Berbicara sekolah kejuruan, di benak kita pasti terbayang alat-alat praktik, magang di tempat kerja, sampai dengan lulusannya yang dipersiapkan langsung memasuki dunia kerja. Tidak salah memang berpikir seperti itu. Karena memang tujuan didirikannya sekolah kejuruan adalah untuk memenuhi itu semua.

Sekolah kejuruan dipersiapkan salah satunya untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesa. Melalui sekolah kejuruan pula, siswa-siswi dilatih untuk menjadi tenaga-tenaga terampil yang nantinya akan siap ketika mereka memasuki dunia kerja.

Sebelum mereka lulus, sekolah kejuruan sudah mempersiapkan siswa-siswinya magang atau praktik kerja industri (prakerin) di tempat kerja sesuai dengan jurusan masing-masing. Secara umum, usia magang adalah tiga bulan di mana guru menjadi pembimbing lapangan di tempat siswa menjalani prakerin.

Siswa-siswi yang menjalani prakerin (idealnya) akan mengaplikasikan teori yang mereka peroleh di bangku sekolah. Namun, benarkah demikian? Apakah materi yang disampaikan oleh guru sesuai dengan kebutuhan industri? Sudahkah materi yang disampaikan itu sesuai dengan kondisi saat ini?

Mengapa demikian? Karena tentu saja antara teori dan praktik adalah dua hal yang berbeda. Teori adalah serangkaian informasi yang diterima secara langsung oleh siswa melalui guru, sedangkan praktik adalah siswa melakukan sebuah kegiatan yang menghasilkan karya melalui proses praktik secara langsung di tempat kerja.

Tidak sedikit siswa mengalami kesulitan di lapangan karena teori yang mereka terima di sekolah dan praktik di lapangan berbeda 180 derajat.

Ketika siswa-siswi mengalami kesulitan dalam menjalani prakerin, apakah tidak demikian dengan gurunya jika mereka yang menjalani magang? Asumsinya adalah karena guru secara teori sudah hafal berdasarkan buku yang mereka kuasai.

Atau jangan-jangan sama dengan siswa, mengalami kesulitan jika mereka harus magang? Hal ini beralasan dikarenakan guru tersebut adalah orang yang berada di ruang dan waktu yang berbeda antara teori dan praktik setelah terpisah oleh waktu yang lama pada saat praktik magang dulu. Mungkin ada yang sudah 20 tahun lalu menjalani magang, bahkan lebih dari itu.

Solusi yang Ditawarkan 

Untuk membuktikan bahwa guru sekolah kejuruan masih bisa melakukan praktik atau tidak, ya harus terjun langsung menjadi peserta magang kembali. Mereka menjadi peserta magang tidak berarti menurunkan harga diri mereka, justru akan meningkatkan kepercayaan diri mereka di hadapan siswa serta mampu mengadopsi hal-hal terbaru yang mereka temukan di tempat magang untuk disampaikan kepada siswa.

Karena perubahan kerja di industri begitu cepat berganti seiring perubahan zaman dan permintaan customer. Begitu juga dengan perubahan teknologi informasi, semua perubahan itu begitu cepat di dunia industri, sedangkan materi di sekolah kejuruan banyak yang tidak up to date dari dunia industri, karena mereka hanya mengandalkan text book semata.

Atas dasar tersebut, Swisscontact WISATA II meluncurkan program WISATA Teacher Internship Program (WITIP). Program ini menyasar guru-guru sekolah kejuruan jurusan pariwisata agar mereka mampu menyerap informasi aktual dan pengalaman terbaru dari tempat mereka melakukan magang. Teori yang mereka kuasai di sekolah akan dipraktikkan secara langsung di tempat kerja.

Gap yang terlampau jauh antara teori dan praktik bisa diminimalkan melalui program magang guru sekolah kejuruan ini. Mereka akan melakukan pekerjaan sebagaimana teori yang mereka ajarkan kepada siswa. Jangan beranggapan sudah menguasai teori sehingga tidak perlu melakukan praktik magang, terlebih jika menyepelekan prakerin.

Guru yang dikirim oleh Swisscontact WISATA II untuk melakukan magang di dunia usaha atau industri ini akan dipertemukan dengan dunia usaha. Tujuannya, agar teori yang mereka kuasai bisa langsung dipraktikkan di tempat magang, meresapi kembali bagaimana jika mereka menjadi siswa magang.

Di tahun 2017 ini, WITIP telah memasuki tahun ketiganya, yang juga adalah tahun terakhir penyelenggaraannya oleh Swisscontact WISATA II. Kali ini, WITIP di Bali mendatangkan guru-guru dari Flores, Surabaya, dan SMK model dan aliansi dari Bali. Sedangkan para guru dari destinasi Toraja dan Wakatobi mengikuti program WITIP di Makassar.

WITIP berlangsung pada tanggal 01-31 Juli 2017. Para guru peserta WITIP di Bali tersebar ke 10 industri, yang terdiri atas 7 hotel, yaitu Mercure Bali Sanur Resort, Fairmont Sanur Beach Bali, Hotel Santika Siligita Nusa Dua Bali, Aston Kuta Hotel & Residence, Bali Dynasty Resort, Swiss-bellResort Watu Jimbar, dan Novotel Bali Nusa Dua; serta 3 tour operator, yaitu Asialink Holidays, Lila Tour, dan Antavaya.

Para guru berkesempatan magang di divisi-divisi industri yang sesuai dengan latar belakang kompetensinya, seperti housekeeping, front office, kitchen, ticketing, dan perjalanan wisata.

WITIP adalah program magang yang dikemas dengan unik. WITIP tidak hanya memfasilitasi tempat magang, melainkan juga menyiapkan kegiatan relaksasi bagi para guru, seperti Sabtu Seru dan Outing.

Sebagai penutup kegiatan, para guru melaksanakan evaluasi, presentasi laporan, dan mendiskusikan rencana tindak lanjut. Kegiatan penutupan ini dilaksanakan di kantor Destinasi Flores pada tanggal 30 Juli 2017.

Salah seorang peserta WITIP, Imeldaa Jalut, guru SMK Santo Thomas Maumere Flores ketika diwawancarai Swisscontact mengatakan, ”Dengan kegiatan WITIP ini, saya mendapatkan pengalaman baru baik teori maupun skills.” Milla Kirana Dewi Lestari, guru SMKN 3 Denpasar juga mengatakan, ”Dari WITIP, bertambah pengalaman dan pengetahuan, teori langsung dipraktikkan di tempat magang.”

Tantangan Sekolah Kejuruan ke Depan

Tantangan ke depan adalah bagaimana menyelaraskan antara keinginan dan kebutuhan tenaga kerja dunia usaha dan dunia industri dengan kualitas lulusan sekolah kejuruan, khususnya jurusan pariwisata ini. Agar antara teori dan praktik tidak terlalu jauh perbandingannya.

Swisscontact WISATA II sudah membangun sistem bagaimana membangun hubungan baik antara sekolah-sekolah kejuruan pariwisata dengan industry tour and travel, ticketing, dan perhotelan.

Melalui pengembangan career center, job fair dengan dunia usaha dan industri melakukan kerjasama praktisi hotel datang langsung ke sekolah untuk mengajar, sampai dengan membantu sekolah melalui program corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan, seperti memberikan bantuan satu set lengkap alat kitchen, kasur hotel lengkap dengan sprei dan bantalnya.

Hal ini dikarenakan hubungan harmonis yang sudah dilaksanakan oleh Swisscontact WISATA II mempertemukan ke dua belah pihak tersebut.

Ke depan, tentu saja tantangan akan semakin berat. Sekolah kejuruan harus mampu berdiri sendiri tanpa Swisscontact WISATA II. Hubungan yang sudah terjalin dengan baik harus terus dilanjutkan. Manfaat dari semua ini adalah kita membantu generasi muda bangsa Indonesia mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keterampilan mereka serta membantu pemerintah Indonesia mengurangi pengangguran.

Ketika sekolah kejuruan sudah mampu meluluskan siswa yang berkualitas dan terampil, saya yakin mereka tidak akan kesulitan untuk mencari pekerjaan, apalagi jika pihak sekolah tersebut sudah bermitra dengan dunia usaha dan industri perhotelan, baik untuk menghadirkan praktisi ke sekolah maupun memberikan kesempatan siswanya untuk magang. Lantas, selanjutnya adalah apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah?

Lanjutkan Program WITIP 

Karena kewenangan SMK saat ini sudah beralih ke Pemerintah Provinsi, maka Dinas Pendidikan Provinsi-lah yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam memajukan sekolah kejuruan, apapun jurusannya, termasuk jurusan pariwisata.

Namun, bukan berarti pemerintah Kabupaten/Kota lepas tangan begitu saja. Karena menyukseskan generasi muda untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) yang handal dan terampil di masa yang akan datang adalah tugas kita bersama. Output-nya adalah lulusan anak-anak sekolah kejuruan ini mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keterampilannya.

Salah satu kegiatan yang bisa dilanjutkan (sustainable program) untuk meningkatkan kualitas guru sekolah kejuruan adalah Pemerintah melanjutkan program WISATA Teacher Internship Program (WITIP) atau guru magang/prakerin di duna usaha atau industri. Tidak hanya jurusan pariwisata, bisa juga merambah jurusan lain, teknik mesin, listrik, perbengkelan, maupun lainnya.

Mengapa Dinas Pendidikan harus melanjutkan program ini? Karena yang pertama, kegiatan ini low cost (berbiaya rendah), bahkan sekolah-sekolah yang sudah memiliki MoU dengan dunia usaha atau industri bisa lebih mudah. Jika sebelumnya siswa yang magang, kali ini guru juga harus ikut magang.

Kedua, program ini akan memberikan manfaat dan dampak pengalaman yang luar biasa bagi guru. Mereka akan lebih percaya diri dalam mengajar dikarenakan sudah mempraktikkan apa yang mereka ajarkan.

Ketiga, program ini bisa dijangkau dengan melibatkan perusahaan atau hotel/industri/bengkel yang dekat dengan sekolah, bahkan waktunya pun bisa lebih fleksibel, bisa Sabtu dan hari Minggu, sesuai kesepakatan. Dinas Pendidikan bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) sudah harus memasukkan program ini menjadi program tahunan mereka.

Pemerintah hendaknya mendukung program guru magang ini melalui Peraturan Gubernur atau Bupati/Walikota agar pihak sekolah kejuruan bisa lebih leluasa dalam menjalankan program magang bagi guru kejuruan ini. Jadi, kerjasama tanggung jawab sosial antara industri dengan sekolah itu tidak melulu soal barang, namun juga berupa soft skills berupa praktik magang.

Selain Dinas Pendidikan, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) juga bisa mengambil peran melalui kegiatan Job Fair, Dinsosnaker goes to school, memberikan pelatihan tambahan bagi siswa SMK drop out melalui Balai Latihan Kerja (BLK), pengembangan career center, sampai dengan tracer study, yaitu pelacakan alumni sekolah-sekolah kejuruan di mana mereka berada, apakah sudah bekerja atau sedang kuliah di perguruan tinggi.

Semua itu kita lakukan demi generasi masa depan yang lebih baik, generasi yang membawa kejayaan bagi bangsa Indonesia. Ayo, SMK Bisa!