Nick Vujicic seorang penyandang disabilitas mengatakan bahwa sebagai manusia minimal harus bisa menjawab 3 pertanyaan yaitu siapa dirimu dan apa nilaimu? Apa tujuanmu dalam hidup ini? dan apa takdirmu setelah selesai dari hidup ini? jika tidak mampu menjawabnya maka kita adalah orang yang lebih cacat dari Nick; tutur beliau dalam sebuah talk show motivasi.

Pertanyaan who am I atau pengenalan terhadap esensi diri selalu disampingkan dengan istilah kebenaran, dan hakikat kebenaran. Sifat benar ditemukan dalam pelbagai macam arti. Inti dari segala rumusan itu adalah “adanya penyesuaian. Suatu pengetahuan (khususnya keputusan) disebut benar jika sesuai dengan kenyataan.

Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis atau gnoseologis, lawannya ialah salah. Masalah inti dalam filsafat epistemologi ialah mengenai “benar atau salah.” Menurut Snijders dalam buku Adelbert (2009 :247-248).

Dalam buku Adelbert juga menyatakan bahwa hubungan antara kebenaran sebagai sifat pengetahuan (epistemologis atau ontologis) dan kebenaran sebagai sifat kenyataan (ontis) adalah sangat erat. kebenaran sebagai sifat kenyataan disebut ontis kalau terungkap menjadi ontologis. On dan logos. Kenyataan mempunyai “diri” terhadap subjek yang mengenalnya.

Sikap subjek, jenis pertanyaan dan metode pendekatannya menentukan apakah kenyataan sempat menyatakan dirinya. Air dapat diartikan sebagai air minum, air renang, air mandi. Bagi science,  air adalah H2O. Dalam filsafat ketuhanan, air adalah ciptaan Tuhan. Semua pengetahuan dan tafsiran itu dapat benar atau salah.

Kebenaran yang satu tidak lebih benar daripada kebenaran yang lain, masalah benar atau tidak benar adalah masalah sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan. Gimana? Mudeng (paham) atau tambah mubeng (pusing)? Jadi semuanya harus diimbangi dengan ilmu tasawuf dan juga syariat. Tidak melulu mengandalkan akal dan menyampingkan the power of metafisik.

Untuk menemukan diri tentu kita juga harus menemukan tujuan hidup kita. Apakah hanya untuk mati lalu selesai atau ada tujuan lain? Tentu semuanya sudah tahu kan jawabannya. Dalam filsafat, Allah adalah kebenaran mutlak sedangkan dalam tasawuf Allah adalah Sang Maha Cinta. Kedua-duanya tidaklah salah karena semua itu hanyalah permainan bahasa semata.

Selflessness

Ibn al-‘Arabi menulis,”Dia yang mengenal dirinya sendiri memahami bahwa keberadaannya bukanlah keberadaannya sendiri”.

Sebagaimana penulis jelaskan di bagian pertama dalam tulisan ini. Bahwa kita adalah termasuk orang yang cacat hidupnya ketika kita tidak tahu arah dan tujuan kita. Dalam media cordova mewawancarai seorang pemuda Jepang bernama Kaiji Kadir Wada. Kaiji adalah seorang muallaf, sejak lama Kaiji ingin masuk Islam dan terus menerus memikirkannya.

Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam. Walaupun orangtuanya tidak suka hal berunsur agama dan merasa tidak nyaman dengan pilihan agama barunya itu. kaiji tetap berusaha untuk mengenalkan apa itu Islam, apa ajarannya, dan apa itu agama kepada orangtuanya walaupun itu sulit tapi Kaiji terus berusaha.

Sebelumnya Kaiji telah mempelajari Islam dan ia tertarik dengan Islam. Kaiji menuturkan bahwa sejak menjadi seorang muslim, hidupnya menjadi semakin terarah selain itu Kaiji juga merasakan ketenteraman dan kemudahan dalam mengendalikan emosi.

Dalam cerita tersebut dapat diketahui bahwa sesungguhnya beragama adalah bagian dari naluri manusia. Bahkan sangat mungkin seorang yang tidak beragama pun secara tidak langsung menyatakan kepercayaannya pada Tuhan ketika sedang dalam bahaya.

Jika kita pahami bersama bahwa naluri dan akal adalah komponen penting dalam penentu. Tidak selamanya akal menyalahkan naluri. Bahkan akal merupakan alat dalam memperkuat kebenaran. Dalam al-qur’an sendiri ada ratusan ayat yang meminta manusia untuk berfikir dan menghayati segala lini kehidupan dan semesta ini.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?”. (QS.Al-A’raf: 185)

Selain itu, ajakan untuk berpikir juga dijelaskan dalam beberapa ayat lainnya antara lain, yaitu QS.Al-baqarah: 118, 219, 266, QS.Ali Imran: 65,118, QS.An-nisa: 82, QS.Al Anam : 32, 50, 80 , 151 dan lain sebagainya dapat dibaca dan dipelajari lebih lanjut dalam Al-Qur’an.

Apa yang anda pikirkan ketika Al-qur’an sekadar dimaknai secara kontekstual? Tentu akan lebih banyak perseteruan dan perbedaan di seluruh umat bumi. maka datanglah sebuah hadist yang merupakan perwujudan Al-qur'an atau segala perilaku dan seluk-beluk kehidupan Nabi Muhammad SAW. Dibeberapa aliran mempercayai adanya Ijma' dan Qiyas.  Maka dari itu, Allah memberikan akal kepada umat manusia untuk kemudian berpikir dan merenungi isi kandungan Al-qur'an. Sehingga kita sebagai umat Islam tidak hanya ikut-ikutan saja, tapi hati, otak dan ilmu kita juga membenarkan bahwa itu insyaAllah benar.

Gimana teman-teman sudah dapat menjawab tiga pertanyaan dari Nick? Pencapaian sejati adalah ketika kita mampu menemukan siapa diri kita maka dengan itu kita akan menemukan yang selebihnya. So guys, Who you are?