Kertas adalah sebuah benda yang tak asing lagi ditelinga manusia saat ini, Peranan kertas dalam kehidupan sehari-hari seakan tak dapat dipisahkan bagi setiap individual, corporate, maupun civil society yang ada dilingkungan masyarakat kelas atas maupun menengah kebawah.

Kertas merupakan sebuah benda dibuat dari bahan dasar kayu yang berbentuk lembaran-lembaran tipis atau tebal setelah melalui proses yang cukup panjang sehingga menghasilkan bentuk akhir yang dapat digunakan. Sedangkan Hutan menurut Arief (1994), bahwa hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatangyang hidup dalam lapisan dan dipermukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan yang dinamis.

Di Indonesia sendiri pada umumnya kertas dibuat berdasarkan jenis kayu seperti akasia yang mempunyai serat yang pendek dan rapuh sehingga mudah diolah menjadi sebuah kertas dan untuk menguatkan kertas tersebut biasanya dicampur menggunakan kayu pinus yang mempunyai serat yang panjang. Bahan-bahan baku pembuatan kertas yang sering digunakan diantaranya : Kayu, bambu, Papirus, dan Kulit Binatang (Sumber : Berwirausaha.net)

Era milenial saat ini, Ketika kecanggihan teknologi semakin berkembang pesat, Kertas tidak lagi hanya sebatas menulis namun telah memiliki multifungsi dalam kehidupan sehari-hari seperti pengemasan barang, tisu, dan sebagai media lukis sehingga permintaan dan konsumsi kebutuhan akan kertas tiap tahunnya semakin meningkat.

Penggunaan Kertas secara Berlebihan

Penelusuran penulis dari berbagai sumber bahwa ekspor kertas mengalami kenaikan sebesar 9,76 % sepanjang januari-oktober 2017 seperti yang dituturkan oleh ketua umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Arya Warga bahwa permintaan kertas juga mengalami peningkatan seiring dengan kebutuhan dunia yang tumbuh pesat, terutama kertas karton untuk kemasan.

Walaupun permintaan kertas untuk penerbitan saat ini stagnan dan kertas Koran yang menurun, disisi lain kertas kemasan dan tissue mengalami pertumbuhan yang masih baik. (sumber : Bisnis.com).

PT. Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk. yang merupakan salah satu produsen kertas dalam penjualannya mengalami lonjakan sebesar 342,77 % year-on-year menjadi Rp. 64,38 Miliar pada kuartal I/2017. berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan selasa (11/17), Penjualan KBRI meningkat dibandingkan capaian kuartal I/2016 yang tercatat sebesar Rp. 14,54 Miliar (Sumber : Bisnis.com)

Kapasitas produksi kertas pada 2017 juga diprediksi meningkat menjadi 17 juta ton atau naik 22,3 % ketimbang 2013 yang sebanyak 13,9 juta ton. Tahun lalu, Volume Ekspor pulp mencapai 3,1 juta ton dan kertas sebanyak 4,2 juta ton. (Sumber : Kemenperin.go.id)

Sedangkan pada tahun 2016, perusahaan kertas milik grup Sinarmas Asia and Paper (APP) melakukan pertemuan tahunan bersama dengan 60 rekanan distributor dari seluruh Indonesia salah satunya PT. Cakrawala Mega Industri melalui direktur PT. CMI, Lina Lim meyakini potensi Usaha berbasis kertas di Indonesia akan terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia.

Dimana daya beli masyarakat akan memicu pertumbuhan permintaan kertas. Sebagai contoh, pertumbuhan Industri makanan akan memicu kebutuhan akan perlunya wadah kemasan makan yang foodgrade. (Sumber : cnnindonesia.com)

Dari beberapa fenomena yang ada, menurut penulis bahwa permintaan terhadap kertas semakin meningkat tiap tahunnya yang mengakibatkan kapasitas produksi yang besar pula guna untuk mengatasi kebutuhan dan permintaan konsumen sehingga memerlukan volume bahan baku yang lebih besar agar pasokan bahan baku tetap tesedia untuk proses produksi.

Berangkat dari fenomena tersebut, maka untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan produksi kertas maka diperlukan usahasalah satunya ialah ekspansi dan pembuatan pabrik baru yang pada ketentuannya akan membutuhkan pasokan kayu yang sangat banyak sesuai dengan kapasitas produksinya.

Tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan kertas secara berlebihan turut serta ikut mendukung kerusakan hutan. Peningkatan kebutuhan kertas dan tisu tentunya akan membawa dampak terhadap peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan bahan tambahan lainnya.

Untuk memproduksi dua pack tissue yang berisi 40 sheet membutuhkan satu batang pohon berusia enam tahun dan untuk menghasilkan satu rim kertas diperlukan satu  batang pohon berusia lima tahun padahal kita ketahui sendiri satu pohon dapat mengeluarkan oksigen yang membuat hidup sekitar kurang lebih dua orang.

Pada tahun 2014 Indonesia sudah kehilangan sekitar 72 % hutan aslinya dan jika hutan terus dibabat, Kesimbangan ekosistem akan kacau dan menyebabkan global warming. Kebutuhan kertas nasional sendiri sebesar 5,6 juta ton pertahunnya sehingga untuk membuatnya diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah besar dikhawatirkan apabila industri-industri kertas melalui Hutan Tanaman Industrinya (HTI) tak mampu menyediakan hal tersebut maka akan berekspansi merambah hutan untuk menebang kayu alam guna memenuhi kebutuhan pasokan.

Menurut kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengatakan  bahwa walaupun ada peningkatan media online, pada kenyataannya tidak akan menghambat perkembangan industri pulp dan kertas karena penduduk dunia diproyeksikan menjadi Sembilan miliar orang pada tahun 2050 dan hampir 60 % - 70 % berada di Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk  berbagai keperluannya (Sumber : Kemenperin.go.id)

Hasil survei yang dilakukan oleh Spire Research terhadap 100 perusahaan Indonesia dibulan Maret 2008 menyebutkan bahwa 40 % dari perusahaan yang disurvei memberikan indikasi atas peningkatan konsumsi kertas dalam dua tahun terakhir. Hanya 20 % yang menyebutkan penurunan konsumsi kertas dikantor, sedangkan 40 % lainnya menyebutkan tidak terjadi perubahan konsumsi kertas yang signifikan. Mayoritas (53,3%) perusahaan di sektor finansial, Asuransi, Real estate adalah perusahaan dimana konsumsi kertas meningkat dalam dua tahun terakhir.

Dari data tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang penggunaan kertas yang relatif tinggi di Indonesia, belum lagi penggunaan yang berasal diluar perusahaan sehingga dapat dikategorikan sebagai penggunaan yang berlebihan.

Disatu sisi memberikan keuntungan tersendiri khususnya bagi keberlangsungan kehidupan industri pulp dan kertas namun disatu sisi lain memberikan sebuah ancaman nyata terhadap lingkungan dan hutan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Kondisi Hutan Indonesia

Berdasarkan Analisis Interpretasi tutupan hutan alam yang dilakukan oleh FWI, Sampai tahun 2013 luas tutupan hutan alam hanya tinggal 82 juta hektare atau sekitar 46% dari luas daratan Indonesia dan 62,6% dari total luas kawasan hutan. Pada tahun 2007, Food and Agriculture Organization (FAO) melalui buku laporan State of the World’s Forest menyatakan bahwa laju kerusakan hutan Indonesia telah mencapai 1,87 juta hektare dalam kurun waktu 2000-2005.

Keadaan ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-2 dari sepuluh negara dengan laju kerusakan tertinggi dunia tahun 2005. Pada tahun 2011, FWI melalui Laporan Potret keadaan Hutan Indonesia periode 2000-2009 menjelaskan bahwa laju kerusakan hutan masih tergolong tinggi, yaitu masih sekitar 1,5 juta hektare dalam kurun waktu 2000-2009.

Penyebab deforestasi atau pengawahutanan/penghilangan/penggundulan hutan oleh FWI dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu penyebab langsung (Direct Causes) dan tak langsung (Underlying Causes/Indirect Causes). Penyebab langsung dari kerusakan hutan dan deforestasi dikarenakan antara lain konversi hutan alam menjadi tanaman tahunan dan konversi hutan menjadi lahan pertanian.

Perubahan peruntukan lahan hutan dan ekosistem gambut untuk ekspansi HTI dan kebun serta alih fungsi bagi areal tambang merupakan kontributor dominan penymbang deforestasi. (Sumber : Media Informasi seputar hutan Indonesia, 02/2015).

Penggunaan Kertas secara berlebihan bukanlah satu-satunya penyebab dari kerusakan hutan, melainkan banyak faktor yang ikut turut serta dalam menyumbang kerusakan hutan seperti eksplorasi dan eksploitasi industri ekstraktif pada kawasan hutan (batubara, migas, geothermal) serta pembakaran hutan dan lahan.

Untuk itulah diperlukan upaya dari berbagai pihak baik itu pemerintah selaku pengambil kebijakan, Perusahaan selaku pengelola, dan Masyarakat sebagai penerima dampak dari hal yang dapat ditimbulkan baik itu bersifat positif maupun negatif untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan itu sendiri demi hidup dan kehidupan dimasa mendatang sehingga dibutuhkan tindakan yang tepat dari semua pihak yang berkepentingan dalam mengatasi terhadap ketergantungan akan penggunaan kertas yang berlebihan serta perusakan hutan demi mencapai kebutuhan tersebut.

Peran Pemerintah, Corporate, dan Masyarakat dalam Upaya Pelestarian Hutan

Pemerintah sebagai pengambil kebijakan mempunyai tanggung jawab besar dalam upaya mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang telah dilakukan pemerintah antara lain : Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, Tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Memberlakukan Peraturan pemerintah RI No. 24 tahun 1986 tentang AMDAL.

Disisi lain pemerintah juga mencanangkan program gerakan menanam sejuta pohon dan mengajak perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan dan SDA untuk ikut  serta menjaga Sumber daya alam yang ada, dengan mendorong mereka melakukan Corporate Social Resposibility (CSR) sebagai bentuk tanggung jawab terhadap eksploitasi SDA yang dilakukan, dengan membuat UU perihal kewajiban perusahaan melakukan CSR.

Pada bulan februari 2013 yang lalu, Asia Pulp & Paper (APP), divisi industri milik Sinarmas Group menetapkan kebijakan konservasi hutan yang berkomitmen untuk melindungi hutan dan lahan gambut, menghindari sumber serat yang dihasilkan melalui stop deforestasi di hutan alam, dan memberlakukan syarat persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (Free and Prior Inform Consent) Kebijakan jangka panjang yang mulai berlaku 01/02/2013 itu berlaku untuk semua operasi kehutanan APP termasuk para pemasoknya.

Tak mau kalah dengan rivalnya dalam industry Pulp dan kertas, PT. Riau Andalan Pulp dan Paper - RAPP (April Group) mendapat konsesi lahan hutan seluas satu juta hektare namun melalui sebuah kebijakan pada tanggal 28 januari 2014 dengan memberikan 480.000 hektare untuk komitmen pelestarian hutan dan pada tahun 2015 sedikitnya 250.000 hektare telah dilestarikan.

Kebijakan ini memasukkan kerangka kerja keberlanjutan (Suistainability Framework) dari Royal Golden Eagle (RGE). Tujuan APRIL dalam program keberlanjutan jangka panjang adalah untuk membangun Hutan Tanaman Industri (HTI) berkelanjutan yang dapat memberikan pasokan kayu untuk industri kayunya.

Secara Umum, Partisipasi masyarakat dalam pelestarian setidaknya menunjuk pada dua arah, pertama, Pengawasan terhadap berbagai tindakan pengrusakan hutan. Peran masyarakat dalam pengawasan ini diarahkan untuk mencgah tindakan yang dapat merusak hutan. Kedua, Pengelolaan hutan dan sumberdayanya.

Masyarakat Indonesia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian hutan. Berbagai bentuk kegiatan Konservasi Hutan, Penanaman jutaan pohon, serta konstruksi kearifan lokal masyarakat sekitar hutan menjadi bukti nyata dari hal tersebut.

Selain itu, Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka melestarikan hutan diantaranya ialah : Melakukan Reboisasi, Menerapkan sistem tebang pilih, Menerapkan sistem tebang tanam, Melakukan penebangan secara konservatif, dan Mengurangi penggunaan kertas secara berlebihan.

Sebagai penutup dari uraian diatas, Penulis berkesimpulan bahwa Hutan sebagai ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya.

Hutan sebagai paru-paru dunia dan bumi ini bergantung pada hutan sebagai suhu bumi agar tetap stabil jika hutan habis maka suhu bumi menjadi tidak stabil sehingga kerusakan ekosistem yang lain akan berpengaruh, Stake Holder harus tahu hal itu dan sejak dini anak-anak dan remaja ikut serta menjaga lingkungan dan mengembangkan serta melakukan evaluasi secara kontinu terhadap penggunaan kertas dan pelestarian hutan tiap tahunnya dengan tidak menggunakan kertas secara berlebihan sehingga konsumsi kertas tetap berjalan dan hutan sebagai pemasok bahan baku utama dapat aman dari kerusakan yang ditimbulkan.