Siapa yang tahu esok hari akan terjadi apa? Kita benar-benar dibutakan untuk melihat masa depan, siapa yang tahu bahwa dia esok hari akan menjadi orang kaya, punya mobil banyak dan tanah di mana-mana, yang jelas di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semua didapat melalui proses yang panjang.

Kiranya penting untuk saya ceritakan kepada khalayak ramai, seorang pejuang kemanusiaan dari kalangan petani yang sudah usia lanjut. Sosok wanita tua yang akan saya ceritakan kepada para pembaca diambil dari kisah nyata, begitu mengagumkan dan mudah-mudahan menginspirasi generasi muda.

Siti Saonah kelahiran tahun 1952, biasa masyarakat setempat memangilnya emak Iis. Saya begitu mengagumi keberadaannya bukan karena kecantikan yang ia miliki akan tetapi jiwa kemanusiaan yang dia perlihatkan. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, namun sisa hidupnya masih bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tempat dimana ia tinggal dan dilahirkan.

Dusun Cadas merupakan tempat emak Iis tinggal bersama kelima anaknya yang sekarang sudah berkeluarga, tepatnya di Kec. Maja Kab. Majalengka, Jawa Barat. Sebuah dusun yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Majalengka.

Mata penceharian masyarakat di Dusun Cadas mayoritas bertani; menanam padi, jagung, cabai, bawang merah, dll. Tergantung musim, cocoknya ditanami tumbuhan apa namun terkadang cuaca tidak menentu membuat hasil panen terganggu atau bahkan bisa sampai gagal panen lantaran terserang hama dan buruknya cuaca.

Emak Iis pun sama seperti kebanyakan orang di kampungnya berpropesi sebagai petani. Namun seiring berjalannya waktu, kesibukan emak Iis tidak hanya bertani akan tetapi sibuk mengobati orang-orang yang silih bergati datang ke rumahnya.

Ini merupakan suatu karunia yang Allah Ta'ala telah berikan kepada beliau, tanpa melalui pendidikan formal ia mampu mengobati orang yang sedang sakit. Tentu, keahlian itu tidak datang dengan sendirinya, seperti yang saya katakan di awal bahwa tidak ada yang namanya kebetulan.

Pengobatan Yang Unik

Karunia yang Allah Ta'ala berikan kepada emak Iis ini berupa kemampuan menditeksi penyakit melalui media perut. Hanya bermodalkan minyak goreng, lantas perut diolesi minyak secara merata kemudian mengurut perut tersebut menggunakan kedua tangan dalam keadaan pasien tertidur terlentang dan kedua kaki ditetuk. Maka penyakit  akan dengan mudah terditeksi, apakah penyakit itu bersumber dari melamun, sakit hati, atau MAG. Wanita tua itu dapat mengetahuinya entah seperti apa teknisnya yang jelas banyak pasein merasa terbantu dengan metode pengobatan yang unik tersebut.

Ibu khatimah umpamanya ia sudah menderita penyakit lambung selama delapan bulan, kondisi badan sudah lemas, wajah perlahat menjadi pucat, pihak keluarga sudah kebingungan harus berobat kemana, Sampai akhirnya salah seorang tatangganya menyarankan untuk memanggil emak Iis.

Keesokan harinya emak Iis pun dipanggil dengan harapan supaya dapat mengangkat penyakit ibu Khatimah dan alhamdulillah, melalui pelantara tangan emak Iis dan pertolongan Allah Ta'ala yang khas, ibu khatimah dapat beraktivitas seperti biasa.

Masyarakat dusun Cadas tidak hanya mempercayai emak Iis sebagai orang yang dapat menditeksi penyakit bagian dalam, akan tetap emak Iis pun mampu menangani persalinan para ibu yang sedang melahirkan, sudah banyak ibu-ibu hamil di dusun Cadas ditangani oleh wanita tua itu. Bahkan sebelum kandungan berumur tua pun para ibu sudah menitipkan kepada emak Iis supaya persalinan ditanganinya.

Kala itu akses ke puskesmas kurang begitu baik jalan belum di aspal dan banyak lubang dimana-mana, membuat para ibu lebih memilih ditangani oleh emak Iis. Bukan hanya buruknya akses ke puskesmas yang menjadi alasan mereka, para ibu memiliki ketakutan yang mendalam jika melahirkan di puskesmas, takut vaginanya disobek oleh bidan padahal tujuannya baik supaya anak dalam kandungan cepat keluar.

Rumah emak Iis akhirnya menjadi tempat berkumpul para pasien, ada yang datang dari Jakarta, Sumedang, Majalengka, dsb. Terkadang emak Iis pergi ke rumah orang yang sedang melahirkan atau sakit dengan berjalan kaki karena tidak semua penduduk Dusun Cadas memiliki kendaraan bermotor, ada juga yang datang menjemput wanita tua itu dengan sepeda motornya, namun emak Iis tidak mengharapkan hal itu.

Penderitaan Pasti Akan Berlalu

Sebelumnya emak Iis tidak mempunyai keahlian mengobati hanya seorang petani biasa, begitu pun masyarakat pada mulanya tidak mengetahui bahwa emak Iis punya keahlian mengobati.

Emak Iis begitu menyadari bahwa kehidupan di kampung begitu sulit, untuk mendapatkan uang harus menunggu panen padi atau jagung terlebih dahulu dan itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga terpaksa beberapa bulan menjelang panen harus hidup prihatin, makan seadanya hanya nasi dengan garam, terkadang tidak makan sama sekali dan lebih memilih untuk berpuasa.

Begitulah kondisi emak Iis pada waktu itu, sehingga perutnya sering mengalami rasa sakit dan untuk meredakan rasa sakit di bagian lambungnya, wanita tua itu sering mengurut perutnya menggunakan kedua tangan sampai terasa enak, kebiasaan ini terus ia lakukan jika perut mulai merasakan nyeri.

Apa yang emak Iis lakukan sangat mirip dengan seorang dokter dari Jerman yang bernama Dr. Samuel haneman, sebelum obat yang dia buat digunakan kepada orang lain, dia sendiri terbeih dahulu mencoba obat tersebut. Kemudian ia menulis apa saja yang ia rasakan setelah meminum obat tersebut.

Suatu kali suami emak Iis mengalami sakit perut akibat telat makan dan lain hal, sebagai seorang isteri yang baik turut serta mengobati dan mencarikan obat untuk sang suami. Keterbatas ekonomi membuat ia tidak mampu membawa sang suami ke puskesmas sehingga emak Iis mengobati suaminya alakadarnya, dengan kebiasaan yang sering ia lakukan yakni mengurut perut sembari terlentang.

Kali ini perut sang suami yang diurut secara teratur dan  ternyata perlahan sang suami mulai memperlihatkan perubahan yang signifikan, yang awalnya masuk makan pun sakit dan dada terasa sesak mulai membaik.

Semenjak peristiwa itu, sekarang emak Iis terus-tersan kedatangan tamu yang ingin berobat, wanita tua itu melayani dengan penuh keikhlasan walaupun terkadang tidak mendapatkan upah akan tetapi tujuan emak Iis bukan untuk mencari pundi-pundi rupiah melainkan ingin melihat orang disekitarnya sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa.

Jika cuaca sedang tidak bersahabat dengan manusia, pekerjaan emak Iis menjadi bertambah, terkadang saat kondisi cuaca hujan wanita tua itu dipanggil untuk mengobati salah seorang warga dusun Cadas, terkadang ketika ia baru pulang dari ladang dan kondisi baju yang penuh lumpur ia dipanggil untuk mengobati, dan terkadang karena banyaknya orang yang sakit sampai-sampai ia lupa untuk makan tetapi alhamdulillah Allah Ta'ala terus memberikan kesehatan kepada emak Iis walaupun sekarang usianya sudah setengah abad.

Masyarakat dusun Cadas merasa terbantu dengan keberadaan emak Iis ini, apa jadinya jika tidak ada emak Iis mungkin mereka harus pergi kepuskesmas yang jaraknya jauh dan menelan banyak biaya jika tidak memiliki kartu BPS.

Allah Ta'ala Berkuasa Atas Segala Sesuatu

Bisa itu karena biasa, itulah kenapa emak Iis dijuluki sebagai seorang tabib karena kebiasaanya, kita mengetahui bahwa Allah Ta'ala maha kuasa akan tetapi jika manusia tidak bekerja, apakah uang akan datang dengan sendirinya? Apakah keahlian akan datang dengan sendirinya? Itu mustahil.

Di sisa hidup emak Iis, ia masih bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak mesti harta keahlian yang kita miliki dapat bermanfaat bagi orang lain, tidak mesti harus pintar untuk dapat berguna bagi orang lain yang penting ada kemauan. Apakah masih merenungkan mau mengkhidmati sesama manusia melalui apa? Lakukanlah apa yang dirasa berguna jangan sampai menunggu usia tua mumpung masih muda dan tenaga pun masih prima.

Pesan terakhir yang emak Iis sampaikan yakni ia bisa seperti sekarang karena di masa awal ia sering membelanjakan hartanya  di jalan Allah Ta'ala, menurutnya pengorbanan harta yang ia lakukan berdampak kepada kualitas hidupnya dan ia merasa bahwa keahlian yang ia miliki merupakan hasil dari pengorbanan harta. Karena ternyata rezeki yang Allah Ta'ala berikan tidak hanya harta akan tetapi ilmu pun merupakan rezeki dari Allah Ta'ala dan emak Iis telah membuktikannya.