Sekarang ini Agama hadir sebagai isu yang sangat sensitif, Agama dan budaya sepertinya adalah fenomena manusia yang mencirikan sebuah perlakuan manusia itu sendiri. Selain dengan ketuhanan, agama dan budaya selalu berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan.

Namun, terkadang manusia sering membeda-bedakan antara sesama padahal nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri haruslah tanpa batas. pada dasarnya semua agama selalu berbicara tentang kemanusiaan yang saling berbagi untuk mereka yang membutuhkan. Serta yang berlebih pada yang berkekurangan. bahkan yang berkekurangan pun haruslah berbagi demi suara hatinya.

Ketika rasa kemanusiaan hadir menjadi sifat manusia yang paling alami  maka tidak akan ada pertanyaan, siapa yang akan  menerima dan apa yang dibagikan. Karena semata-mata demi panggilan nurani dan demi memuliakan sang maha yang telah memberikan nafas kehidupan.Tidak sepantasnya kita mengkotak-kotakkan atau berpandangan saling sinis hanya karena subyektivitas semata, serta pemahaman sempit tentang agama dan golongan

Karena hal itu akan membatasi tindakan dan perilaku kita sebagai manusia seutuhnya. Kita sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan interaksi satu sama lain dimana agama bukanlah pijakan untuk saling memisahkan manusia berdasarkan sebuah golongan tertentu. Agama adalah sarana spiritualitas kita untuk meningkatankan keimanan kita bahkan ketika saudara-saudara kita tertimpa bencana.

Baru-baru ini Indonesia kembali diguncang gempa dengan kekuatan yang cukup besar. Jika sebelumnya adalah Lombok, kini Palu dan Donggala yang terguncang oleh gempa besar dan juga tsunami. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang hingga menyebabkan jalan-jalan hancur dan rusak, bangunan-bangunan roboh dan porak poranda, dan banyak memakan korban jiwa.

Berdasarkan data yang diperoleh dati tim ACT dan BNPB, lebih dari 1200 orang meninggal dalam musibah ini. 600 orang luka-luka dan masih banyak korban hilang, listrik pun padam, tidak adanya jaringan komunikasi. Palu dan Donggala seketika itu juga gelap gulita. Diperkirakan titik pusat gempa berada pada jarak 11 km palu dan 26 km laut Donggala.

Ketua Ikatan Geologi Indonesia (IAGI) menyatakan bahwa, ketiga lempeng utama bergerak dan saling bertabrakan, energy dapat berkumpul dibeberapa titik, hingga membentuk patahan-patahan dan tekanan. Apabila salah satu titik tidak kuat lagi menahan energinya maka terjadilah gempa bumi seperti yang terjadi di Palu dan Donggala.

Jika di Lombok ada sesar flores, maka di Sulawesi juga ada beberapa sesar, yaitu sesar Palu-Koro, sesar Matano, sesar Gorontalo, sesar Walanae, sesar Batui,dan terakhir  sesar Poso. Dari berbagai macam sesar yang ada di Sulawesi, sesar Palu-Koro adalah satu di antara 4 sesar yang paling besar di Sulawesi bahkan paling aktif dari seluruh sesar di Indonesia.

Posisi sesar Palu-Koro berada di bawah wilayah Sulawesi Tengah, secara geologi membujur dari Laut Sulawesi kota Palu, sampai Teluk Bone. Perkiraan panjangnya 500 km dari bagian Utara ke Selatan. Jika melihat dari kedalaman titik pusat gempanya, maka gempa bumi yang mengguncang Palu dan Donggala ini menyebabkan adanya aktivitas sesar aktif pada zona Sesar Palu-Koro. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala BMKG, Dwikora Karnawati pada saat siaran pers BMKG.

Setiap tahunnya, sesar Palu-Koro ini diperkirakan bergerak 7 cm. Dengan bergeser dan bergeraknya sesar itu, maka dampak yang dihasilkan adalah getaran dan patahan pada bagian bumi. Apalagi jika proses tumbukan 3 lempeng sedang berlangsung, getaran yang dihasilkan cukup membuat porak-poranda pulau-pulau yang berada di wilayah itu sendiri.

Hebatnya kekuatan alam yang dapat menghancurkan dan meluluh lantahkan kehidupan. Padahal alamlah yang sehari-harinya sebagai sahabat kita dengan mudahnya berkembang sebagai monster yang meneror dan memangsa ratusan ribu orang.

 Bayangkan saja Jumlah korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah telah mencapai 1.649 orang. Ini adalah jumlah yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 6 Oktober 2018, Sebanyak 1.649 korban meninggal itu rinciannya di Donggala 159 orang, Palu 1.413 orang, Sigi 64 orang, Parigi Moutong 12 orang, Pasang Kayu, Sulawesi Barat 1 orang. Sementara korban luka berat mencapai 2.549 orang yang saat ini dirawat di rumah sakit. Sedangkan korban hilang 265 orang. Korban tertimbun ada 152 orang.

Kejadian ini tentu saja membuat semua orang terpanggil untuk saling bahu membahu membantu korban bencana, diantaranya sosok laskar yang memakai baju putih-putih bertuliskan FPI dipundaknya. walaupun terkadang nama FPI selalu dinilai buruk Namun kali ini tindakan mereka terdepan untuk membantu saudara-saudara mereka yang terkena musibah. Menurut penuturan korban selamat

“Saya warga palu, Kristen. saya malu banyak saudara saya yang telah ikut-ikut menjelekan FPI. Ketika bencana datang sore itu semua panik, semua torang hanya berlomba-lomba menyelamatkan diri sendiri. Malamnya suasana sangat mencekam, tada listrik, tada makan, tapi subuh-subuh baju putih-putih sudah turun mbantu, orang FPI yang paling dulu cari korban, beri obat, makan. Rumahku hancur mereka pagi datang bawa air, roti dan perban mereka tak peduli rumahku ada salip kristus, mereka telah hibur kami walau dengan senyum. saya malu telah ikut like status teman-teman yang sesuka hati jelek-jelekkan FPI. Maafkan mereka yang tak tahu, ketika bencana datang barula kita tahu mana yang benar-benar basodara.

Menanggapi hal ini, juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FPI Slamet Maarif mengatakan, sejak awal pasca gempa dan tsunami di Palu serta Donggala, FPI wilayah Sulawesi Tengah langsung bergerak ke lokasi kejadian.

Puluhan laskar FPI di Palu yang dipimpin Ustaz Sugiarto sudah bergerak dari awal kejadian sebelum relawan lain turun,” kata Slamet, sebagaimana dilansir Viva.co.id. Namun tetap saja panggilan kemanusiaan itu sempat viral karena dikatakan hoax.

Namun, Hal itu tidak pernah menyurutkan laskar putih-putih itu untuk tetap membantu sesama. Seharusnya kita tidak boleh mempersoalkan perbedaan. terlebih adanya isu dengan menciptakan hoax-hoax yang tidak ada manfaatnya. perbedaan agama akan membuat kita mengerti dan saling peduli antar sesama. Adanya perbedaan itu, justru akan memperkuat keberagaman itu sendiri. karena semua orang bisa tumbuh dengan sikap saling  toleransi.

Bencana ini merupakan derita yang telah membangkitkan kesetikawanan kita, kepedulian kita sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Pergerakan yang sangat luar biasa tanpa membedakan agama maupun suku. Semua terpanggil untuk melakukan yang terbaik.

 Karena kita pasti merasakan tantangan-tantangan yang ada di kawasan bencana seperti kesulitan air, padamnya listrik, rusaknya rumah sakit, belom adanya tenda dan peleton. Serta belum lagi kepedulian mereka terhadap korban yang rentan dengan stress bahkan trauma, Para Rescue ini tentu saja haruslah berusaha menghibur para korban atau bahkan pekerja lapangan yang ada di wilayah itu. Jadi, seharusnya kita mulai bersatu padu, Saling membantu tanpa menjelekkan golongan lain.