompok yang memfasilitasi, dan ideologi yang membenarkan. 

Zaman kita adalah zaman berkelimpahan. Tapi, pada saat yang sama, inilah zaman kegalauan. Kata pujangga kita, Ranggawarsita, inilah zaman Kalabendu. 

Jangankan bagi orang yang hidupnya susah secara ekonomi, bahkan bagi orang-orang yang hidupnya berkecukupan, tekanan hidup makin keras: tuntutan kebutuhan artifisial yang terus muncul, beban pekerjaan yang overwhelming, lingkungan hidup yang kurang bersahabat dan cenderung nafsi-nafsi.

Kerumitan kehidupan keluarga yang makin meningkat (ancaman terhadap hubungan suami/istri dan institusi perkawinan, juga makin besarnya tantangan terhadap pendidikan anak), telah membuat banyak orang mengalami stres. 

Agama dan spiritualitas, yang seharusnya dapat menjadi oase tempat orang bisa melakukan tetirah, justru malah sempat terpinggirkan. Kesemuanya ini berkontribusi kepada lahirnya perasaan teralienasi, bahkan dari diri sendiri yang cenderung melahirkan masyarakat yang depressed.

Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spiritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa—setelah semua keberlimpahaan itu tercapai—kebahagiaan hidup tak dapat ditemukan di situ. 

Sayangnya, semangat dan mood zaman kita malah tidak membantu. Inilah zaman yang dicirikan oleh gejala postmoderistik dalam bentuk arus dekontruksi atas narasi-narasi besar (grand narraitive). Termasuk di dalamnya terhadap agama. 

Kenyataannya, zaman postmodernistik menandai perubahan dari pengaruh menentukan agama dalam kehidupan masyarakat menuju penguatan terhadap sekularisme. Sayangnya, gejala yang sebenarnya bisa juga berperan positif dalam mendorong keterbukaan agama, tak pelak melahirkan ekses dalam bentuk permusuhan terhadap agama. 

Disimbolkan oleh tokoh Zarathustra-nya Nietzsche, zaman kita seperti menyeru: "Agama sudah mati!" Maka, jadilah zaman ini suatu zaman yang di dalamnya penganutan agama terdedahkan kepada kegamangan.

Tak seperti di masa-masa lampau, di zaman ini memeluk suatu keimanan bukanlah sesuatu yang mudah. Ia selalu berada dalam ancaman dekontruksi dan peragu-raguan, baik oleh pemikiran sekuler, rasionalistik, dan materialistik, maupun oleh keragaman pemikiran keagamaan intra-agama sendiri yang makin menjadi-jadi. 

Gejala ini menjadi makin kuat dengan adanya information spill over (peluberan informasi) sebagai konsekuensi makin digdayanya teknologi informasi yang merupakan pilar era informasi dan globalisasi.

Tak seperti dulu, para pemeluk agama tak bisa lagi mengisolasi diri dari banjir informasi yang mengancam kepercayaan mereka. TV, internet, dan media sosial mencegat di mana-mana dengan informasi yang menghantam orang bagai tsunami. 

Maka banyak orang, karena tak lagi punya waktu dan energi untuk meng-engage berbagai pemikiran dan informasi yang membanjiri itu, berusaha mencari pegangan keyakinan yang simple dan instan, tapi pada saat yang sama menjamin ketenteraman hidup berkat janji keselamatan dunia-akhirat yang ditawarkannya.

Nah, kebutuhan seperti ini sulit dipenuhi oleh para pemikir dan ulama berkualitas yang cenderung menolak terkungkung dalam paham keagamaan monolit dan tertutup. Bagi para agamawan seperti ini, sudah seharusnya agama mengakomodasi pluralitas yang ada di tengah-tengah masyarakat. 

Maka, bagi para penganut agama yang mengalami kebingungan dan disorientasi—tapi sudah terlanjur kelelahan dalam kebutuhan akan pegangan seperti ini dengan sangat baik dipenuhi oleh orang-orang yang membawa paham-paham keyakinan yang bersifat fundamentalistik, integristik-total, dan mengklaim-diri sebagai satu-satunya kebenaran.

Orang-orang model seperti ini bukan saja mengklaim bahwa paham mereka pasti benar, bahkan lebih jauh memastikan bahwa yang selainnya pasti salah dan membawa penganutnya jauh dari keselamatan dunia-akhirat. Dari para guru seperti inilah mereka merasa mendapatkan jaminan keselamatan yang mereka cari. Juga ketenteraman dalam penganutan keimanan. 

Sayangnya sikap-sikap sekelompok guru agama seperti ini masih diperparah oleh perasaan bermusuhan yang meluap-luap kepada semua orang di luar mereka, baik yang dianggap sebagai musuh agama, maupun termasuk orang-orang yang seagama dengan mereka atau dianggap mendukung para musuh agama tersebut.

Bercampur dengan frustrasi yang diakibatkan oleh faktor-faktor sosial ekonomi, serta imbas persaingan kelompok politik dan keagamaan lokal, regional, dan internasional yang menyediakan patronase—dua bahan bagi ramuan mematikan dan paham ekstrem atau fundamentalistik bisa melahirkan radikalisme dan terorisme keagamaan seperti yang kita saksikan makin terasa menjadi-jadi belakangan ini. 

Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. 

Sebelum yang lain-lain, sifat mistisme yang menekankan pada pembinaan dan perawatan kedekatan manusia kepada Tuhannya dapat memberikan perasaan tenteram, kebahagiaan, dan jaminan keselamatan yang dicari semua orang. 

Selanjutnya, tak seperti fundamentalisme dan radikalisme yang berporos pada eksklusivisme, kebencian, dan penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan, mistisme didominasi oleh inklusivisme, cinta, dan kedamaian. Di sisi lain, mistisme (sufisme) memang memberi ruang seluas-luasnya bagi bahkan cenderung tak melanggar ranah atau urusan duniawi sejauh ia diupayakan dengan memelihara moralitas dan moderasi.