Tak lepas dari ingatan kita, hoaks kasus Ratna Sarumpaet yang menggegerkan penjuru negeri ini. Kabar penganiayaan yang beredar melalui media sosial serta disertai foto tersebut sempat membuat viral dan diunggah berulang kali oleh beberapa tokoh. Namun, nyatanya berita yang dibuat itu adalah hoaks setelah diselidiki oleh pihak Kepolisian.

Mengapa berita hoaks dengan mudah diterima oleh masyarakat? Bahkan orang yang berpendidikan tinggi sekalipun dengan mudah menyebarkan hoaks dan meng-amin-i berita tersebut? Alih-alih mememercayai fakta, orang malah lebih mudah percaya hoaks dibanding berita yang disiarkan oleh media terpercaya.

Hal ini salah satunya dapat terjadi karena adanya disrupsi pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disrupsi adalah hal tercabut dari akarnya. Artinya, telah terjadi perubahan yang besar dan mendasar di dalam tatanan hidup masyarakat, terutama di bidang pendidikan.

Disrupsi pendidikan

Revolusi industri 4.0 telah memberikan dampak bagi kehidupan. Revolusi industri merupakan kemajuan teknologi yang disertai dengan perubahan yang besar dalam tatanan sosial, ekonomi, dan budaya. Bahkan, revolusi industri sangat berdampak di bidang pendidikan.

Revolusi industri 1.0 terjadi pada awal abad 18, yang ditandai dengan ditemukannya mesin bertenaga uap. Selanjutnya, muncul mesin bertenaga listrik yang menandai masuknya revolusi industri 2.0. 

Beberapa dekade kemudian, sekitar tahun 1960-an, perangkat elektronik mulai diproduksi yang menunjukkan datangnya era revolusi industri 3.0. Revolusi industri 4.0 sendiri, ditandai dengan integrasi yang kuat antara dunia digital dan produksi industri [1].

Sebenarnya, revolusi industri merupakan buah dari pendidikan yang terus berkembang terus-menerus. Perkembangan ini akan menciptakan era baru dan bahkan membentuk peradaban baru. Sayangnya, selain berdampak positif, peradaban ini juga bisa berdampak negatif bagi pendidikan, khususnya di Indonesia.

Munculnya program aplikasi pendidikan yang mudah diunduh menambah semarak perubahan pembelajaran. Pembelajaran yang awalnya selalu mengandalkan guru dan buku, sekarang lebih ke arah digitalisasi. Siswa dapat membaca buku melalui buku elektronik atau belajar melalui aplikasi di mana di dalam aplikasi terdapat penjelasan-penjelasan materi pelajaran yang dipilih siswa.

Selain itu, siswa juga dapat dengan mudah menerima penjelasan atau informasi melalui media-media lain seperti YouTube, WhatsApp, Telegram, Facebook, dan sebagainya. Namun, yang patut disayangkan adalah media tersebut tidak sepenuhnya bisa menyaring berita atau informasi yang benar secara cepat.

Informasi-informasi yang bersifat tidak ilmiah dan belum terbukti kebenarannya dengan mudah tersebar dan disebarkan oleh siswa. Bahkan beberapa guru, dosen, atau akademisi sekalipun juga turut menyebarkan informasi tersebut. Konten hoaks menjadi lebih ilmiah dibanding tulisan ilmiah atau fakta sekalipun.

Konten hoaks bisa berupa informasi kesehatan, pendidikan, agama/kepercayaan, sosial budaya, politik, ekonomi, dan sejarah. Berdasarkan data Kemkominfo, pada bulan Maret 2019, telah terindentifikasi 453 hoaks. Dari 453 hoaks, sebagian besar adalah isu politik. 

Selain itu, konten hoaks juga menyasar isu kesehatan, pemerintahan, fitnah individu, kejahatan, isu agama, internasional, penipuan perdagangan, bahkan hingga pendidikan. Total jumlah hoaks periode Agustus 2018 sampai Maret 2019 adalah mencapai 1224 hoaks [2].

Revolusi industri 4.0 dapat menjadi keuntungan sekaligus bumerang bagi kita apabila tidak diimbangi dengan karakter revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 tidak sebatas munculnya aplikasi atau e-commerce yang marak, tetapi harus juga diimbangi dengan revolusi mental dan karakter pribadi. 

Cepat beredarnya hoaks bisa jadi karena pribadi kita yang gagap informasi dan teknologi. Karakter yang mudah tersulut emosi sehingga tanpa pikir panjang langsung memberikan informasi tanpa cek kebenaran terlebih dahulu. 

Pada dasarnya, hoaks bisa dikenali lewat konten yang ditampilkan. Berikut ciri hoaks menurut Yosep Adi Prasetyo yang bisa dikenali [3].

  1. Informasi menciptakan kecemasan, kebencian, serta permusuhan.
  2. Sumber informasi tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.
  3. Konten pesan bersifat sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.
  4. Pemakaian nama tokoh berpengaruh atau menggunakan nama mirip media terkenal.
  5. Pandai memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, dan suara rakyat.
  6. Judul dan kalimat pengantarnya bernada provokatif serta tidak sesuai dengan isinya.
  7. Informasi memberi penjulukan.
  8. Konten minta untuk di-share atau diviralkan.
  9. Penggunaan argumen dan data-data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.
  10. Fakta dan data biasanya disembunyikan serta memelintir pernyataan narasumbernya.
  11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.
  12. Terjadi manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Mudah tersebarnya konten hoaks merupakan bukti terjadi disrupsi pendidikan. Pendidikan sudah bukan sekadar transfer ilmu dari guru ke siswa. Hal ini karena siswa bisa memperoleh ilmu dari mana saja, baik itu aplikasi atau media sosial lainnya.

Lantas, apakah suatu saat posisi guru akan tergantikan dengan adanya disrupsi pendidikan ini? Mungkin iya, jika siswa sudah mengabaikan apa yang dikatakan oleh guru, bisa saja hal ini terjadi. 

Beberapa kasus, siswa sudah tidak hormat lagi kepada guru dan bahkan orang tua sudah angkat tangan menangani anaknya sendiri. Guru sudah dianggap tidak digdaya oleh sebagian orang dan seakan diremehkan karena dianggap ilmunya sudah tidak mumpuni

Celakanya lagi, terkadang pihak sekolah atau dinas pendidikan lebih menyalahkan guru daripada melihat lebih dalam masalah yang dihadapi siswa dan guru.

Namun, apakah dengan hadirnya revolusi industri 4.0 ini akan benar-benar menghilangkan peran guru? Tentu tidak. Guru tidak akan bisa digantikan dengan benda atau robot sekalipun. 

Ilmu memang bisa disampaikan lewat media apa saja tetapi tata krama, budi pekerti, nilai sosial, dan spiritualitas tidak lepas dari peran guru. Saat ini pendidikan harus lebih mengarah kepada bagaimana membentuk karakter pribadi siswa yang sejalan dengan revolusi industri 4.0.

Peran guru justru sangat utama di era revolusi industri 4.0. Guru mengarahkan siswa agar dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak. Guru menanamkan nilai-nilai sikap dan spiritual yang mungkin tidak didapatkan oleh sebagian siswa. 

Hal ini karena beberapa orang tua menitipkan anaknya di sekolah untuk dibentuk karakternya. Orang tua terkadang tidak mau ambil pusing dengan kelakuan anaknya yang makin susah diatur.

Oleh karena itu, guru harus mau dan mampu mengubah diri menjadi pribadi guru yang berkarakter revolusi industri 4.0. Jangan sampai guru juga ikut-ikutan gagap teknologi dan informasi. Guru yang gagap teknologi dan informasi bukan menjadi agen pengubah karakter, tetapi perusak karakter. 

Sebenarnya, melalui pendidikan di sekolah, siswa diajak untuk tetap mempertahankan jati diri pendidikan bangsa Indonesia yang ramah, santun, dan berpikir sebelum bertindak.

Pendidikan di Indonesia memang bukan yang terbaik di dunia seperti layaknya Finlandia atau negara lain. Namun, seharusnya kita bangga bahwa banyak nilai karakter yang sebenarnya mampu membentuk sikap siswa dari kearifan lokal dan budaya sendiri. 

Kearifan lokal dan budaya kita tidak dijumpai dan dimiliki negara lain. Terkadang kita lebih mengagung-agungkan pendidikan di negara lain, tetapi kita sendiri tidak mampu melihat potensi yang ada di negara kita.

Wayang bentuk kearifan lokal dan budaya pembasmi hoaks

Potensi nilai-nilai pendidikan banyak ditemukan pada kearifan lokal dan budaya masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah wayang yang merupakan kearifan lokal dan budaya di tanah Jawa, meskipun tidak dimungkiri di wilayah lain juga memiliki kearifan lokal dan budaya yang sarat nilai-nilai kehidupan. 

Kearifan lokal merupakan pemikiran yang menjadi sebuah budaya dan diwariskan dari generasi berikutnya dan umumnya melalui tradisi lisan. 

Kearifan lokal bisa disisipkan dalam pendidikan. Sebagai contohnya, yaitu melalui program literasi. Literasi tidak harus selalu dengan membaca buku sains dan fiksi. Guru dan sekolah tentu boleh mengangkat literasi mengenai kearifan lokal sehingga siswa dan guru tidak lupa akan jati diri bangsanya.

Kehidupan yang serba enak akan melupakan nilai-nilai pendidikan zaman nenek moyang dahulu. Nilai-nilai kearifan lokal dianggap sebagian orang merupakan kebudayaan kuno dan terbelakang. Padahal, kebudayaan yang ada sekarang merupakan salah satu buah pikir kearifan lokal zaman dahulu.

Wayang sebagai kearifan lokal dan budaya di tanah jawa sudah ada sejak zaman Hindu di Indonesia. Kemudian, setelah Islam masuk ke Indonesia, wayang digunakan sebagai dakwah oleh para wali untuk menanamkan nilai-nilai ajaran agama. 

Wayang umumnya dijumpai di daerah Jawa, Sunda, dan Bali, yang memiliki kekhasan masing-masing. Karakter, tingkah laku, dan kehidupan manusia dicerminkan dalam wayang. 

Di akhir cerita, kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang bersifat licik dan jahat seperti membuat dan menyebarkan hoaks akan berakibat celaka.

Wayang bukan sekadar bentuk fisik, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang mampu mendidik karakter bangsa. Setiap tokoh dalam wayang memiliki karakter masing-masing layaknya manusia. 

Berikut beberapa karakter tokoh Punakawan menurut Purwadi Purwacarita [4].

1. Semar

Semar menggambarkan sosok yang rendah hati tetapi tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi sesama. Filosofi Semar, yaitu jari telunjuk seolah menuding yang melambangkan keinginan kuat, serta mata menyipit yang melambangkan ketelitian dan keseriusan.

2. Gareng

Gareng digambarkan dengan cacat kaki yang menggambarkan manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Filosofi Gareng, yaitu tangan cacat, kaki pincang, dan mata juling bahwa kita tidak boleh menyerah dalam berusaha; apa pun hasilnya, serahkan kepada Tuhan.

3. Petruk

Petruk digambarkan dengan bentuk yang panjang sehinga manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Filosofi Petruk, yaitu tangan dan kaki panjang, tubuh tinggi langsing, serta hidung mancung terlihat lebih indah dengan banyak kelebihan.

4. Bagong

Bagong merupakan tokoh yang diciptakan dari bayangan Semar dengan tubuh tambun gemuk dan suka bercanda serta memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Filosofi dari Bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan dunia.

Wayang dapat digunakan sebagai sarana dalam menangkal konten hoaks. Tokoh Punakawan di atas merupakan sebagian kecil dari cerita wayang yang bisa digunakan untuk menanamkan kewaspadaan terhadap konten hoaks, termasuk juga orang yang suka membuat konten hoaks dan meresahkan masyarakat.

Sebelum menyebarkan informasi, haruslah diteliti dengan serius seperti digambarkan pada tokoh Semar. Dalam menyebarkan informasi, kita harus berhati-hati agar tidak berujung pidana dan celaka seperti digambarkan dalam tokoh Gareng. Konten atau informasi yang diterima harus dipikirkan panjang (tidak grusa-grusu) dalam menyebarkan informasi seperti tokoh Petruk. 

Sebagai orang yang suka membuat dan menyebar hoaks harus sadar bahwa di dunia ini hanya mampir ngombe atau bersifat sementara. Kita tidak perlu menyebarkan hoaks untuk kepentingan tertentu, seperti halnya tokoh Bagong yang digambarkan dengan sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan dunia.

Pembelajaran dengan Pendekatan Kearifan Lokal dan Budaya akan membuat siswa dan guru sadar akan pentingnya merawat dan menghormati warisan leluhur. Pendekatan kearifan lokal dan budaya ini sebenarnya sejalan dengan kurikulum di Indonesia yang mengutamakan Pendidikan Penguatan Karakter [5]. 

Pendidikan Penguatan Karakter menjadi pembelajaran yang penting untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Wayang sebagai warisan budaya dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran di sekolah melalui Pendekatan Kearifan Lokal dan Budaya.

Pendekatan Kearifan Lokal dan Budaya dapat dijadikan pendekatan pembelajaran untuk menangkal hoaks, baik itu membuat atau menyebarkan hoaks. Konten hoaks bisa berujung pada tindakan anarkis dan radikalisme apabila tidak segera diatasi. Munculnya paham yang mengatakan kearifan lokal dan budaya sebagai hal yang kuno dan tidak sesuai dengan keyakinan juga perlu diluruskan.

Kearifan lokal dan budaya jangan dipandang dalam arti yang sempit dan tertutup. Kita perlu melihat secara terbuka makna dari setiap kearifan lokal dan budaya sehingga tidak ada kesalahpahaman. 

Indonesia merupakan bangsa yang beragam. Jika tidak suka dengan kearifan lokal dan budaya tertentu, cukup diam saja. Dengan diam dan tidak mengusik akan membuat kita sama-sama menghargai dan dihargai. Jangan sampai jika kita tidak suka akhirnya kita menebarkan hoaks.

Hoaks memang selalu bikin muak. Mari kita tangkal dengan kearifan lokal. Karena sejatinya pelaku hoaks adalah orang yang tidak bijak dan sangat tamak.

Referensi:

[1] Syamsuar S & Reflianto Reflianto. 2018. Pendidikan dan tantangan pembelajaran berbasis teknologi informasi di era revolusi industri 4.0. Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, 6 (2): 1-13.

[2] Paat Y. 2019. Maret 2019, Kemkominfo identifikasi 453 hoax, terbanyak politik. Online at https://www.beritasatu.com [diakses 04 Mei 2019, pukul 13.25 WIB].

[3] Herman H. 2019. Ini 12 ciri berita hoax. Online at https://www.beritasatu.com [diakses 04 Mei 2019, pukul 13.37].

[4] Wildan AM. 2018. Pendidikan karakter melalui media tokoh wayang (studi komparatif antara Sri Mulyono dan Purwadi Purwacarita). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponorogo, i-xiii, 1-78. Online at http://etheses.iainponorogo.ac.id [diakses 05 Mei 2019, pukul 08.54].

[5] Adinugraha F. 2019. Pendekatan kearifan lokal dan budaya (KALBU) dalam pembelajaran biologi di Purworejo. Jurnal Pendidikan UT, 20 (1): 1-17.