Seorang Muslim mengantar neneknya yang Nasrani ke gereja. Sebelum masuk ke gereja, anak muslim ini meminta, “Nek, jangan lupa doain aku ya?”, nenek mengangguk.

Sang nenek keluar gereja dan memanggil cucunya untuk segera pergi. Cucu yang penasaran bertanya, “Nek, tadi doain aku gak?”. Nenek gaul menjawab dengan santai, “Iya… Nenek doain kamu jadi Muslim yang baik.”

Ini kisah bukan karangan saya, tapi tak tahu lagi kalau Pidi Baiq ngarang. Waktu itu acara bedah buku Dialog 100 oleh komunitas Jakatarub di Bandung. Buku tentang 100 kisah nyata toleransi. Pidi Baiq hadir sebagai pembedah. Katanya itu kisah kawannya.

Saya yakin kisah yang tidak sama tapi juga tidak beda-beda amat juga sering kita saksikan. Toh, sejarah toleransi beragama di Indonesia ademnya lebih lama daripada panasnya—yang notabene baru terasa dalam skala nasional se-dekade kebelakang. Masa tidak ada sih, peristiwa macam tetangga Kristen yang menyediakan parkirannya untuk slametan atau tahlilan kita yang muslim. Cerita lama lah.

Namun seiring perkembangan popularitas meme comic dana akun-akun dakwah di medsos cerita-cerita serupa seakan mahal sekali harganya. Yang mudah di dapat, malah sebaliknya. Ini entah karena jumlah militan intoleran di internet lebih banyak, atau justru kaum moderat yang kelewat risih dengan aksi-aksi persekusi? Sekali lagi, entahlah, saya Tidak Maha Tahu.

Melihat video persekusi Biksu, mengingatkan saya pada gegap-gempita dunia maya atas pembubaran HTI, juga mengigatkan saya pada pembubaran acara seminar tentang LGBT di America University of Beirut, Lebanon tahun lalu.

Untuk dua kisah pertama, kalian pasti sudah hapal. Untuk yang terakhir, itu berita yang dikirimkan kawan saya, mahasiswa jurusan ilmu politik di sana. Jadi ceritanya ada semacam unit kegiatan mahasiswa bercorak Islam. Mereka mengadakan seminar dengan mengusung LGBT sebagai tema besarnya. Namun gabungan beragam organisasi mahasiswa melakukan protes agar seminar digagalkan. Alasannya, karena seminar tersebut akan menghadirkan pembicara yang mendukung penggunaan terapi listrik sebagai ‘pengobatan’ orang dengan orientasi seksual kekinian.

Fenomena ini mengganggu ketenangan saya. Sebab kampus yang membanggakan sekularisme dan liberalismenya kok bisa-bisanya berlaku otoriter? Di mana kebebasan berpendapat yang dijunjung tinggi oleh Amerika itu?

Oke, ide dari seminar itu bisa saja disepakati mencederai hak asasi manusia. Tapi dalam medium kampus, rahimnya intelektual suatu bangsa, rasanya pantas saya mengharapkan aksi atau respon yang lebih elegan. Pembubaran paksa adalah cermin yang kotor untuk melihat wajah demokrasi. Apalagi terjadi di ranah kampus. Ide balas ide. Inginnya sih begitu.

Pembubaran HTI adalah versi yang lebih besar dari berita di AUB itu. Konteksnya memang berbeda. Yang satu tentang seks, yang satu tentang ideologi negara. Tapi, outputnya sama. Dimana mayoritas sekali lagi menunjukan tangan besinya dengan pengendalian sistem di hadapan kaum minor. Sekilas tidak masalah. Toh ini hak. Tapi untuk bicara toleransi, kesamaan hak, dan kebebasan berekspresi rasanya perlu ditunda dulu jika kita masih membenarkan pembungkaman suara yang tidak cocok dengan telinga kita.

Demokrasi, saudara-saudari, perlu edukasi. Karena konsekuensi dari pengakuan suara atau pendapat adalah kompleksitas dan kemajemukan ide yang tumpah ruah. Keberadaan organisasi seperti HTI dan merebaknya ide-ide kontra-Pancasila adalah efek yang nyata dari adanya sistem demokrasi—atau kebebasan berpendapat—ditambah minimnya edukasi. Baik itu pendidikan kebangsaan, nasionalisme, maupun pendidikan kebebasan.

Perkara anti-negara, anti-persatuan, dan anti-anti yang lain selama belum menjadi aksi fisik, adalah ide. Dan ide adanya di kepala. Jadi kalau mau memberantas ide, benturkan kepala kalian.

Sebelum saya dianggap simpatisan HTI—mungkin sudah—kita kembali ke pokok permasalahan. Apakah dibenarkan kita berlaku intoleran terhadap intoleransi? Apakah membunuh setiap pelaku intoleran akan menyelesaikan masalah intoleransi? Apakah bully balas bully menghentikan pem-bully-an?

Barusan baca tulisan Puthut Ea di Mojok, tentang percakapannya dengan kawan yang organisasinya dilarang. Puthut bertanya apakah keyakinan berubah setelah dibubarkan?

Dia menggelengkan kepala. “Malah kami makin solid. Makin mantap. Silaturahmi makin terjaga. Makin giat mengaji. Makin memperdalam ilmu.”

“Ya kalau begitu, peraturan itu tidak akan mampu melakukan apa-apa,” jawab saya agak asal.

“Dalam guyonan kami, HTI kan dibubarkan oleh aturan pemerintah, bukan oleh Allah.”[1]

 

Tak perlu ilmu gaib untuk memahami ini. Kalian kaum moderat ngehek perlu hati-hati. Jangan-jangan ketakutan kalian akan efek besar radikalisme justru sedang hibernasi alih-alih teratasi. Menyimpan tenaga untuk musim buruan berikutnya.

Ya tapi benar juga. Kelihatannya menjadi baik dan penuh kasih sayang begitu saja juga tak jadi solusi kalau kita masih ingin hidup. Seperti terjadi penembakan Chapel Hill di Amerika. Ketika tiga anak muda Muslim dibunuh dalam rumahnya sendiri oleh seorang ekstrimis berlatar ateis. Ancaman-ancaman sudah ada sebelumnya. Dan salah satu dari mereka, Yusor, curhat pada ibunya yang menasehati, “Berbuat baik saja dan berikan wajah yang manis. Orang lain akan memperlakukan kita sesuai ahlak yang kita beri.”[2] Namun tetap terjadi apa yang sudah terjadi. 

 

***

Saya dan beberapa kawan sudah sering mendiskusikan problema serupa. Kami lelah dan lebih memilih nonton infotainment Hollywood sekarang. Habis, dalam menghadapi radikalisme yang disebut kontra-peradaban ini kita seakan melawan untuk kalah. Doktrin-doktrin macam kafir, masuk neraka, halal darahnya, itu seakan lebih kuat dari kecintaan kita pada perdamaian. Dan menawarkan harmoni kehidupan di bumi rasanya tak sebanding dengan janji surga.

Silent majority yang dianggap sudah bangun itu pun sepertinya tak tahu harus berbuat apa selain kampanye di media. Aksi toleransi nyatanya hanya dinikmati kaum moderat saja. Sebaliknya, intoleransi selalu menyerang kaum toleran atau paling tidak, moderat.

Menyerang ideologi juga sebenarnya riskan, meskipun itu yang saya tekankan di atas. Mereka yang menganggap kita salah tidak akan menganggap kita benar. Dan mereka yang sudah merasa dirinya benar, sulit sekali disadarkan kesalahannya. Jika kita sikapi ini dengan frame benar-salah, tidak akan membawa kita selain ke jurang perpecahan.

Sudah saatnya kita berhenti menuntut kehadiran negara dan ulama dana persoalan akar rumput. Kebiasaan manja seperti itu membuat kita merasa sudah cukup dengan menulis status di Facebook dan Twitter. 

Pelaku persekusi seharusnya tidak perlu dilaporkan ke polisi. Kalian yang geram, datanglah silaturahmi ke rumahnya sambil bawa surabi. Agar kesalehan spiritual kaum moderat terbukti dari kesalehan publiknya. 

Mereka yang mengklaim surga dalam pidato adalah idola masyarakat yang haus jiwanya. Sehingga mudah saja mengikuti cara berpikir ustad kondangan yang bacaan solatnya aduhai minta ampun. Doanya panjang dan hafal Alquran. Bisa jadi fanatisme mereka terhadap janji bidadari adalah ekspresi dari kejengkelan hidup di tengah masyarakat moderat minim spiritual. Bisa jadi. Alasan merebaknya radikalisme adalah kelalaian kaum moderat dalam praktek dan pemikiran moderatnya sendiri. Cukup sekian.  


 [1] https://mojok.co/puthut-ea/esai/obrolan-bersama-seorang-kawan-yang-organisasinya-barusan-dilarang/

 [2] https://mojok.co/kalis-mardiasih/esai/muslimban-harusnya-membuat-kita-malu