Ideologi radikal di Indonesia kini telah mencapai titik kulminasi yang mengkhawatirkan, bahkan ideologi radikali ini telah masuk dalam sendi-sendi masyarakat pedesaan. Pemberitaan tentang jihad di media massa telah menggerakkan hati dan naluri masyarakat pedesaan untuk ikut ambil bagian dalam misi jihad membela agama. 

Semakin kencangnya jargon “isy kariman au mut syahidan” (hidup mulia atau mati syahid) juga memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat pedesaan untuk memiliki cita-cita mati syahid. Keadaan ini semakin memperburuk citra islam sebagai agama rahmatan lil alamin serta semakin mengkhawatirkan baik bagi keutuhan agama islam juga bagi keutuhan Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian. 

Ideolologi radikal bukanlah suatu hal baru dalam agama islam, tapi ideologi ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.  Tepatnya, ideology ini semakin progresif dan mulai menampakkan diri saat masa Khulafa’ ar-Rosyidin. Sebut saja pada masa khalifah ‘Ali bin Abi Thalib berkuasa, ideologi radikal ini telah menjadi suatu gerakan yang bernama Khawarij’. Siapakah khawarij’ itu? 

Khawarij’ adalah orang-orang yang bagus ibadahnya, hafal al-Qur’an tetapi mereka selalu bersikap tidak terpuji pada orang islam yang berbeda dengan mereka dalam memaknai teks, mereka cenderung dengan mudah mengkafir-kafirkan saudara sesama islam bahkan menghalalkan darah orang islam yang berbeda pemahaman keislamannya dengan mereka. Ideology radikal model khawarij’  kini telah menjelma menjadi gerakan  radikalisme yang mengatas-namakan gerakan membela agama islam dengan menghalalkan segala cara. Bahkan disamping gerakan jihad juga gerakan untuk mendirikan negara dengan menggunakan sistem pemerintahan islam yang dikenal dengan “khilafah”.

 Dalam hal ini masyarakat pedesaan merasa dibutakan dengan narasi-narasi yang digaungkan oleh gerakan ini, bahkan masyarakat pedesaan cenderung mendukung narasi ini. Karena narasi yang mereka terima seakan sangatlah ideal bagi keadaan mereka saat ini. 

Dalam struktur social, masyarakat pedesaan masuk dalam kategori abangan, karena masyarakat pedesaan identik dengan petani (Clifford Geerz, 1960) yang dapat disimpulkan bahwa keadaan masyarakat pedesaan umumnya kurang akan pengetahuan tentang keagamaan secara mendalam, maka akan dengan mudah menerima dan merespon narasi-narasi yang digaungkan oleh gerakan radikal ini. Lebih-lebih jika masyarakat pedesaan itu adalah seorang beragama islam yang taat tetapi belum memahami hakikat islam yang sesungguhnya, maka akan dengan mudah ideologi radikal ini merongrong dirinya.

Peran Penyuluhan Agama Islam

Penyuluhan agama adalah salah satu program kerja Kemetrian Agama yang dilaksanakan oleh ditjen Bimas dalam rangka memberikan pembinaan keagamaan pada masyarakat mengenai prinsip-prinsip dan etika keberagamaan yang baik. Secara garis besar, penyuluhan agama menempati posisi sentral dalam dinamika keagamaan masyarakat, khususnya masyarkat pedesaan yang masih sangat kurang akan informasi keagamaan. Penyuluhan agama islam kini tidak hanya berfokus pada pengajaran nilai-nilai keislaman semata, tetapi lebih melebarkan sayap terhadap isu-isu dan narasi-narasi yang mengatas-namakan keagamaan, seperti narasi pendirian negara islam di Indonesia yang digaungkan oleh kelompok/gerakan ekstrem radikal.

 Berkaitan dengan permasalahan tersebut, terdapat upaya-upaya yang ditawarkan oleh penyuluh (orang yang memberikan penyuluhan) agama islam dengan memberikan pembinaan intensif yang mengedepankan bagaimana cara meng-counter narasi yang sebelaumnya telah digaungkan oleh kelompok gerakan radikal ini dengan menggunakan narasi yang menyejukkan, menentramkan juga dapat memperkuat tali persatuan dan kesatuan Indonesia. Sebab narasi yang telah digaungkan oleh kelompk gerakan radikal ini cenderung pada perpecahan, permusuhan, bahkan kehancuran bagi negara kesatuan Indonesia yang kita cintai ini. 

Diharapkan dengan strategi dalam penyuluhan agama dapat menjadikan masyarakat pedesaan yang abangan ini  merasa kehidupan beragamanya lebih sempurna dengan menjadikan agama islam ini sebagai pemelihara negara Indonesia bukan sebagai penghancur negara Indonesia, seperti kaidah fiqhiyyah yang kita pegangi; “ Dar’u, al- Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbi al-Masholih” (menghindarkan kerusakan harus lebih didahulukan dibandingkan mendatangkan kebaikan).

Karena patut diingat bahwa pendirian negara Indonesia ini pun tidak bisa lepas dari peran para agamawan khususnya ulama’ yang menempati posisi sentral. Maka setiap upaya deradikalisasi yang dilakukan dalam penyuluhan agama ini adalah salah satu implementasi dari dasar-dasar yang sudah ditanamkan oleh para ulama’ terdahulu untuk kejayaan islam dan Indonesia, sehingga penolakan terhadap gerakan radikal dengan narasinya mendirikan negara islam haruslah ditolak sebab pancasila sebagai dasar negara sudah sangat islami, seperti jargon yang saat ini sedang hangat; cinta tanah air adalah sebagian dari iman.