Satu hal yang penulis rasakan nyaman berada di Twitter dibandingkan di Instagram adalah (hampir) tidak adanya mereka yang berusaha memanjat sosial. 

Di Instagram, hal itu cukup mudah: pasang foto sana-sini, pasang tagar sana-sini. Gambar yang dipajang terkadang merekayasa suatu kenyataan yang ingin ditampilkan. 

Hidup seseorang mungkin rata-rata saja di dunia nyata. Media sosial memberikan mereka ruang untuk memoles kerataan hidup tersebut dan foto adalah sarana paling mudah untuk melakukannya.

Dengan logika (bodoh) tersebut, penulis mengira rekayasa serupa tidak dapat dilakukan Twitter. Twitter adalah suatu media sosial dengan fokus pada ‘cuitan’ kata-kata yang dibatasi (memang diperbanyak batasannya sekarang, tetapi tetap saja sedikit). 

Menggunakan kata-kata untuk menjadi terkenal dan merekayasa kenyataan tampak merupakan hal yang mustahil. Itu pikir (naif) penulis dahulu.

Belakangan, ternyata Twitter menyediakan fitur untuk membuat ‘utasan’ (thread), yang merangkai cuitan-cuitan dalam suatu garis narasi yang lurus. Pengguna Twitter menjadi mudah untuk bercerita lebih rinci atas suatu hal dan cerita itu pun mudah disimak oleh pengguna-pengguna lain. 

Dari sini, lahirlah “budaya mengutas”, yakni menceritakan pengalaman atau berbagi pengetahuan dalam suatu narasi cuitan bersambung.

Penulis juga sering sekali menyimak utasan-utasan menarik, dari kisah-kisah pengalaman horor hingga gosip-gosip seputar selebriti Korea Selatan. Penulis juga tidak membantah ikut dalam budaya dan beberapa kali membuat utasan-utasan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 

Awalnya ini budaya yang menarik karena kita menyaksikan banyak orang berbagi kisah-kisah yang kadang menjadi hiburan atau mendidik kita melalui media yang mudah dijangkau.

Lama kelamaan, budaya ini menjadi problematis. Seperti halnya gambar-gambar selebgram di Instagram, utasan-utasan Twitter perlahan menjadi sarana panjat sosial. Fokus mereka berubah dari menghibur menjadi mendulang retweet dan like

Bagaimana caranya untuk melakukan hal itu? Rekayasa cerita dan mengarang bebas dengan otoritas keilmuan yang lemah dan kadang seenak perutnya.

Utasan-utasan horor, seperti contoh, awalnya menceritakan pengalaman seram dari si pengguna. Namun, makin hari bermunculan utasan-utasan serupa, namun dengan kualitas yang serupa Creepypasta. Cerita-cerita yang ada kini makin berbau sensasional dan tidak berbeda dengan kualitas isi majalah atau tabloid supranatural yang dulu pernah beredar.

Kemudian, muncullah selebgram versi dunia utasan, yakni para tukang pandir. Mereka adalah tukang-tukang obat dunia Twitter. 

Utasan-utasan yang biasa dibuat bisa dibandingkan dengan iklan-iklan daring penuh clickbait atau judul-judul artikel Tribunnews. Bahasan mereka kadang tentang hal-hal yang berkaitan dengan fantasi, persoalan realitas, ceramah-ceramah keagamaan dengan ilmu ala kadarnya, “fakta-fakta” tersembunyi, dan lain sebagainya.

Tidak salah memang untuk membuat utasan-utasan seperti itu. Media sosial adalah ruang kebebasan, suatu padang pertempuran armageddon, di mana setiap orang bebas melakukan apa yang dikehendakinya. Suka, klik like. Tidak suka, klik heningkan. Benci, komen. Suka-suka setiap pengguna di dalamnya.

Namun, akan menjadi masalah jika tukang-tukang pandir itu berubah menjadi suatu otoritas keilmuan dan merasa diri mereka telah menjadi seperti itu. Utasan-utasan yang menarik akan membuat orang me-retweet dan me-like

Orang-orang itu lama kelamaan akan menjadi terikat dengan para tukang pandir itu, lalu menjadi follower. Si pandir yang bertambah pengikutnya akan merasa dirinya “benar” dan pengikut-pengikutnya akan berpikir serupa.

Berapa banyak sudah tukang pengaruh yang lahir di Twitter? Lumayan banyak. Saking berpengaruhnya, pendapat mereka hampir-hampir selalu dibenarkan. Kutip saja ayat-ayat dari kitab suci untuk kepentingan mereka, tanpa melihat konteks dari ayat tersebut, maka kedudukan mereka akan setara pemuka agama di dunia maya.

Penulis secara pribadi juga pernah berhadapan dengan salah satu tukang pandir tersebut. Dalam satu kesempatan, sang pandir membuat cuitan berbau keagamaan. Temanya tentang mereka “yang open-minded tapi sering membuat guyonan tentang hal-hal keagamaan”. Dikutipnya surat At-Taubah (lebih tepatnya screenshot dari Qur’an daring) bahwa mereka yang melakukan hal itu “tidak akan diampuni”.

Menarik, pikir penulis saat itu. Penulis sendiri pernah diajari oleh guru Pendidikan Agama Islam saat sekolah dulu bahwa Tuhan, dalam agama Islam, itu tidak sepemaaf seperti yang kita kira. 

Memang, konsepsi Tuhan dalam Islam serupa dengan dalam agama Yahudi dan berbeda dengan agama Kristen. Dalam Quran, Allah memiliki batasan dalam ampunan-Nya dan cukup personal dalam menghukum mereka yang ingkar.

Penulis sendiri iseng atas apa yang terjadi jika memancing orang seperti ini dengan komentar yang bernada menyindir, namun sebenarnya mendukung cuitan itu (secara sarkastik memang). Penulis lalu mengutip cuitan itu dengan komentar tersebut yang bernada agak personal terhadap Tuhan. 

Apa yang terjadi? Si pandir berang. “Tuhanku” itu Maha Pengasih, tidak seperti “Tuhanmu” yang pemarah. Begitu kira-kira perkataannya.

Bantahannya itu tentu menggelikan, karena secara tidak langsung mematahkan cuitan awalnya sendiri. Di awal ia mengutip At-Taubah dan memperingatkan bahwa Tuhan “tidak akan memaafkan bagaimana pun mereka yang mengolok-oloknya”. Tetapi, kemudian ia berkata bahwa Tuhan itu “Maha Pengampun”. 

Penulis sejenak merenung, mungkin Tuhan memang Maha Pengampun, yang dalam hal ini masih mengasihi si pandir yang merupakan “alim dadakan” dan menggunakan wahyu-Nya untuk mendulang popularitas.

Itulah yang terjadi pada tukang-tukang pandir yang tidak memiliki referensi yang bagus, yakni buku-buku bacaan, bukannya utasan-utasan lama dari Kaskus atau laman-laman blog daring. Tukang-tukang pandir tidak perlu diskusi atau bertukar pikiran. Mereka cuma perlu pembaca-pembaca setia utasan-utasan mereka. Dengan pengakuan atas utasan-utasan tersebut, mereka akan merasa dihargai.

Penghargaan di media sosial tersebut mungkin sepele bagi banyak orang. Tetapi, untuk para pandir media sosial, pengakuan adalah hal yang penting efikasi dirinya. 

Penulis sering menemui orang-orang seperti itu. Di dunia nyata, ada orang-orang yang merasa dirinya tidak terlalu dihargai atau kurang berprestasi. Mereka lalu akan menggunakan media sosial untuk aktif dalam forum-forum diskusi tentang hal-hal yang diminati.

Ada satu teman penulis yang merasa dirinya tidak terlalu dihargai di dunia nyata. Dalam akademis, ia tidak terlalu gemilang. Ia menggunakan media sosial untuk menunjukkan “kecerdasan”-nya dalam forum-forum diskusi. 

Kecerdasannya bukan terletak pada ilmu yang diutarakan di forum tersebut, namun dari bagaimana ia memanipulasi orang lain untuk percaya bahwa apa yang disampaikannya adalah kebenaran.

Gambaran serupa juga tampak pada pandir-pandir media sosial. Inti dari utasan-utasan atau komentar-komentar mereka bukan terletak pada reliabilitas pendapat mereka. Mereka tidak perlu membaca atau belajar suatu bidang ilmu tertentu. 

Kemampuan untuk menekankan bahwa pendapat mereka adalah kebenaran adalah kuncinya. Mereka akan sangat emosional jika “kebenaran” itu digugat karena sama saja itu mengguncang jati diri daring mereka.

Terlalu banyak individu dengan kemampuan manipulatif berkeliaran di media sosial, termasuk Twitter. Di balik foto-foto profil yang tidak menampilkan diri mereka dan nama-nama pengguna yang bukan nama asli mereka, mereka adalah anonimitas. 

Menjadi anonim akan membuat mereka dapat dengan bebas menggunakan kemampuan manipulasi tersebut. Hal itu memang tidak membuat penulis heran, namun cukup membuat resah secara pribadi.

Ada kekhawatiran penulis bahwa pandir-pandir yang gemar berutas itu memiliki kemampuan mengendalikan sudut pandang orang lain. Akan banyak orang-orang polos yang tertarik ke dalam pengaruh mereka, lalu menjadi bertambah bodoh karenanya. 

Mungkin memang, dalam semesta Twitter yang luas, kita tidak dapat menghindari munculnya bintang-bintang kecil, beberapa stabil dan memberikan kehidupan, beberapa terlalu liar, berbahaya dan lalu menjadi supernova!