Bisakah saya membicarakan yang-tak-berhingga (infinitum)? Tentu saja bisa. Akan tetapi, apakah pembicaraan tersebut memadai? Jangan-jangan saya sedang merumuskan konsep yang sebenarnya tidak bisa dikonsepkan.

Kata in- (belum) diterapkan pada kata -finis (akhir, selesai), menjadi belum selesai. Di sini, infinitum menunjukkan suatu proses yang belum mencapai kepenuhannya. Masih ada sesuatu yang kurang dan tidak dimiliki. Seluruh alam yang terus berproses ini dapat dikatakan in-finis. Ia belum mencapai kepenuhannya. Manusia, bagian dari alam, tidak terkecuali.

Kata in- (tidak) diterapkan pada kata -finis (batas, berhingga), menjadi tak-berhingga. Di sini, infinitum menunjukkan suatu kondisi yang tidak bisa dibatasi. Seluruh alam berproses berdasarkan hukumnya. Hukumnya bisa didefinisikan. Ia dibatasai oleh hukum dan definisi. Dalam arti ini, alam tidak mungkin tak-berhingga. Lantas apakah ada yang-tak-berhingga di luar alam?

Marilah kita berdiri di ujung pelabuhan. Atau, marilah berdiri di puncak gunung. Bisa juga lihatlah bentangan langit. Entah alam itu berhingga, entah tak berhingga, perasaan akan berkata: "Betapa luasnya! Sampai di mana ujung samudera ini? Mataku tak mampu menjangkau ujung cakrawala." Secara subyektif, kita dibayang-bayangi yang-tak-berhingga.

Pengalaman akan yang-tak-berhingga muncul ketika manusia menyadari keterbatasan persepsinya. Ia muncul ketika definisi dirasa tidak adekuat. Pikiran seperti tumpul. Kata-kata seperti tergagap-gagap. Memang, sesuatu yang dapat didefinisikan bukan merupakan yang-tak-berhingga.

Aristoteles pernah berkata, "Ketakberhinggaan mengarah pada pertentangan terhadap apa yang dikatakan mengenainya. Ketakberhinggaan bukanlah apa yang tidak ada di luar melainkan apa yang selalu memiliki sesuatu di sisi luar…" (Physics, III, c.6, n.207a1).

Kutipan ‘apa yang tidak ada di luar’ berarti ‘apa yang ada di dalam’. Bagi Aristoteles, keseluruhan berarti berada di dalam cakupan. Jika seseorang berhitung, selalu ada yang di luar perhitungan. Yang di luar itulah yang-tak-berhingga dalam ranah matematika. Namun tidak pernah seseorang mencapai bilangan tak-berhingga, selain suatu pengandaian dan potensi.

Demikian kata Aristoteles perihal infinitum dalam matematika: "...besaran bukan merupakan infinitum secara aktual. Namun dengan cara pembagian, besaran adalah tak berhingga. Pandangan alternatif yang bisa dipertahankan adalah infinitum memiliki suatu eksistensi potensial." (Physics, III, c.6, n.206a15-19).

Hal ini juga berlaku dalam definisi. Pikiran cenderung ingin memahami kenyataan secara menyeluruh. Mendefinisikan berarti membuat suatu batasan dalam pikiran. Kemudian kenyataan dikurung dalam keseluruhan batasan. Namun yang-tak-berhingga tidak pernah bisa tertampung dalam pikiran. Selalu ada yang luput dalam definisi. Infinitum merupakan incomprehensiva status (keadaan tak terpahami seluruhnya). 

Yang-tak-berhingga itu potensial, tetapi manusia secara riil merasakannya. Infinitum membayang-bayangi setiap orang. Kalau hantu itu ada, infinitum lebih horor daripada itu. Siapa yang bisa luput dari yang-tak-berhingga? Menurut Aristoteles para filsuf pun tidak bisa luput. Ada lima pertimbangan sebagai berikut (Physics, III, c.4, n.203b15-25).

Pertama, berdasarkan kodratnya, waktu itu tak-berhingga. Jadi tidak ada permulaan waktu. Ia kekal. Kalau demikian, dunia pun dari dulu ada, sekarang ada, dan akan ada. Untuk waktu, Aristoteles yakin, yang-tak-berhingga hadir secara aktual. 

Kedua, berdasarkan pembagian dalam besaran, para matematikawan menerapkan ketakberhinggaan. Seseorang bisa membagi bilangan atau besaran sampai tak berhingga. Namun bilangan tak-berhingga tetaplah tak bisa tercapai. Ia hanya kemungkinan.

Ketiga, berdasarkan proses muncul dan lenyapnya segala sesuatu secara terus-menerus mengandaikan adanya ketakberhinggaan sebagai prinsip. Tidak mungkin yang-tak-berhingga muncul dari prinsip lain. Sebab segala sesuatu yang muncul dari prinsip akan dibatasi oleh prinsip pengasalnya. Yang-tak-berhingga tidak mungkin terbatas. Namun infinitum tetap suatu pengandaian.

Keempat, apa yang terbatas selalu dibatasi oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang membatasinya juga dibatasi oleh yang lain dan demikian seterusnya. Jadi harus diandaikan adanya rangkaian ad infinitum (sampai tak-berhingga). Aristoteles tidak menerimanya. Seluruh rangkaian terhenti pada suatu prinsip, yakni motor immobilis (penggerak yang tak tergerakkan). Ia tetap tapi menggerakkan karena dihasrati segala sesuatu. 

Kelima, ketakberhinggaan selalu membayang-bayangi pikiran setiap orang. Bayang-bayang itu bisa berupa besaran geometris, bilangan, dan hal-hal yang ada di luar tepian semesta. Apa yang ada di luar tepian semesta? Kekosongan? Tampaknya masih misteri. Yang jelas Aristoteles menolak adanya ruang kosong sampai tak-berhingga.

Dari kelima pertimbangan di atas jelas bahwa bagi Aristoteles, yang-tak-berhingga itu hanya kemungkinan, postulat dan potensi. Kecuali pada waktu, yang-tak-berhingga hadir secara aktual. Bagi pikiran manusia yang terbatas, ia hadir membayang-bayangi. Dirasakan, tapi tak tertangkap.

Tidak jarang setiap orang gemar sesumbar, "Ah saya tahu orang itu, Ia penipu ! Kalau dia orangnya saleh" Saat itu biasanya seseorang tidak merasakan yang-tak-berhingga hadir. Namun suatu peristiwa menunjukkan ada yang bertentangan dengan pikirannya. Di situlah yang-tak-berhingga hadir, persis saat pikiran kita keliru memahami orang lain.

Alam selalu berproses. Kita merasa tak berdaya di hadapan kekuasaan alam. Kadangkala dalam proses itu manusia merasa dirugikan. Beberapa mengatakan, "Ini azab karena desa ini jahat!" Beberapa lain mengatakan, "Alam murka sehingga terjadi bencana." Pikiran kita sedang membuat definisi. 

Akan tetapi alam adalah alam. Ia terus bergerak, entah kapan sampai garis akhir. Geraknya tidak bisa direngkuh satu definisi. Ia selalu luput dari penafsiran manusia. Sekali lagi dan lagi, yang-tak-berhingga hadir. Ia bergentayangan lebih horor daripada hantu. Lebih mengagumkan dari konsep-konsep.