Aku sebatang ubi jalar, sering kali kulilitkan hatiku pada sebuah pohon.
Pernah pohon itu kubuat patah ranting-rantingnya dan aku melilit di batang pohon lain.
Aku menyesal di lilitan pada pohon pertama.
Kemudian aku memutuskan untuk berhenti melilit pada pohon.
Sebelum akhirnya aku melihat sebatang pohon, dia mencintaiku tapi dia milik orang lain.

Aku juga tak berani berkata-kata tentang cinta yang tumbuh di hatiku.
Kulihat pohon itu mulai letih, kekasihnya yang telah tumbang sebagian.
Aku paham betul perasaannya, aku datang tiap malam dengan angin-angin kecil di diriku.
Hari-hari itu berlanjut, aku seakan enggan meninggalkannya dalam penantian, aku sadar aku mencintainya, tapi tidak untuk bersama.

Dia bahkan menceritakan banyak hal tentang dirinya, pohon itu begitu ramah dan begitu mudah semua makhluk jatuh hati padanya.
Saat itu ingin sekali kusudahi hubungan, karena kulihat ternyata cintanya padaku sebatas tugasnya sebagai pohon berbatang tegap.

Aku enggan menjalar di tubuhnya yang kokoh.
Aku berhenti lagi menjalar.
Hingga pada akhirnya, sebuah angin hinggap di dedaunanku yang mulai layu Angin itu rasanya sudah masuk pada seluruh tubuhku, aku berharap angin ini tidak akan meninggalkanku.
Aku merasa dia adalah bagian dari diriku.

Tidak pernah aku menyimpan rindu pada pohon dan air seperti rinduku pada angin ini.
Angin yang sanggup menggugurkan semua daun di tubuhku bahkan aku akan mati jika angin itu menginginkan kematianku.
Aku ingin sekali memahami angin, dengan bahasanya yang tak pernah bisa kupahami, tapi aku mencintainya.