Saya merasa grogi bila mengkritisi kinerja pemerintahan Jokowi dan gagasan Prabowo di tahun politik. Apalagi saya bukan ahli ekonomi yang punya rekapitulasi data indikator kinerja, meskipun saya adalah seorang lulusan sarjana ekonomi. Namun saya punya hal-hal personal yang berkaitan yang ingin saya sampaikan.

Saya kadang berpikir, apakah fasilitas negara yang saya dapatkan merupakan hasil kerja Jokowi atau hasil dari sistem yang sudah dibangun puluhan tahun? Mana manfaat hasil kinerja Jokowi dan mana hasil kinerja pemerintahan sebelumnya yang dilanjutkan?

Lebih ekstrem lagi, apabila seluruh kinerja pemerintah tercipta karena adanya kolaborasi dana dan kinerja rakyat, maka mana manfaat kinerja pemerintah yang alamiah dan mana yang revolusioner—khususnya karena keberadaan Pak Jokowi?

Terlepas dari hal itu, saya mau berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena yang pertama, saat ia menjabat, gaji guru naik lewat tunjangan kinerja dan sertifikasi. Orangtua saya adalah seorang guru. Pastinya hal itu berimbas pada kesejahteraan keluarga. Uang itulah yang digunakan oleh orangtua saya sebagai biaya kuliah saya selama 4 tahun 10 bulan.

Namun bila ditelaah, kenaikan gaji guru bukanlah kebijakan revolusioner. Menjamin kesejahteraan guru adalah suatu keharusan di tengah harga-harga sembako yang kian meningkat. Siapa pun presidennya.

Kedua, saya berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena saat ia menjabat, saya mendapatkan berbagai fasilitas pelatihan kewirausahaan gratis dari berbagai instansi, seperti dari program kampus atas dukungan Kemenristekdikti, dari Pemda, Kemenpora, dan Bekraf. 

Lagi-lagi, saya pikir program pelatihan seperti itu, lengkap dengan fasilitas hotel dan uang transportasi sudah ada sejak SBY menjabat. Mungkin intensitasnya yang meningkat.

Ketiga, saya berterima kasih lepada Presiden Jokowi karena saat ia menjabat, saya mendapatkan program inkubasi startup dan cukup pendanaan. Saya mendapatkan fasilitas kantor, mentor, dan akses kepada program pendanaan lain dan pelatihan tambahan.

Pendirian Inkubator bisnis teknologi dan informasi di beberapa kota di Indonesia menurut saya bukanlah program yang revolusioner. Program 1000 startup kolaborasi Kominfo dan Kibar baru revolusioner, namun sayang sampai sekarang saya belum bisa ikut. 

Keempat, saya berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena saat ia menjabat, tempat tinggal orangtua saya di pelosok Sulawesi, yaitu daerah Pasangkayu infrastrukturnya membaik. Jalan-jalan yang sering tergenang air dan becek ketika hujan sudah diperbaiki. 

Kini masyarakat sudah punya tempat rekreasi bagus di pinggir pantai, khususnya bagi kaula muda, yang kasihan dulu hanya bisa pacaran ngemper di pinggiran tanggul gelap-gelapan. 

Menurut orang-orang, tempat rekreasi macam pantai Vovasanggayu itu spesial, tapi bagi saya biasa saja. Yang revolusioner itu kalau ada universitas negeri di Pasangkayu, atau minimal sekolah tinggi yang jurusannya sesuai dengan sumber daya unggulan daerah yaitu kelapa sawit yang saat ini harganya sedang anjlok parah. 

Kelima, saya berterima kasih karena saat Presiden Jokowi menjabat, sistem seleksi PNS jadi lebih adil. Sehingga teman-teman saya yang saya anggap berkompeten dan dermawan lolos seleksi CPNS. Dermawan? Iya, agar bisa sering-sering traktir saya. 

Apakah program seleksi CPNS dengan sistem komputer dan transparan adalah kebijakan revolusioner? Saya harus mengakuinya, iya. 

Namun apakah Jokowi mampu menjadi revolusioner terhadap nasib honorer yang digaji tiga ratus ribu per bulan? Atau banyaknya jumlah lulusan sarjana pendidikan yang tidak terserap oleh permintaan tenaga kerja? Oleh karena itu, saya memilih Prabowo. 

Saya tidak ingin menjadi pemilih yang punya kepentingan pribadi (meski faktanya banyak yang begitu). Saya ingin jadi pemilih yang berintegritas. Jadi, saya tidak memilih Jokowi dengan mengakui segala keunggulannya dan memilih Prabowo dengan mengakui segala kelemahannya. 

Saya tidak fanatik dan menyukai perseteruan antara cebong dan kampret, karena dari situ saya jadi lebih bisa melihat kedua kandidat secara objektif. 

Tentu banyak yang saya harapkan dari Pak Prabowo ketika terpilih. Bila ingkar janji seperti presiden sebelumnya, pun saya tidak segan-segan mengkritisi dan menjadi pihak oposisi. 

Pertama, saya berharap Indonesia dibangun atas dasar kerangka pemikiran bahwa pendidikan berkualitas dan setara adalah fondasi bangsa. Investasi di infrastruktur pendidikan lebih diutamakan ketimbang infrastruktur ekonomi. 

Pendidikan atau pendapatan terlebih dahulu adalah isu yang bisa didebatkan secara ilmiah. Semua sudut punya perspektif dan datanya, namun saya ingin Prabowo punya perspektif pendidikan. Meskipun keduanya harus dijalani secara seimbang. 

Kedua, saya berharap Prabowo memiliki visi untuk menyempurnakan pelaksanaan Idelogi Pancasila dan berani menjadikannya sebagai ideologi dunia. Terdengar gila mungkin, tapi inilah penyebab mengapa kita bertengkar.

Suatu ketika saya bertanya pada salah seorang teman yang baru selesai mengikuti pelatihan sebagai juru bicara Pancasila. Ideologi Islam dan konsep syariah punya misi global tanpa batas- batas negara, ini adalah gerakan internasional. 

Di lain kubu, komunis atau sosialis sejatinya juga merupakan gerakan internasional. Lalu di mana posisi ideologi Pancasila dalam hal itu?

Jabawannya bisa mudah, bisa sulit. Saya hanya ingin menegaskan bahwa ada sebuah visi kebaikan yang besar dan mulia yang sedang diperjuangkan oleh berbagai golongan yang menempatkan hal tersebut di atas kepentingan negara. 

Sejak awal Pancasila adalah kesepakatan di antara pertarungan ideologi Timur dan Barat. Dalam pertarungan, harus ada pemenang. Indonesia akan selalu jadi pecundang apabila rakyatnya tidak punya posisi atau sudut pandang global dan malah sibuk bertengkar dengan saudara sendiri. 

Ketiga, saya berharap kaum LGBTQ, sekuler, radikalis, dan separatis tidak didiskriminasi dan diberi ruang. Namun disepakati dan perkuat di perundang-undangan bahwa hal tersebut dilarang. Proses transisi psikologi dan pemikiran harus dilakukan dengan baik dan ilmiah. 

Memahami pelbagai pemikiran dan psikologi kelompok-kelompok rakyat butuh pemimpin yang kuat secara intelektual dan bijak secara sikap. Saya berharap Prabowo memiliki itu dan tidak blunder. Paling penting, bisa memutuskan sesuatu secara jernih dan independen. Membuat kebijakan dengan seminimal mungkin intervensi dan pengaruh negatif dari pihak internal dan eksternal. 

Saya adalah pemilih rasional. Masih ada beberapa ronde debat selanjutnya dan beberapa bulan masa kampanye yang mungkin memengaruhi pertimbangan saya. Namun saya bukan pemilih plin-plan yang memutuskan tanpa analisis dan inkonsisten.