Urbanisme melanda kota-kota dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), laju urbanisasi Indonesia tertinggi di Asia mengalahkan Tiongkok dan India. Diprediksi, pada tahun 2035, masyarakat yang tinggal di kawasan urban mencapai 68 persen.

Perkembangan urbanisasi itu menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat. Urbanisasi sejatinya merupakan pertambahan penduduk di wilayah perkotaan, entah karena kelahiran atau perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Faktor yang memengaruhi perpindahan penduduk ke kota bermacam-macam. Beberapa di antaranya, seperti industrialisasi, tidak tersedianya lapangan pekerjaan di desa dan keinginan memperoleh pekerjaan yang layak di kota, faktor daya tarik kota yang megah, fasilitas kota yang memadai, dan lainnya. Hal itu menyebabkan penduduk desa berbondong-bondong datang ke kota.

Kaum urban memiliki gaya hidup yang berbeda dari kehidupan masyarakat desa. Pertemuan berbagai etnis, suku, ras, budaya, dan agama membuat masyarakat kota beragam dan terbuka dengan budaya baru. Pola interaksi sosial masyarakatnya cenderung individualistik.

Kehidupan kota menuntut orang-orang untuk serba cepat dan menghasilkan uang yang banyak. Hubungan sosialnya yang dibangun berdasarkan kepentingan. 

Ciri-ciri lain kehidupan kaum urban adalah mereka melek intenet dan teknologi, gemar nongkrong di tempat hits, dan melakukan hal-hal yang sedang menjadi tren. Perkembangan laju urbanisasi memang membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat, namun juga dampak negatif.

Di balik gaya hidup yang terlihat menawan itu, ada dilema dan dampak negatif yang ditimbulkan urbanisasi, salah satunya kerusakan lingkungan. Pemanasan global, pencemaran laut, pembangunan kota yang tidak ramah lingkungan, dan pengolahan sampah yang salah adalah isu yang harus menjadi perhatian.

Baru-baru ini, aktor sekaligus pencinta lingkungan Leonardo DiCaprio menyoroti masalah penumpukan sampah di Bantar Gebang yang tidak terkelola dengan baik. Ia menuliskan keprihatinannya di akun Instagram miliknya. Leo menuliskan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dalam penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah Tiongkok.

Menurut data Badan Pusat Statistis (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan sebanyak 3,2 juta ton dibuang ke laut. Hanya sekitar 10 sampai 15 persen sampah plastik yang didaur ulang, sisanya tidak dikelola. Hal itu menyebabkan 63 persen laut di Indonesia tercemar sampah (data Divers Clean Actions). 

Bocornya sampah ke laut itu menyebabkan tumbuhan dan hewan laut yang merasakan dampaknya. Seperti kasus ikan paus di Wakatobi yang meninggal terdampar di pantai, dalam perutnya ditemukan 5,9 kg sampah plastik dan kasus terumbu karang yang mati.

Berkaca pada Urbanisasi Jakarta

Jakarta, kota besar dengan segala yang gemerlap, menghasilkan sekitar 7.400 ton sampah setiap hari, 1.900-2.400 ton di antaranya adalah sampah plastik. Sampah itu dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Namun, kemampuan Bantar Gebang dalam menampung sampah tinggal 4 tahun lagi. 

Bantar gebang dapat menampung 49 juta ton sampah, sekarang sudah 39 juta ton sampah dari Jakarta yang ditampung (data tahun 2018). Sebagian besar sampah di sana hanya ditimbun dan tidak dikelola.

Akibat pengelolaan sampah yang tidak tepat itu mengakibatkan pencemaran lingkungan. Penimbunan sampah dari Jakarta membuat warga di sekitar Bantar Gebang merasakan imbasnya. Mereka mengeluhkan air sumur menjadi tercemar, air sungai kotor, udara menjadi bau, dan masalah kesehatan lainnya.

Tidak hanya masalah sampah dan kerusakan lingkungan yang menjadi masalah di kota-kota besar, tetapi juga kemacetan, banjir, dan polusi udara. Urbanisasi membuat orang berbondong-bondong pindah ke kota. Kepadatan penduduk pun meningkat. Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan yang naik membuat semua orang bersaing agar dapat bertahan hidup.

Orang yang memiliki penghasilan tinggi tentu mempunyai kehidupan yang lebih layak dari pada yang tidak. Mereka dapat menjangkau harga rumah yang terus naik, harga bahan pokok yang semakin mahal, dan kebutuhan lainnya. 

Namun, tidak semua kaum urban seberuntung itu. Banyak dari mereka tinggal di kawasan kumuh seperti kolong jembatan, bantaran kali, dan pinggiran rel kereta api. Hal itu membuat pembangunan kota tidak tertata dengan baik.

Kepadatan penduduk juga mengakibatkan kemacetan dan munculnya daerah kumuh di tepi sungai. Sungai menjadi sempit dan banyak sampah. Akibatnya, banjir saat hujan. Hilangnya ruang terbuka hijau dan ruang publik membuat masalah polusi udara.

Perkembangan urbanisasi dan gaya hidup urbanisme, jika dibiarkan, akan menyebabkan masalah yang lebih besar. Perlu upaya dan tindakan yang konkret dari pemerintah maupun masyarakat. Di kota besar seperti New York, Paris, Barcelona, dan Busan, pemerintah mulai menggalakkan New Urbanism untuk pembangunan berkelanjutan.

New Urbanism adalah konsep untuk meresponss situasi pembangunan ekonomi global yang tidak berhasil memenuhi kebutuhan zaman dengan ditandai oleh memburuknya kualitas lingkungan, minimnya ruang terbuka publik, dan munculnya daerah kumuh di kalangan masyarakat miskin.