Lelaki tua itu, kacamata dan kemeja
Juga tiba-tiba menjelma puisi
Di kala sore berkabut
Di antara kabar burung
Di antara kabar duka
Ia menjelma wajah surat kabar
Juga wajah surat elektronik
Untuk lelaki tua berkaca mata, yang tidur damai
untuk selama-lamanya
Ini aku tuliskan sajak-sajak paling sederhana; 

Selamat Jalan Pak Sapardi

Selamat jalan Pak Sapardi
"Hujan Bulan Juni" telah menjadi legasi
sebab sajak-sajakmu, kami lebih mencintai hujan
Sebelum engkau menjelma kenangan,
kami pun telah mencintai engkau sepenuh hati
Sebelum engkau menjelma kepergian,
kami pun telah mendoakan keselamatanmu
dimana pun engkau berada

Selamat jalan Pak Sapardi,
engkau telah mengajari kami
cara berdo'a paling puitik
Melalui bait-bait, melalui renung
Kini engkau telah menjelma hujan
Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juli 

Juli tak kalah melankoli
disembunyikannya hujan itu
dibalik daun talas
juga daun-daun padi

sementara anak yang pernah merantau
berhenti di pemberhentiannya paling terakhir

Lain Galaksi

Bagaimana kalau bola mata penyairku
Dibangunkan saat kepergiannya
Terdeteksi lewat sajak-sajak
Beberapa, metafor jatuh di dalam prosa
Seperti seorang puan menemukan lekuknya
Di dalam sebuah lukisan, aku tak sedang meromantisir sajak-sajak

Bertemu Kawan Sapardi di Pagi Buta

Aku bertemu Sapardi di dalam mimpi
Lantas ia pergi keesokan harinya
Ia berkata padaku, "kelak kau akan berada di sini;
Di tempat temaram sepi nan sunyi
Tapi penuh hujan tipis dan air menggenang
Memberimu berkah tak habis-habis"
Kata lelaki tua itu

Menjelma Burung-burung Camar Sore

Suatu hari aku duduk di tepi sebuah lapangan
Aku membaca buku, buku puisi ditulis oleh Sapardi
Sembari menatap anak-anak laki-laki bermain bola
Sebelum akhirnya aku mengikuti permainan mereka
Aku menendang dengan tendangan kecil
Seperti janin kepada ibunya
Hidup ini terkadang siluet
Agak sulit dimengerti, tetapi jelas kemana akan pergi
Sementara sajak adalah perahuku
yang mengapung-apung di atas samudra biru

Aku telah menjelma burung-burung camar sore
Meliuk diantara awan-awan dan mega merah saga
Diantara pohon-pohon cemara, diantara pohon-pohon tua

                                                                                Jember, Juli 2020 

Puisi

Puisi tak menyelamatkan apa pun,
kata Aan
Meski memberi keberanian
Menghadapi dunia yang meleleh
Tetapi apakah puisi, bisa mengantar semua rinduku
Untuk seseorang, yang sangat jauh, seperti kata Seno
Mencintai gunung harus menjelma terjal
Mencintai hujan harus menjelma ricik,
kata Afrizal
Apakah aku telah puisi untuknya?

                                                      Pulau Merah, Banyuwangi 2020

Perjalanan Menuju Suatu Kota

Perjalanan menuju suatu kota
Ditumbuhi rumput dan pucuk ilalang
Batu-batu berderet seperti embun-embun pagi
Hari-hari ganjil, hari-hari kehilangan
Aku melihat kesedihanku sendiri
Sebentuk melankolia yang tak biasa
Di kaca-kaca kereta
Berlalu pergi ketika cahaya itu meremang
di tengah petang
Pada kehilangan yang lain aku berdo'a
Semoga kenangan berumur panjang
Semoga ingatanku sepanjang sajak dan memoar tentangmu

                                                                                    Jember, Juli 2020 

Berbicara Memang Ada Seninya

Berbicara memang ada seninya
Seperti meramu rima dalam kata-kata
Seperti mata Gun, tentang kembang sepasang
rekah merona yang menjelma sajak-sajak kereta
Mata Sapardi yang meramu hujan
yang menyembunyikan rintik sendunya sendiri
Juga seperti abu kepada musabab
Seperti Sukab melipat senja di dalam amplop
untuk cinta paling pertama

Terkadang, kita seperti Ajip yang ingin membaca diri
di hari tua, dengan kacamata yang melorot di atas hidung
Juga tidur panjang, yang telah disajakkannya
puluhan tahun yang lalu

                                                                             Jember, Agustus 2020 

Anomali-anomali yang Biasa

Buah jatuh jauh dari pohonnya, meski sampai kapan pun katak tak pernah berjalan mundur. Aku ini anak seekor katak ataukah buah jambu air? 

Perbincang-perbincangan paling mendalam bisa terjadi di tengah semesta, di sebuah bukit, di dekat hutan, tanpa ada warung kopi, tempat orang-orang memesan teh hangat juga satu lepek sundukan telur puyuh atau usus ayam kampung, atau tahu bacem, atau tempe bakar dengan kecap. Sebuah pesan paling rahasia bisa dikirimkan lewat suara paling keras sekalipun. Hari paling gigil, kesunyian paling belati, bisa terjadi di keramaian. Kebahagiaan paling ditunggu telah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Aku berkelana dari anomali ke anomali yang lain, sebagai anak manusia. Untuk menceritakan manusia, dan menuliskan tentang sisi kemanusiaannya. Terkadang aku membaca zaman dan menuliskannya di dalam sajak-sajakku. 

                                                                                                               Jember, Agustus 2020 

Aku Ingin Menjelma Hujan Itu

Aku ingin menjelma hujan itu, jatuh di atas daun talas menitik di rumput yang lain dan lalu Sapardi mempuisikan aku. 

Aku ingin tiba di bulan Juli. Lalu dibaca orang ditaruhnya di telapak, buku-buku. Di dalam sebuah kumpulan sajak dengan sampul berwarna biru agak ungu. 

Aku ingin seseorang menerka, aku. Sudahkah aku dibaca zaman. Seperti seorang perempuan yang tak mesti diibaratkan sebagai kembang. Aku bisa menjadi air. Aku ingin menjelma hujan itu. Jatuh dimana saja, mengalir kemana saja. 

                                                                                                               Jember, Agustus 2020