Kabar baik datang dari Arab Saudi. Seorang WNI bernama Mimin binti Samtari berhasilkan dinyatakan bebaskan dari  jerat hukuman mati. Mimin sekarang ini sudah berada di Indonesia sejak 15 Maret 2017.

Kasus yang menjerat Mimin sangat lah cukup unik. Beberapa tahun yang  lalu, ia didakwa Pengadilan Arab Saudi melakukan sihir terhadap majikannya.

Mimin ditahan sejak Maret 2012 karena tuduhan melakukan sihir, sebut Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal. Sejak kasus ini bergulir, KBRI Riyadh langsung turun tangan. Mereka memberikan pendampingan hukum agar yang bersangkutan dapat menghirup udara bebas.

Seperti yang di jelaskan pada  Asas legalitas  dalam pasal 1 ayat (1) KUHP. Bunyi pasal 1 ayat (1) itu adalah, “Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada.”

Jadi, perbuatan yang tidak dapat dipidana dan perbuatan yang dapat dipidana bergantung pada kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana sebelum perbuatan tersebut dilakukan.

Jika sebelum perbuatan tersebut dilakukan tidak ada kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang mengatur mengenai perbuatan tersebut, maka perbuatan tersebut tidak dapat dipidana.

Sebaliknya, jika sebelum perbuatan tersebut dilakukan telah ada perbuatan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang mengatur mengenai perbuatan tersebut, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.

Rumusan tersebut juga dirangkum dalam satu kalimat, yaitu nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana, tanpa ketentuan undang-undang terlebih dahulu.


Setelah berupaya selama 5 tahun, Pengadilan Dammam akhirnya menyatakan bahwa Mimin terbukti bebas dan tak bersalah, baik untuk tuntutan hak khusus maupun hak umum.

Atas Hukum KBRI Riyadh, Mihibbuddin mengatakan bahwa sejak menangani kasus ini, ia sangat yakin kalau Mimin bisa lepas dari jerat hukuman mati. Sebab, tidak ada bukti kuat yang memberatkan WNI tersebut bersalah.

"Ini adalah hasil dan upaya panjang tim KBRI dan pengacaranya untuk menyelamatkan Mimin dari jerat hukuman mati. Sejak awal kita memiliki keyakinan bahwa Mimin tidak bersalah," sebut dia.

Meski Mimin telah dinyatakan bebas dan tidak bersalah, namun tugas tim KBRI Riyadh belum sepenuhnya selesai.

Karena KBRI berencana akan mengajukan gugatan kompensasi kepada penuntut karena telah menyebabkan  Mimin mendekam di penjara selama 5 tahun tanpa bukti yang kuat.