Jika anak SD ditanya perihal waktu, yang ada di kepala mereka tak jauh dari jam, menit, detik, hari, minggu, bulan dan tahun. Di luar kalkulasi itu, bukan waktu. Dan mungkin, beberapa kalangan juga menganggap waktu itu hanya seputaran angka-angka di kalender dan jam tangan.

Ketika kita membahas waktu, maka kita diperhadapkan pada persoalan lama, cepat, mengenai durasi. Sesuatu yang telah lalu, sedang terjadi, dan terawang masa depan.

Sederhana bagi orang awam, waktu merupakan suatu peristiwa atau keadaan yang sedang berlangsung atau terjadi dalam kehidupan kita. Tanggal berapa sekarang? Kapan nikah? Kapan ujian semester? Kapan wisuda? Kapan berangkat? Kapan pulang? Adalah contoh beberapa pertanyaan soal waktu.

Quraish Shihab mendefinisikan waktu sebagai seluruh rangkaian yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan datang. Boleh dikata, sejarah. Suatu dimensi yang mengikat makhluk hidup dalam semesta.

Bagi saya, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tergantung kita, ingin memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan dengan mengisi hal-hal baik atau sebaliknya. Senada dengan Imam Asy-Syafi'iy, yang mengatakan waktu itu ibarat pedang, jika kamu tidak menebasnya maka waktu tersebutlah yang akan menebasmu. Dan jika jiwamu tidak disibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebathilan. Ini dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi.

Waktu adalah hal sangat berharga, hingga Benyamin Franklin menganggap Time is Money. Waktu adalah uang. Tetapi, lebih dari itu. Waktu tak sekadar senilai dengang kertas bernominal tertentu yang digunakan untuk membeli barang dan jasa.

Kalau konsep orang Yunani pada abad ke-16, waktu disebut Kairos. Kesempatan. Karena, anggapan itu melebur dan tertanam dalam kepala orang-orang Yunani saat itu, makanya mereka memanfaatkan tiap kesempatan mereka dalam hal apapun. Sehingga, setiap pekerjaan dilakukan dengan seluruh kemampuan yang ada dan penuh tanggung jawab. Karena mereka menganggap, sesuatu yang terjadi itu hanya sekali dan tak akan terulang kedua atau kesekian kalinya.

Makanya, di Eropa pada abad tersebut etos kerja masyarakat sangat tinggi. Karena penghargaan terhadap waktu itu sangat besar.

Ada banyak perspektif mengenai waktu (masa). Tetapi, bagaimana sesungguhnya cara kerja waktu? Sehingga Tuhan dalam Alkitab Al-Qur'an bersumpah demi masa, yang notabenenya adalah ciptaan-Nya sendiri. Seberapa berharga dimensi itu hingga Allah swt bersumpah dengan sungguh? Al-'Ashr.

Imam Syafi'i mengatakan, seandainya manusia mencermati surah ini (al-'Ashr) secara saksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka. Allah bersumpah demi masa tersebut, bahwa manusia sungguh berada dalam kerugian dan kebinasaan, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal salih. Mengingatkan yang lainnya mengenai mana yang benar dan batil, dan senantiasa mengingatkan soal bersabar dalam menghadapi tiap persoalan.

Dalam surah ini, secara sederhana kita sesungguhnya diperintahkan agar senantiasa mengisi waktu kita dengan hal-hal baik. Mengerjakan perintah Allah swt dan menjauhi segenap larangan-Nya.

Surah yang diturunkan di Mekah ini sangat singkat, hanya tiga ayat. Tetapi isinya sungguh begitu padat dan luas penjabarannya. Alkisah, ‘Amr bin al-‘Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al-Kadzdzab. Hal itu berlangsung setelah pengutusan Rasulullah saw. Dan sebelum dia (‘Amr bin al-‘Ash) masuk Islam. Musailamah al-Kadzdzab bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash,

 “Apa yang telah diturunkan kepada sahabatmu ini (Rasulullah) selama ini?”

 Dia menjawab, “Telah diturunkan kepadanya satu surat ringkas namun sangat padat.” 

Dia (Musailamah) bertanya, “Surat apa itu?”

Dia (‘Amr) menjawab: “Wal ‘ashr….[hingga akhir surah]…(“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3).

Singkat betul, tapi sangat padat isinya.

Apakah kita telah memaknai waktu itu dengan bijak? Atau hanya menganggap waktu adalah sesuatu yang tak begitu penting. Hingga kita membuangnya begitu saja. 

Tak ada yang perlu ditakutkan, anggapan beberapa kalangan anak muda. Katanya, hidup masih panjang, nikmati masa muda. Masih banyak waktu sampai kita tua, habiskan saja masa muda dengan bersenang-senang dulu.

Padahal, masa muda adalah puncak mengisi waktu dengan hal-hal yang positif, melakukan kegiatan-kegiatan sosial misalnya, mengejar cit-cita, impian, mewujudkan apa yang diharapkan. Serta banyak lagi yang lainnya.

Bukankah waktu adalah sesuatu yang sangat berharga? Kenapa tidak kita manfaatkan kesempatan selagi bisa, dan tak membiasakan diri lagi untuk menunda-nunda segala macam pekerjaan kita. Karena ketika kita menunda, tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi hanya menumpuk masalah itu menjadi semakin besar. 

Waktu, saking berharganya. Banyak orang yang menyesal karena tak memanfaatkan waktunya saat masih luang melakukan kebaikan-kebaikan. Ketika raga telah menua, barulah muncul kesadaran. Lalu mereka bergumam, andai saja kumanfaatkan waktuku saat itu sebaik mungkin, pasti tidak seperti sekarang ini keadaannya.

Bagaimanapun itu, tergantung kita. Sisa kita memilih, ingin mengisi waktu dengan apa.