"Pandemi belum mereda dan terkendali karenanya kami mengundang Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto,” begitu ucap Mbak Nana sebagai tuan rumah Mata Najwa sebelum menunjukkan kursi kosong.

Maksudnya apa sih kursi kosong kok ditanya-tanya? Pak Terawan menolak dialog, Pak Terawan sebaiknya mengosongkan kursi Menkes, atau Mbak Nana mau bilang Pak Terawan tak pernah datang saat diundang?

Pertanyaan-pertanyaan menghujam jiwa sepanjang 4 menit 22 detik tersebut bikin saya merasa nggak tega sama kursinya.

Kalaupun ada Pak Terawan di sana, hanya anak indihome yang bisa melihatnya. Eh, indigo ding. Mungkin sudah waktunya Mas Deddy Corbuzier turun tangan lewat podcast? Podcat Mas Deddy biasanya secepat cahaya dalam merespons apa-apa yang sedang "happening".

Mari bahas yang terlewat dari pertanyaan-pertanyaan Mbak Nana, pertanyaan yang seharusnya ada di benak kita sebagai penonton, apa saja?

Yang terlewat adalah 1# Pak Terawan tidak berdiri sendiri melainkan terikat sistem dan struktur

Pejabat publik yang menyangkal bahayanya Covid-19 sejak awal bukan hanya Pak Terawan seorang. Pihak yang punya wewenang malah lebih suka menampilkan gestur santai saat diwawancara seolah pandemi Covid-19 ini perkara sepele.

Semuanya seperti mendapat TOR (Term of Reference) atau KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang mengakibatkan wartawan dan publik mendapat jawaban yang seragam, yaitu jawaban yang butuh penerawangan saking terlalu buram dan jauh dari niat baik menjawab persoalan.

Boro-boro tercerahkan soal Covid-19 dan mendapat solusi, publik malah seperti sedang mendapat musibah lalu dihibur pakai toxic positivity.

Guyonan yang sempat populer setelah empat bulan ditemukan kasus positif Covid-19 adalah meminta Pak Terawan jangan terlalu sering muncul dalam wawancara di televisi karena imunitas tubuh serasa ngedrop tiap kali menyimak wejangan beliau.

Pak Jokowi baru-baru saja juga mengeluarkan pernyataan bahwa ekonomi akan kuat jika masyarakat sehat. Pernyataan tersebut berbeda dengan yang diungkapkan sebelumnya, bahwa pemulihan ekonomi menjadi fokus. Belum lagi deretan gimik pejabat publik, yang menampilkan kesan seolah virus Covid-19 ini urusan yang gampang.

Akui saja, pemerintah memang abainya keterlaluan dalam menangani pandemi, bukan hanya Pak Terawan. Namun saat ini semua pihak berusaha mengejar keterlambatan. Jika Pak Terawan menjadi salah satu menteri yang leletun bangetun, maka itu bukan berarti beliau tak kompeten, mungkin hanya grogi kemudian salah tingkah.

Yang terlewat adalah 2# Absennya transparansi kebijakan dan buruknya kemampuan komunikasi publik lembaga negara itu dua hal yang berbeda 

Menurut wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Laka Lena, pandangan negatif publik pada Pak Terawan disebabkan tim komunikasi publik Kementerian Kesehatan tidak bekerja dengan baik.

Kesimpulan tersebut diperoleh setelah beberapa kali menggelar rapat kerja dengan Kemenkes. Banyak informasi kinerja Menkes yang tidak tersampaikan ke publik, katanya.

Jadi masalahnya ada di kinerja staf yang buruk, bukan di ketidakmampuan menterinya dalam mengelola transparansi kebijakan. Baiklah.

Padahal buruknya komunikasi Kemenkes ini berbeda dengan transparansi kebijakan publik. Nggak pentinglah Kemenkes dan Menkes itu karakternya pemalu atau tukang pamer, kemampuan berkomunikasinya lihai atau malah buruk, yang penting adalah keterbukaan informasi yang bisa dijangkau oleh publik dengan mudah.

Karena kinerja yang "on the track" saja tak cukup di masa pandemi, duhai pengampu kebijakan.

Tapi saya nggak percaya para staf di Kemenkes tak mampu melakukan komunikasi yang cepat tanggap ke publik. Buktinya saat ada netizen yang menulis cuitan seekor anjing di Jerman lebih berguna ketimbang Menkes Terawan karena mampu mencium adanya Covid-19, langsung keluar surat berisi tuntutan permintaan maaf yang diunggah di Twitter.

Meski pada akhirnya cuitan berisi surat tersebut dihapus setelah banjir hujatan, kurang tekun apa kinerja yang seperti ini? Atau pada saat itu Kemenkes kebetulan sedang punya banyak waktu luang?

***

Memang benar bahwa tak ada sosok yang lebih tepat bicara kepada publik, memberi penjelasan tentang situasi sebenarnya dan apa saja penanganan yang akan dilakukan negara, selain Menteri Kesehatan. Karena itu wajar jika ada yang gemas kemudian menyajikan tayangan sarkas lewat kursi kosong.

Menghalau pandemi dalam semalam jelas tidak mungkin dilakukan, tapi publik perlu tahu bahwa negara benar-benar hadir dan bekerja, terlebih kementerian bidang kesehatan sebagai ujung tombak.

Maka dari itu, meski sesama plat merah, Pak Terawan jangan ikut-ikutan Indihome. Kecepatan koneksi ISP dari PT Telkom Indonesia ini hanya 7 Mpbs, ada di urutan terbawah, sangat menjiwai perannya sebagai ujian ketabahan bagi umat manusia.

Kemenkes perlu lebih tangkas soal transparansi kebijakan publik terkait pandemi dan kurang-kurangi gimik yang tak berguna seperti ngirim surat ke rakyat jelata lewat Twitter itu.