Sebagian besar konflik dalam masyarakat yang terjadi di dunia ini akibat dari konflik agama. Sejujurnya, konflik agama menjadi satu hal yang paling muak untuk dibahas. Namun, makin hari makin banyak konflik karena paham agama yang over fanatik.

Masalah kecil bisa menjadi besar. Ibarat pepatah Jawa, “Kriwikan dadi grojogan,” riak-riak air kecil bisa menjadi air terjun besar.

Entah mengapa, mungkin mereka mengangap dirinya suci. Atau mungkin merasa bahwa mereka cucu keturunan yang punya bumi ini? Namun, mereka tidak ingat, dengan siapa mereka tinggal.

Apakah mereka tidak sadar, membenci saudaranya yang berbeda keyakinan sama saja mereka menghina akan leluhurnya. Mereka lupa bahwa lahir dari rahim leluhur yang animisme dan dinamisme. Ataukah mereka memang bak bidadari turun dari kayangan yang suci sehingga tak bercela?

Konflik agama pasti berujung konflik kemanusiaan. Manusia seakan-akan mulai kehilangan sisi kemanusiaannya. Namun, manusia enggan disamakan dengan hewan. Manusia adalah hewan yang memiliki fungsi luhur atau hati nurani. Jikalau fungsi luhur atau hati nurani hilang, pantaslah manusia ini disamakan dengan hewan atau bahkan lebih rendah daripada hewan. 

Paham agama yang over fanatik ini berawal dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, lingkungan masyarakat, bahkan dari pemuka agamanya sendiri. Ketegasan langkah pemerintah saat ini, yang menindak ormas intoleran dan paham radikal patut diacungi jempol.

Jalan musyawarah sudah tidak bisa dilakukan, sanksi tegas harus diberikan. Ini bukanlah tindakan arogan. Namun, ini adalah kesadaran. Kesadaran akan pentingnya kesatuan dan persatuan.

Agama yang seharusnya menjadi pedoman yang benar, tetapi dibuat sedikit “bumbu-bumbu busuk” agar masyarakat yakin akan paham radikalnya. Namanya radikal, berarti sudah mengakar. Untuk membasminya, perlulah ditebang hingga ke akarnya. Jangan hanya daun atau batangnya saja. Jangan biarkan akar itu muncul tunas baru yang akan tumbuh di tengah generasi muda di masa mendatang.

Pendidikan menjadi hal yang paling penting di dalam menangkal over fanatik agama. Di dalam mendidik, anak di rumah memang perlu dibekali agama yang kuat.

Agama yang kuat penting, tapi harus sesuai porsinya. Seperti dalam tembang macapat Pangkur karya KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama sebagai berikut:

Mingkar-mingkuring angkara
(menghindarkan diri dari nafsu serakah)
akarana karenan mardi siwi
(karena ingin mendidik anak)
sinawung resmining kidung
(terangkum dalam indahnya nyanyian)
sinuba sinukarta
(dihias penuh warna)
mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(agar dihayati intisari ilmu luhur)
kang tumrap ing tanah Jawa
(yang diterapkan di tanah Jawa/ Nusantara)
agama ageming aji
(agama adalah pakaian kehidupan diri)

Susah memang dalam mendidik anak dalam hal agama. Atau jangan-jangan orangtua kurang memahami agamanya sehingga mempercayakan pengetahuan agama kepada orang lain. Dan ternyata, orang lain tersebut memiliki pandangan paham radikal.

Dan sang anak pulang dengan gagahnya seakan-akan lebih tahu agama daripada orang tuanya. Orangtua pun menjadi bimbang, hendak menasihati anak, tapi bingung bagaimana caranya. 

Ketika anak di sekolah pun, ada pendidik yang dengan bangganya mencekoki muridnya dengan paham radikalnya. Maaf, bukan menyudutkan pendidik. Kita bisa cek akun media sosial beberapa pendidik. Ini terbukti dengan tertangkapnya beberapa pendidik penebar akun kebencian di media sosial.

Ini hanyalah segelintir pendidik yang berpaham seperti ini. Namun, yang segelintir ini akan menjadi besar jika tidak dicegah dan diberi sanksi tegas. 

Pemerintah harus tegas memberikan sanksi kepada pendidik yang terlibat dalam penebar kebencian. Saran saya, apabila pendidik itu Aparatur Sipil Negara (ASN), sebaiknya dicopot saja. Banyak kok warga lainnya yang lebih Pancasila dan berintegritas tinggi ingin menjadi ASN.

Selanjutnya, kalau ada siswa atau mahasiswa yang tergabung dalam organisasi intoleran, cabut saja ijazahnya sehingga menjadi jera. Ini menjadi hal serius jika keberadaan orang-orang intoleran di dunia pendidikan ini dibiarkan eksis.

Memilih guru yang benar memang susah-susah gampang. Perlulah kejelian agar tidak terjerumus pada ilmu yang salah. Seperti dalam tembang macapat Dhandhanggula karya Sri Pakubuwana IV sebagai berikut:

Nanging yen sira ngguguru kaki
(Meskipun begitu, jika engkau berguru)
amiliha manungsa kang nyata
(pilihlah orang [guru] yang sebenarnya)
ingkang becik martabate
(tinggi martabatnya)
sarta kang wruh ing kukum
(memahami hukum)
kang ngibadah lan kang wirangi
(yang rajin beribadah dan menjalankannya)
sukur oleh wong tapa
(apalagi mendapat orang suka prihatin)
ingkang wus amungkul
(yang sudah mumpuni)
tan mikir pawewehing liyan
(dan tidak mengharapkan imbalan orang lain)
iku pantes sira guronana kaki
(dia pantas kau gurui)
sartane kawruhana
(serta ketahuilah)

Apabila guru yang kita cari tepat dan benar, niscaya ilmu agama yang diberikan tidak akan menyimpang dan over fanatik. Guru yang baik adalah guru yang tahu porsi ilmu muridnya. Ilmu yang terlalu banyak malah akan membuat murid bingung dan menafsirkan dengan salah.

Selanjutnya, murid akan merasa sudah memiliki ilmu yang tinggi dan mungkin menjadi intoleran dengan orang lain yang berseberangan keyakinan. Orang intoleran berpotensi menjadi teroris yang mengancam bangsa Indonesia. 

Banyak dijumpai kasus terorisme yang melibatkan anak remaja usia produktif. Selain itu, orang yang intoleran juga berpotensi menjadi provokator. Orang hanya peduli dengan yang seagama dan sealiran. Sungguh menyedihkan.

Tembang macapat yang menjadi warisan budaya bangsa seakan dilupakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa macapat mengandung nilai-nilai agama dan adat. Macapat bukanlah warisan budaya yang harus dimusnahkan demi ego kita terhadap over fanatik agama. Ini adalah harta yang dititipkan leluhur kita agar bangsa ini tetap utuh.

Jadikanlah agama sebagai peredam konflik bukan malah pemicu konflik. Kita perlu menyadari, agama itu ada yang bersifat umum dan khusus. Bersifat umum artinya, semua pemeluk agama apa pun bisa melakukan, seperti: bertegur sapa, bersilaturahim, gotong royong dan sebagainya.

Bersifat khusus artinya, hanya pemeluk agama itu sendiri yang bisa melakukan. Pemeluk Islam tidak akan paham mengapa pemeluk Katolik mengenal Tritunggal. Pemeluk Katolik tidak akan paham mengapa pemeluk Protestan melakukan pujian dengan musik-musik band.

Pemeluk Protestan tidak akan paham mengapa pemeluk Budha, Hindu, dan Katolik menggunakan patung sebagai media berdoa. Demikian juga pemeluk agama lain, tidak akan paham mengapa orang Islam harus menyembelih hewan kurban dan disaksikan banyak orang.

Stop mencampuri agama orang lain, yang kita tidak bakal memahaminya. Apablila kita mau bangsa ini tetap utuh, biarlah agama yang bersifat khusus itu menjadi milik pribadi pemeluknya, dan agama yang bersifat umum ini perlu dipupuk terus. Seperti tembang macapat Pocung karangan Dwijawiyata di akhir tulisan ini:

Wong sadulur, nadyan sanak dipun runtut
(Orang dalam bersaudara harus bersaudara yg baik)
aja kongsi pisah ing samubarang pakarti
(jangan bercerai berai dlm segala perilaku)
lamun rukun dinulu luwih prayoga
(kalau rukun akhirnya akan lebih baik)

Kita harus rukun agar bangsa ini tetap utuh. Semoga tembang macapat bisa membantu bangsa Indonesia untuk selalu mengingat leluhur dan persatuan.