Tulisan ini mencoba membangkitakan memori indah tentang sang Juara yang ajaib, yang sama sekali tidak diperhitungkan di turnamen 4 tahun benua biru tersebut dengan ulasan dari awal fase group hingga partai puncak, serta keajaiban-keajaiban yang terjadi.

Jagad sepak bola dunia terhenyak saat timnas Yunani berhasil menjuarai piala eropa pada tahun 2004. Bagaimana tidak, tim yang sama sekali tidak diunggulkan ini akhirnya mampu memberikan kejutan dan menjadi juara di perhelatan turnamen 4 tahunan di benua biru tersebut. 

Datang sebagai predikat tim underdog, timnas Yunani bermain tanpa beban dan terkesan lepas saat menghadapi lawan-lawannya.

Tergabung di group A bersama tuan rumah Portugal, Spanyol dan Russia sepertinya sulit bagi Yunani untuk melangkah ke fase berikutnya. Sebab, di group A sendiri terdapat dua tim yang menjadi kandidat kuat juara, yakni tuan rumah Portugal dan tim Matador Spanyol, selain Russia yang juga menjadi batu sandungan.

Turun di laga pertama, Yunani harus mengahadapi sang tuan rumah Portugal. Laga pembuka ini diprediksi akan dengan mudah dimenangkan oleh Portugal, mengingat Portugal saat itu masih dimotori oleh Luis Figo dan Rui Costa serta bintang muda mereka Christiano Ronaldo.

Namun, semua di luar prediksi para pengamat dan penikmat sepak bola. Portugal harus tertunduk lesu di depan puluhan ribu suporter yang memadati stadion Do Dragao, Porto, dan tuan rumah pun harus menyerah 1:2 melalui gol yang diciptakan oleh Karagounis dan Angelos Basinas.

Kemenangan atas tuan rumah Portugal di laga perdana membawa tim asuhan Otto Rehaggel memuncaki klasemen group A, diikuti Spanyol, Portugal dan Russia. 

Di laga kedua, Yunani harus menghadapi tim kuat lainnya di group, A yakni Spanyol. Kali ini anak asuh Rehaggel harus puas berbagi angka dengan Spanyol. Di laga terakhir group A, Yunani akhirnya menderita kekalahan setelah dibekuk oleh tim Beruang Merah, Rusia 1:0.

Dengah hasil satu kemenangan, satu kali seri dan satu kali kekalahah, akhirnya membawa Tim seribu Dewa ini menjadi runner up group A dengan poin 4.

Selanjutnya kejutan pun dimulai. Pada fase delapan besar ini, Yunani harus menghadapi sang jawara tahun 2000, yakni Prancis. 

Tampil dengan kekuatan penuh, Yunani bermain lepas dan tanpa beban. Nama besar Prancis dengan pemain top seperti Zinedine Zidane, Thierey Henrey sekaligus sebagai predikat juara dunia dan Eropa, tidak menjadikan mereka takut dan lemah. 

Terbukti di menit ke-65 akhirnya Yunani mampu mengungguli Prancis lewat gol tunggal yang diciptakan Angelos Charisteas, dan skor 1:0 pun bertahan hingga peluit akhir dibunyikan oleh wasit.

Sontak ini menjadi kejutan kedua yang dibuat oleh Yunani pada turnamen tersebut. Dengan mengalahkan juara bertahan, publik dunia pun dibuat terkejut oleh kemenangan Yunani atas Prancis di babak delapan besar. Hal ini semakin menjadikan Yunani tidak lagi dapat dipandang sebelah mata dalam perebutan mahkota juara.

Dengan kepercayaan tinggi setelah mampu melewati hadangan juara bertahan, kini Yunani harus menghadapi tim kejutan lainnya di semi final. Tim yang dihadapi adalah Republik Ceko.

Ceko melangkah ke semi final setelah meghancurkan Denmark 3:0 di babak perempat final. Bahkan di fase berikutnya, grup mereka mampu mengalahkan tim unggulan lainnya yakni Belanda.

Di babak semi final yang dimainkan di stadion Do Dragao ini, kedua tim bermain lepas. Jual beli serangan terjadi selama 90 menit waktu normal, dan hasilnya masih sama kuat 0:0. 

Keduanya terpaksa memainkan waktu tambahan 2 kali 15 menit. Di waktu-waktu genting inilah kembali keajaiban terjadi. Melalui sepak pojok pada menit 105 Triano Dellas, membawa tim seribu dewa unggul melalui sundulannya. Hingga waktu babak tambahan ke dua selesai, skor masih 1:0 dan membawa Yunani ke laga puncak.

Di laga puncak akhirnya Yunani kembali bertemu dengan tuan Rumah Portugal. Misi balas dendam pada pertemuan pertama menjadi motivasi anak asuh Luis Felippe Scholari untuk mengalahkan Yunani sekaligus menjadi juara di hadapan Publik sendiri. Laga puncak pun dimulai, Portugal bermain menyerang dan terkesan ngotot.

Misi balas dendam dan merengkuh juara di depan publik sendiri sudah di depan mata, semantara itu Yunani bermain lebih santai dan disiplin serta sesekali melakukan serangan. Babak pertama pun selesai dan hasil 0:0 masih menghiasi papan skor di Estadio do Sport Lisboa, Lisbon.

Setelah turun minum, anak asuh Otto Rehagel mengubah strategi dengan cara menyerang. Hasilnya terbukti pada menit ke 57, Angelos Charisteas membawa tim seribu dewa ini mengungguli tuan rumah. 

Sampai 90 menit waktu reguler tuan rumah tidak mampu membalas gol dan pluit tanda berakhirnya pertandingan pun ditiup oleh wasit Markus Merk dari Jerman, dan Yunani pun Juara.

Hal yang menarik dari Tim seribu Dewa dalam merengkuh juara di ajang Piala Eropa 2004 adalah, gol kemenangan yang diraih dari babak perempat final hingga final skornya adalah 1:0. Menariknya, gol tersebut semua dilesahkan melalui sundulan pemainnya.