Sebagai wartawan yang ditugaskan meliput dinamika politik di DKI aku mencoba untuk menembus pintu birokrasi supaya bisa sekedar kenal dengan para bakal calon gubernur yang belum lama ini mendaftar di KPUD dengan dukungan mesin partai.

Sebelumnya aku lebih sering meliput tentang gosip artis saat masih magang sebagai wartawan. Setelah hampir setahun melakukan peliputan di balaikota akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah aku berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan ketiga calon dalam kesempatan yang berbeda. Dari ketiga cagub akses yang secara mudah didapatkan justru saat mewawancara Ahok. Mungkin karena sudah familiar dimata beliau, bahkan aku ditelepon secara pribadi oleh beliau tanpa lewat ajudan, apalagi relawan !!

"Hello mas Fauzan udh bangun belum, ayo ikut peresmian RPTRA bersama saya, ada Sophia Latjuba juga looh.." kata Ahok lewat telepon di suatu pagi.

"Oke Pak Ahok, siappp, jam berapa rencana berangkatnya ? Biar saya bisa bergabung dengan rekan wartawan lain saja" balasku sambil menghisap sebatang rokok.

"Lho nggak usah sama wartawan lain, anda nanti berangkat satu mobil dengan saya dan Sophia, katanya sekalian wawancara, setelah menemui warga didepan balaikota kita langsung berangkat ya." Ahok menjelaskan lagi.

"Tapi bukannya di mobil biasanya bapak juga bawa relawan ?" balasku.

"Ck ah nggak penting itu, mereka nanti saya suruh pakai kendaraan lain saja, mereka sekarang sudah nggak terlalu dibutuhkan sebenarnya, apalagi sering melakukan blunder, hahahaa..." Ahok ketawa. Kampret juga ni orang, batinku.

"Gitu ya pak, oke pak saya siap-siap dulu ya, nanti segera meluncur ke balaikota".

"Oke mas Fauzan, saya tunggu ya...," kata Ahok mengakhiri pembicaraan subuh lewat telepon itu.

Pagi itu jam 7 aku sudah siap di balaikota lengkap dengan properti dan atribut sebagai wartawan. Seperti biasa sebelum melakukan kegiatan Ahok selalu menyempatkan diri bertemu dengan warga yang sudah antri didepan balaikota, mulai dari yang sekedar ingin bersalaman sampai dengan warga yang minta keringanan atau bantuan untuk berobat sanak familinya.

Saat itu juga Ahok bisa mengambil keputusan setelah berkoordinasi dengan dinas terkait. Belum pernah ada gubernur seperti ini di daerah manapun di Indonesia, ini luar biasa. Agak heran ketika masih ada saja elemen masyarakat yang menolak dipimpin oleh Ahok hanya karena dia bukan muslim dan keturunan Tionghoa, alasan yang sangat absurd kalau tidak mau dikatakan goblok.

Setelah usai melayani warga Ahok menghampiriku, "Maaf ya agak lama menunggu, hari ini banyak warga yang harus dibantu", kata Ahok sambil menyalami saya. "Oh ya kenalin, ini mba Sophia Latjuba yang hari ini juga akan menyertai kita meresmikan RPTRA" kata beliau melanjutkan.

"Hai mba Sophie, cantik sekali anda hari ini, tepatnya setiap hari sih,hehe" kataku. "Hallo mas Fauzan, senang berkenalan dengan anda, pagi-pagi sudah modus aja" kami bertiga tertawa. "Ayo kita berangkat.." kata Pak Ahok sambil memanggil sopirnya.

Tak berapa lama kami sudah berada di mobil, aku dan pak Ahok duduk ditengah dan Sophia Latjuba duduk di depan. Pak Ahok sendiri yang ngatur seperti ini, mungkin beliau ingin mempermudah proses wawancara, atau jangan2 dia nggak rela aku berduaan dengan Sophia Latjuba di seat tengah ? Hahahaaa...

"Bagaimana pak Ahok bisa dimulai wawancaranya ?" kataku sambil menyiapkan hape untuk merekam.
"Silakan, mau mulai darimana ?" balas beliau. Akupun membuka catatan yang sdh disiapkan.

"Kenapa Pak Ahok akhirnya memutuskan untuk maju jadi cagub lewat jalur parpol, banyak pendukung bapak yang kecewa loh pak", tanyaku memulai wawancara.

"Baiklah mas Fauzan walaupun pertanyaan ini sdh seringkali diajukan tapi khusus untuk mas Fauzan akan saya jawab secara lebih detil.."

"Loh berarti sebelumnya tdk dijawab secara detil pak ?

"Bukan begitu, tapi dlm kesempatan ini akan saya jelaskan secara gamblang, paham ya mas" jelas Pak Ahok

"Oke pak, sebuah kehormatan buat saya"

"Begini mas Fauzan, anda kan tahu sendiri saya itu paling nggak enak untuk menolak, saat itu ada sekumpulan anak muda yang saya tahu niat mereka baik untuk mendukung saya, daripada mengecewakan mereka ya saya terima saja dukungan mereka". "Kalau mas fauzan berada pada posisi saya pasti akan melakukan hal yang sama kan".

"Menurut Bapak, sejauh mana sih peran relawan terhadap program Pak Ahok yang sedang dikerjakan saat ini?"

"Saya sih membebaskan untuk melakukan apapun yang mereka mau, mereka juga memiliki Jakarta kan, tapi kadang ada saja yang melampaui batas."

"Maksud bapak melampaui batas seperti apa ya ?"

"Mas Fauzan ini seperti nggak pernah main twitter aja ya mba Sophia, hahaha.." pak Ahok dan Sophia tertawa bersama.

"Oh kalau itu saya juga tahu pak, tapi memangnya apa yang mereka lakukan di medsos berpengaruh ya terhadap elektabilitas pak Ahok ?"

"Ya pengaruh tetap ada, saya sering koordinasikan ini dengan relawan, tapi sepertinya belum ada perubahan ya, gak tau saya juga jarang lihat medsos kecuali untuk hal yang penting saja". "Malas juga rasanya baca mention yang kadang lebay gitu walaupun datang dari pendukung saya".

"Apa bapak juga tahu ada yang menunggangi relawan untuk kepentingan bisnis mereka?" "Bahkan ada lho yang dulu jadi haters, terus tiba-tiba sekarang jadi relawan..."

"Ya kalau itu sudah bukan rahasia lagi mas, tapi yang perlu dicatat, saya samasekali tidak ada urusan dengan bisnis mereka, itu untuk kepentingan mereka sendiri, sebenarnya dalam hal ini mereka jual nama saya, begitu kan ya mas?" "Iya pak...," tukasku.
"Tapi nggak papa mas, sepanjang tidak merugikan saya. Jaman sekarang mas, orang cari duit kan nggak mudah, silakan saja manfaatkan saya, tapi kalau bisa ya mbok jangan lebay gitu ya, hahaha..." kami bertiga tertawa.

"Hubungan Pak Ahok dengan Dhani gimana, dia bersama Ratna kan paling militan dalam melawan bapak?"

"Loh kalau saya kan pelayan masyarakat, saya ndak perduli mereka senang atau tidak kepada saya, ngapain saya harus menghabiskan energi untuk ngurusin Dhani sama Ratna yang tuntutannya nggak jelas, kalau Ratna dari dulu ya emang begitu, mana pernah dia berada di pihak pemerintah ?" Biarkan para relawan yang mengurus mereka, kalau saya tetap fokus kerja aja, toh masih banyak publik figur yang mendukung kebijakan saya, contohnya yang duduk didepan saya ini", lanjut pak Ahok nyengir sambil mengerlingkan matanya.

"Artinya relawan ada gunanya juga ya pak..?"

"Ya lumayanlah, untuk urusan-urusan yang nggak penting seperti itu mereka bisa diandalkan", kata Ahok sambil tersenyum.

"Tanggapan bapak terhadap video di kepulauan seribu dan demo FPI kemarin gimana pak?"

"Begini ya mas, mas fauzan sudah melihat secara utuh video aslinya kan ?" "Saya kira anak lulusan SD aja tahu apa makna dari video itu, nah kalau kemudian video itu beredar setelah diedit dan jadi ramai ya mestinya yang disalahkan yang nyebarin dan ngedit dong, logikanya kan begitu". "Dalam hal ini saya justru sebagai korban fitnah, kok malah saya yang harus diperiksa dengan alasan penistaan agama, bukan begitu mbak Sophie.." Sophia mengangguk seolah teringat kasus yang pernah menimpa Ariel, kekasihnya.

"Tapi MUI juga menjatuhkan fatwa bahwa bapak bersalah loh pak," tanyaku kemudian.

"Iya, tapi mereka tidak pernah meminta klarifikasi kepada saya, mestinya kan ada tabayyun dulu, kan seperti itu yang diajarkan oleh Islam dalam menyelesaikan masalah".

"Bapak ini seperti ngerti Islam saja, kan bapak Nasrani", pancingku.

"Hahaha, apa ada jaminan orang yang beragama Islam juga tau Islam, maaf sekali kalau saya bilang seperti ini, kebanyakan kan hanya KTP karena mereka lahir dari orangtua yang beragama Islam. Jangan salah mas, orang Yahudi dan Nasrani yang lebih tau agama Islam daripada pemeluk Islam juga banyak, itu karena mereka nggak diharamkan belajar tentang agama diluar keyakinan mereka mas". Pancinganku dimakan telak sama Pak Ahok.
Tidak terasa perjalananku sudah sampai di lokasi peresmian RPTRA dibilangan Jakarta Utara.

"Sudah sampai mas, saya harus bekerja dulu, lain kali kita sambung sambil kita makan, kali ini mas fauzan makan sendiri aja ya, saya nggak bawa duit buat nraktir, hahaha...".

"Insha Allah lain kali saya traktir mas fauzan..." kata Ahok mlengeh..

"Insha Allah ? Apa itu artinya pak, emang tau ?"

"Gak harus tau artinya, tapi saya tau pasti ada kebaikan dibalik kata itu kan...?"

"Oke pak saya tunggu undangannya, jangan cuma relawan aja yang diajak makan, kami wartawan juga punya kontribusi loh dalam membesarkan nama pak Ahok".

"Siap mas, salam ya buat teman-teman.." kata Ahok mengakhiri wawancara.
Wawancarapun berakhir dan Ahok janji akan menelepon saya lagi pada kesempatan lain. Sayapun turun dari mobil dan bersalaman dengan Pak Ahok dan Sophia Latjuba, duh senyumnya....