“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” sebut Tan Malaka di dalam buku berjudul Madilog. Semoga saja generasi milenial tidak melewatkan kutipan ini, lalu masa bodoh dan apatis akan makna yang tersirat di dalamnya. 

Memang, masih ada banyak toko buku megah dengan ruang pendingin nan harum yang menyediakan ribuan buku baru di etalase, kemudian memisahkan stok buku lama di tempat terpisah lalu memajangnya dengan tulisan Big Sale 50% + 20%. Namun sayangnya, langkah kaki sepertinya lebih ringan menuju ke etalase busana atau sepatu dengan label diskon atau tanpa diskon sama sekali. 

Apakah ini adalah sebuah polemik? Pada tahun 2016, Central Connecticut State University pernah melakukan sebuah studi Most Littered Nation in the World, yakni riset mengenai negara mana yang generasinya gemar membaca. Hasil studi menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.

Ben. S. Galus melalui jurnal artikelnya menyatakan, indikasi rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dapat ditinjau dari judul buku yang terbit tiap tahun sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Data PBB menyatakan, rasio buku di Indonesia adalah 35 judul buku dibanding satu juta penduduk, didukung oleh tolok ukur lainnya seperti jumlah pengunjung masyarakat ke perpustakaan yang sangat minim. 

Apabila isu literasi menjadi sesuatu yang cukup meledak akhir-akhir ini, maka seharusnya kehadiran ruang baca gratis seperti perpustakaan umum dapat memancing gairah masyarakat terutama generasi muda untuk datang membaca dan meminjam buku, terutama faktanya daya beli buku masih rendah di Indonesia. Namun pada kenyataannya, ruang baca ini belum terlalu diapresiasi oleh masyarakat apalagi akses audio visual yang praktis dapat dengan mudah diperoleh dengan telpon genggam dan lain sebagainya.

Di tengah hiruk pikuk segala tetek bengek di atas, ada sebuah inisiasi mengagumkan yang dilakukan oleh seorang pemuda milenial bernama Jhon Fawer Siahaan asal Kota Medan. Sejak tahun 2017, ia telah menggagas kehadiran ruang publik bernuansa ‘kedai’ yang di dalamnya terdapat ratusan koleksi buku, majalah, surat kabar komik, dan lain-lain. 

No WiFi, No TV. Itulah slogan terkenal yang dirangkainya. Kedai ini dinamainya Literacy Coffee. Melalui sebuah wawancara media surat kabar lokal, ia menyebut dirinya bukan demam literasi sehingga berkompetisi menggagas bisnis bersampul budaya baca buku. 

Sejak 2007, ia sudah mengkoleksi buku dengan berburu ke pasar dan toko buku, hingga mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan referensi seperti Bibliografi, Katalog buku Bung Karno, Literatur langka terkait Budaya Batak, serta buku-buku langka lainnya. 

Tekadnya untuk memotivasi generasi muda di sekelilingnya diwujudkan dengan kehadiran kedai kopi yang sering di balik artinya oleh sebagian pengunjung sebagai ‘perpustakaan’ atau ‘kedai buku’ dengan suguhan kopi, bukan suguhan buku untuk menikmati secangkir kopi. Menariknya, Literacy Coffee ini telah menjadi pusat diskusi para kaum aktivis serta intelektual atau kalangan akademisi kampus yang selalu hadir setiap hari. 

Tidak sekadar pasif, Literacy Coffee dianggap patut menjadi warung kopi idola generasi milenial di Medan. Sebab karenanya, hampir setiap hari selalu ada diskusi tematik seperti Bedah buku, bedah film, diskusi, dan ulasan lainnya yang dianggap penting. Siapapun yang datang kesana, akan pulang dengan sumringah setelah dibubuhi puisi atau satir tajam yang menyemangati diri untuk terus membaca dan meningkatkan kekayaan literatur.

Bahkan wisatawan mancanegara seperti penyelenggara festival kopi dari Jepang, aktivis dari Jerman dan Prancis dan juga wisatawan Belanda juga telah singgah dan membaca koleksi buku milik Jhon. Ketika masuk ke Literacy Coffee, kita akan disambut oleh beberapa gambar mural dari tokoh pencinta literasi seperti Bung Hatta, Tan Malaka, dan Pramoedya Ananta.

Tokoh Idola Penggiat Literasi

Jika ditanya, Jhon Fawer Siahaan dengan senang hati mendeskripsikan beberapa tokoh idolanya sebagai jiwa yang tetap hidup di setiap karya-karya mereka. Bukan tanpa alasan, Jhon memilih beberapa tokoh tersebut untuk diabadikan di dalam dinding kedai miliknya.

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Mengutip sepenggal kalimat Bung Hatta, membuat kita menggeleng-gelengkan kepala. Bukan main. 

Dikutip dari beberapa biografinya, saat beliau dibuang ke Digoel, beliau membawa empat peti besar berisi buku sebagai pelipur hari-harinya yang suram di dalam jeruji besi. Buku-buku yang dibaca tidak hanya dicetak dalam Bahasa Indonesia, melainkan Bahasa Belanda, Prancis, dan Jerman. Buku-buku tersebutlah yang selama ini menjadi sumber pemikirannya dalam pergerakan membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.

Selain itu, bicara buku akan menjadi istimewa dengan sosok Pramoedya Ananta yang menjadi sastrawan terbaik Indonesia, yang di mana beliau pernah dipenjara oleh Belanda karena tulisan-tulisannya yang kritis terhadap penjajahan saat itu. Pram hanya tamatan sekolah dasar, namun kecakapan intelektualnya siapa yang dapat menandingi? 

Dalam masa hidupnya, Pram diketahui telah menulis 50 buku fiksi dan non fiksi. Sehingga buku-bukunya menjadi sumber kekayaan sejarah yang perlu dibaca dan dianalisis oleh generasi milenial sebelum benar-benar beralih dari buku dan terkutuk seperti seekor katak dalam tempurung. Adapun gelar dan pekerjaan yang hebat sesungguhnya tidak akan berguna apabila kita belum menjadi pelaku literasi atau tepatnya meneruskan perjuangan dan semangat yang berkobar untuk terus menolak kebodohan dengan konsisten membaca, diskusi, dan menulis.

Fakta di atas mungkin sudah terlalu sering menjadi reminder bagi kita semua, lewat artikel atau seminar yang sering sekali mengangkat rendahnya literasi sebagai headline atau topik utama. Walau mungkin kita berprasangka bahwa tugas ini adalah tugas beberapa pihak dan belum menjadi prioritas kita untuk menanggulanginya. 

Jika demikian adanya, hal ini akan sangat bertentangan dengan semangat para intelektual era penjajahan yang tidak perlu berpayah untuk menunaikan tugas membaca buku dengan meraih gelar magister atau doktoral terlebih dahulu. Namun sebaliknya, membaca buku adalah sebuah wujud kesetaraan yang dapat diraih oleh setiap individu, tanpa memandang kelas, kepercayaan, gender ataupun selera cita rasa kopinya.