"Saya ingin beri peringatan, hoaks ini berarti ada yang ingin ciptakan kekacauan, nah dan saya punya suatu keyakinan ini berasal dari luar negeri ada kekuatan asing, ada negara tertentu yang tidak pernah suka Indonesia aman dan maju."

"Jadi ya ini kadang, tokoh-tokoh kita lihat dia yakin dia benar, tapi dia lakukan sesuatu dia tidak sadar sebetulnya ini permainan orang lain. Dan kita, selalu saya katakan dari ratusan tahun lalu selalu diadu domba," lanjut Prabowo Subianto (13/10).

Mari kita bedah satu per satu pernyataan Prabowo Subianto di atas. Pertama-tama kita harus memperjelas alat kita sebagai pisau analisis untuk membedah pernyataan Prabowo Subianto di atas, alat kita adalah intelektualitas.

Tidak seperti Prabowo Subianto seorang Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, yang memakai "keyakinan" sebagai metode dalam mengidentifikasi gerakan penolakan terhadap disahkannya UU Omnibus Law oleh DPR bersama dengan pemerintah belakangan ini.

Pak Prabowo Subianto yang terhormat! Mana yang lebih kuat antara keyakinan dengan bukti, pak Prabowo Subianto? Pak Prabowo Subianto yang terhormat! Anda tidak perlu menjawab pertanyaan ini, cukup meyakini saja. Selesai, kan? Cukup menyakini saja!

Bukankah keyakinan itu, pak Prabowo Subianto adalah subjektivitas Anda? Lalu, apa indikator Anda, sehingga Anda berani mengatakan bahwa demonstrasi besar-besaran belakangan ini di seluruh Indonesia yang menolak UU Omnibus Law, ada campur tangan asing?

Eh, tapi kan Prabowo Subianto itu kan Menteri Pertahanan, pasti ia tahu dong informasinya? Karena ia ada intelejennya dan ia mendapatkan informasi dari intelejennya tersebut, lalu pak Prabowo Subianto bicara di publik bahwa gerakan penolakan terhadap disahkannya UU Omnibus Law oleh DPR bersama dengan pemerintah belakangan ini ditunggangi, ditunggangi oleh asing, ada campur tangan asing.

Benar-benar ngawur dan diluar akal sehat. Ini benar-benar cacat pikir. 

Prabowo Subianto yang terhormat! Hadirnya UU Omnibus Law atau dibuatkannya UU Omnibus Law di DPR, dan selanjutnya disahkan oleh DPR bersama dengan pemerintah, yang tidak jelas draf final itu, yang "berubah-ubah" itu untuk mengundang investor-investor asing untuk investasi di Indonesia, pak Prabowo Subianto!

Jadi, hadirnya UU Omnibus Law atau di buatnya UU Omnibus Law di DPR itu untuk mengundang investor-investor asing untuk investasi di Indonesia. UU Omnibus Law itu sebagai jembatan asing untuk investasi di Indonesia, menggerogoti alam Indonesia. Bukankah begitu, pak Prabowo Subianto?

Melalui UU Omnibus Law inilah pemerintah Indonesia mengundang investor-investor asing untuk investasi di Indonesia. Alias, mengundang "perampok-perampok asing" untuk merampas hak-hak petani di Indonesia, menindas tenaga-tenaga kerja di Indonesia, dan merampas hak-hak masyarakat adat di Indonesia melalui UU Omnibus Law tersebut. 

Jadi, perampok-perampok asing itu dibolehkan atau dilegalkan oleh UU Omnibus Law untuk merampok di Indonesia, pak Prabowo Subianto!

Ini yang berbahaya pak Prabowo Subianto daripada yang diyakini Anda tadi. Yang terjadi apa? Demonstrasi besar-besaran di seluruh Indonesia menolak UU Omnibus Law, terjadilah konflik horizontal di masyarakat, krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berakibatkan pada krisis politik nasional.

Soal lain, misalnya, Prabowo Subianto meyakini, "...hoax ini berarti ada yang ingin ciptakan kekacauan...". Di sini, Prabowo Subianto benar, harus kita akui bahwa hoax itu akan menciptakan kekacauan di publik. 

Tapi, siapa pak Prabowo Subianto yang menciptakan hoax? Sebutkan saja pak Prabowo Subianto, siapa orangnya? Jangan bermain-main dalam berspekulasi apalagi menuduh orang dengan "rasa" atau "keyakinan". Itu sangat berbahaya dalam tradisi ilmu pengetahuan, pak Prabowo Subianto!

Menurut akal sehat kita, sejauh yang kita pahami selama ini bahwa yang "sangat mungkin" menciptakan hoax itu adalah pemerintah. Karena pemerintah memiliki seluruh alat-alat dan perkakas-perkakas serta perangkat-perangkat untuk menciptakan hoax.

Soal lain, misalnya, Prabowo Subianto, "...kadang, tokoh-tokoh...dia tidak sadar sebetulnya ini permainan orang lain. Dan kita,... dari ratusan tahun lalu diadu domba".

"Tokoh-tokoh" yang dimaksud Prabowo di sini ialah tokoh-tokoh KAMI. Ini pasti, tidak bisa ditolak. Selaras dengan ditangkapnya beberapa tokoh KAMI yang ditangkap oleh pihak kepolisian (13/10). Karena "diduga" menghasut massa aksi yang menolak UU Omnibus Law dengan alasan melanggar UU ITE. Begitu alasan polisi menangkap beberapa tokoh KAMI.

Itu narasi tunggal dari pemerintah yang mendiskreditkan KAMI bahwa KAMI-lah yang menunggangi gerakan, bahwa KAMI-lah yang mensponsori gerakan penolakan UU Omnibus Law.

"Permainan orang lain dan diadu domba" jelas dimaksudkan oleh Prabowo Subianto asing dan tokoh-tokoh tersebut, menurut Prabowo Subianto, diadu domba oleh asing. Itulah sebab ia meyakini gerakan penolakan UU Omnibus Law di seluruh Indonesia ditunggangi oleh asing.

Di sini, Prabowo, hanya melihat orang, tidak melihat sebab. Yang menurutnya, aktor intelektual dari gerakan penolakan terhadap disahkannya UU Omnibus Law oleh DPR bersama dengan pemerintah.

Ia tidak melihat sebab, dibuatnya UU Omnibus Law di DPR dan disahkannya UU Omnibus Law oleh DPR bersama dengan pemerintah mengakibatkan timbul-lah gerakan di seluruh Indonesia menolak UU Omnibus Law. Jadi, begitu pak Prabowo?