Prasasti Padang Roco merupakan peninggalan sejarah dan budaya yang terdapat di kabupaten Dharmasraya. Salah satunya sisa-sisa peninggalan purbakala terdahulu dan sekaligus merupakan bentuk kekayaan cagar budaya dari peninggalan raja Adityawarman.

Ini menjadi simbol identitas daerah tersebut. Di mana terdapat dua kata Padang dan Roco. Kata Padang bermakna tempat atau lapangan bermain-main sedangkan, kata Roco adalah Arca menurut bahasa Indonesia, yang mana definisi Arca tersebut merupakan patung-patung ataupun candi-candi. Maka dengan itu dinamakan Candi Padang Roco.

Artefak- artefek yang ditemukan berupa alas kaki patung atau Arca Amoghapasa. Namun, penemuan secara terpisah antara Arca Amogphasa dan alas kakinya. Alas kakinya ditemukan di candi Padang Roco Sei. Lansek sedangkan, Patung atau Arca Amogpahasa Rambahan Lubuak Bulang.

Patung tersebut merupakan hadiah dari Kartanegara sebagai tanda persahabatan dengan Dharmasraya untuk Adityawarman. Di samping itu, juga ditemukan Arca Bhairawa atau Patung bentuk perwujudan Adityawarman sebagai Raja Dharmasraya.

Patung ini menyimpan makna sekilas berbentuk cerita tentang perjalanan Adityawarman dari Majapahit menuju Dharmasraya. Di bawah kaki patung tersebut terdapat sepuluh tengkorak yang mempunyai makna tersirat, yakni dalam perjalanan Adityawarman dari Jawa menuju Dharmasraya selalu dihadang oleh musuh namun bisa dilumpuhkan oleh beliau.

Kembalinya Adityarwarman dari tanah Jawa menuju Dharmasraya merupakan baliak ka kampuang halaman untuk mengabdi dan melanjutkan pemerintahan yang diwarisi oleh kakeknya.

Keterikatan Adityawarman dan Dharmasraya tak dapat dipisahkan karena merupakan keturunan dari Darah Jingga walaupun, dibesarkan di tanah Jawa. Kata Dharmasraya juga terdapat pada Arca Amoghapasa. Ada tiga nama daerah yang disebutkan yaitu, Suwarnnabhumi, Dharmasraya, dan Bumi Melayu.

Kata Swarnna yang artinya emas dan bumi artinya tanah. Sehingga arti Swarnnabhumi adalah tanah emas. Dharmasraya sebagai nama daerah lokasi tempat didirikannya Arca Amoghapasa, sedangkan bumi Melayu merupakan kerajaan yang berada pada bumi Melayu sehingga, Dharmasraya menjadi pusat pemerintahan kerajaan tersebut dari tahun 1286 sampai 1347 M.

Sedangkan, nama Dharmasraya berasal dua kata yang telah di tulis oleh P.J. Zoetmolder yaitu, kata Dharma yang artinya hukum, kebiasaan, tata cara atau tingkah laku yang ditentukan oleh adat, kewajiban, keadilan, kebajikan, kebaikan, adat sopan santun, agama, pekerjaan baik, hukum atau doktrin, Buddhisme, bentuk atau keadaan yang jelas, tabiat, pembawaan, watak, karakter, sifat dasar, sifat khas, dan kata Asraya berarti tempat segala sesuatu bergantung atau terletak, tempat duduk, tempat perlindungan, pertolongan, dan bantuan.

Makna kata tersebut tidaklah jauh berbeda yang terdapat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Dharma (Darma) kewajiban, aturan dan kebenaran. Sedangkan, kata Raya besar atau luas. Dengan demikian dapat diartikan Dharmasraya secara semantis sebagai daerah yang berdasarkan pada hukum dan aturan maupun pengabdian secara luas yang mempunyai cara tersendiri.

Secara geografis letak Dharmasraya sangat strategis yang menjadi pusat lalu lalang transportasi sepanjang daerah aliran sungai Batanghari dan mempunyai kekayaan Sumber Daya Alam sangat potensial untuk di kelola.

Maka dengan itu, hubungan Adityawarman secara historis dengan Dharmasraya tidak terlepas dari pembenahan sistem pemerintahan sendiri untuk mengelolah daerah asalnya sekaligus menjadi raja yang telah diwarisi.

Dengan demikian Adityawarman lebih familiar dengan sebutan Maharajadiraja di Dharmasraya dengan gelar Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa di tahun 1347 masehi. Hal inilah yang membuat kebesaran nama Raja Dharmasraya Adityawarman mencuat di Nusantara.

Dengan berdirinya bangunan candi Padang Roco di kabupaten Dharmasraya menunjukkan terungkap takbir masa lampau. Pengungkapan ini ditemukan oleh masyarakat setempat mengenai pecahan batu keramik yang tertimbun oleh tanah dengan kedalaman mencapai lebih kurang 20 meter.

Batu tersebut biasanya dimanfaatkan maupun digunakan oleh masyarakat sebagai batu asahan benda tajam dan untuk bahan bangunan rumah. Sekilas sedikit ulasan gambaran umum tentang sejarah Dharmasraya.

Dharmasraya sebuah negeri yang menghadirkan banyak pesona di masa lalu. Berkaca dari hal itu, sudah semestinya Dharmasraya menjadi pusat wisata sejarah dan budaya di wilayah Sumatera Barat yang dikenal dengan keindahan pesona Budaya.

Jika bicara Dharmasraya hari ini, kita bisa melihat fenomena kurangnya kesadaran bersama untuk membangun Dharmasraya menjadi daerah sejarah dan budaya. Ditinjau ke depan permasalahan Padang Roco peninggalan situs sejarah dan budaya tersebut walaupun, tidak adanya lagi Arca Amogpahasa tentu menjadi permasalahan dan persoalan yang serius.

Persoalan ini membuat dilema dan tanda tanya bagi masyarakat dikarenakan kurang komplitnya peninggalan ini. Di samping itu, yang menjadi kendala terletak pada akses jalan transportasi darat maupun air menuju ke sana. Apa bila ini dikelola dengan baik dan menjadi tempat lapangan bermain ataupun pariwisata tentu akan berdampak baik bagi perekonomian masyarakat setempat.

Keagungan Adityawarman melalui peninggalan candi Padang Roco ini belum terlihat jelas manfaatnya bagi masyarakat walaupun, biaya mengenai pembugaran Candi sudah mendapat bantuan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar dengan wilayah kerja Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Namun, dana tersebut tentu belum mencukupi untuk segi pengelolaan, fasilitas umum maupun akses yang layak menuju ke sana. Ini membuktikan bahwa kebesaran yang dimiliki oleh nama Dharmasraya sebagai negeri petrodolar dan Adityawarman belum tampak terlihat dengan begitu jelas.

Fenomenanya dapat kita lihat dari segi keadaan dan kondisi di lapangan saat sekarang. Untuk menjadikan candi Padang Roco sebagai salah satu tempat pariwisata, pemerintahan daerah Kabupaten Dharmasraya harus ikut andil bentuk kewajibannya untuk membenahi salah satu potensi obyek wisata tersebut ke depannya karena, candi Padang Roco merupakan saksi sejarah Dharmasraya.

Masa lampau dan masa kini tentu menentukan ke masa depan dengan mengkaji sejarah kita akan tahu apa asal mulanya sesuai kutipan presiden Soekarno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)” dengan rasa kepedulian dengan sejarah tersebut membuat rasa tanggung jawab menuju perubahan.

Pandangan sejarah ini setidaknya dapat memberikan pemantik api berjalan di kegelapan untuk mencari cahaya terang benderang. Melihat kondisi saat ini tentu berharap banyak kepada semua lapisan masyarakat dan stakeholder terhadap pembenahan serta pengelolaan situs sejarah ini, agar tidak hanya sebatas cover maupun dongeng belaka di ranah Cati Nan Tigo.

Demikian saksi bisu ini untuk dikuak kembali untuk dikaji antara candi Padang Roco, Adityawarman, dan Dharmasraya sendiri sebagai daerah pusat pemerintahan. Dengan terjaga dan dilestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tersebut akan membuat membooming kembali dan mencuat ke permukaan cerita lama yang terlupakan.

Berbicara masa lalu tentu menjadi acuan atau referensi untuk pembangunan ke depan sesuai apa yang telah terjadi pada masa lampau, sebab hal ini berkaitan erat dengan kebesaran nama yang diambil melalui sejarah ini. Untuk diangkat menjadi nama kabupaten pada tahun 2003 dan diresmikan tahun 2004.

Harapan ini tentu sangat didambakan oleh masyarakat Dharmasraya sebagai negeri yang mempunyai sejarah emas di nusantara untuk dapat terpublikasikan sehingga berdampak kepada generasi muda yang tidak buta dengan sejarahnya sendiri. Sehingga tidak terjebak dalam glorifikasi sejarah tentang sekelumit sejarah Dharmasraya bersifat subjektif.

Apa lagi ini salah satunya saksi sejarah. Kendala tentang publikasi mengenai situs Padang Roco tersebut belum terkelola secara sistematis maupun dimanfaatkan semaksimal mungkin keberadaannya. Bila permasalahan ini tertuntaskan dengan baik maka akan mengalir bagaikan air dari hulu ke muaranya sebagai PAD buat kabupaten Dharmasraya.

Destinasi ini akan menjadi pusat perhatian semua kalangan bila pembenahan dan pembugarannya dilakukan seperti keadaan yang ada di masa lampau. Di samping itu, yang akan menjadi buah bibir dan pusat perhatian adalah Arca Amoghapasa sebagai salah satu pelengkap sejarah tentu perlu dipugarkan atau duplikat kembali untuk dijadikan ikon.

Peninggalan Arca Amoghapasa dan Arca Bhairawa tersebut telah diletakkan pada meseum Nasional Jakarta dan duplikatnya Arca Bhairawa terdapat pada meseum Adytiawarman kota Padang.

Ironis sekali negeri yang mempunyai sejarah namun tidak memiliki benda peninggalan tersebut. Sehingga, grand design seperti ini terlaksana nantinya akan membuka kembali pintu gerbang sejarah sesuai dengan makna tersirat dari kata Dharmasraya.

Dilihat dari sudut pandang kaca mata objektif permasalahan tersebut sangat cocok untuk dikupas sekaligus aplikasi yang didapat untuk diterapkan demi pembangunan daerah sehingga, terealisasi kembali sembari tempat belajar sejarah maupun nanti sebagai acuan dalam pembuatan muatan lokal spesifik di daerah Dharmasraya umum Sumatera Barat.

Untuk membangun kesadaran baru dan sebagai refleksi senada yang di sampaikan oleh Citford Geetz tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada.