Some go to church and think about fishing, others go fishing and think about God. (Tony Blake)

Sudahlah, kupasrahkan saja raga pada lautan. Setelah berharap sesuatu menahan, menarik apa saja bagian dariku. Tak ada. Kecuali ombak bertenaga. 

Samar perahu terbalik itu berkilau menjauh tanpa pamit. Sementara, kutergulung, meluncur, mengapung, terengah, menggapai, tercabik, terhempas setengah ke dasar. Mungkin ke palung. Atau ke mana.

Esoknya, beberapa perahu milik teman sesama nelayan, juga tetua tampak sibuk di permukaan. Aku yang lumpuh, melalui riak, buih-buih, dan gelombang, berpusar sekuat tenaga mengirim tanda. Isyarat yang sia-sia.

Debu-debu menggeliat tergilas ban, tertempa panas siang. Jalan ke Kedonganan yang sempit dihadang pos retribusi. 

Ini pulau destinasi wisata dunia, semua menduga di sini tak ada yang tak mahal. Padahal di pusat kota ada nasi jenggo, kuliner khas dikemas daun pisang sebagai menu sarapan. Soal harga, shockingly murah. Jenggo dari bahasa Hokkien ceng go berarti seribu lima ratus.

Lalu, kami ke sini. Ke Pasar Ikan Kedonganan yang juga direkomendasikan karena harganya yang jauh terjangkau. 

Kami blusukan memegang ikan bawal segar, membaui kakap merah atau baronang, menggamit kepiting, udang, cumi, dan kerang. Usai becek-becekan, kami raup hewan-hewan laut itu ke warung jasa bakar ikan yang berderet tujuh di tepi pantai.

Adalah Bli Midun yang memandu kami ke sini. Di sela profesinya sebagai nelayan, ia pun melayani jasa antarturis hingga Uluwatu dengan perahu. Paket wisata yang ia namai sunset trip

Kami menganga dengan deskripsi Bli Midun yang meyakinkan. Adakah yang tak tergoda bersemuka dengan matahari mencelupkan diri menembaga pelan di barat Kedonganan. Di Juli yang bersih.

Tetapi, Juli pun bulan di mana perairan selatan Jawa tengah pasang. Ini semacam mengadili diri sendiri lebih keras. Sahabat sesama nelayan telah mengingatkan: musim sedang tak mesra untuk melaut. Gerak angin ada mengantarkan riak ke ketinggian. Aplikasi BMKG merilis potensi gelombang mungkin terjadi di pesisir selatan Bali.

Dan kini, bukan takdir yang membuat nelayan bujang tampak murung di relung. Ia tak bisa lagi suka cita bersama teman-temannya melakukan mabuug-buugan. Adat-istiadat di desa nelayan yang belum lama kembali dihidupkan. Tradisi yang bagian prosesi pembersihan diri. Meski, buug sendiri berarti lumpur.

Dalam mabuug-buugan ia dan teman-temannya hanya berbalut gulungan sarung. Kemudian saling lempar dan mengoleskan lumpur ke badan sesamanya. Kata pemangku mabuug-buugan di desanya telah ada sejak 1920-an. Tapi saat meletus kerusuhan yang mengerikan di era-1965, tradisi itu memilih mati diam-diam.

Nelayan bujang diam. Ia telah menjadi bagian ikan-ikan paham hidup di dasar laut bukanlah malapetaka, setidaknya sampai tergoda umpan mata kail atau bermain dekat jala-jala sialan. Ia tatap mata teman-teman barunya yang bersinar riang. Ia ingat betapa girangnya saat mendapatkan mereka meronta-ronta terjebak di jaringnya.

Sebenarnya Bli Midun tidak menganjurkan. Tapi saat ia tahu kami harus bergegas ke Banyuwangi di sore hari, ia mengiyakan. Dan di tengah siang, tergerak oleh tarikan keingintahuan sekaligus sedikit keangkuhan, kami teguhkan hati pergi memecah ombak. Melalui jalur Kedonganan berperahu menuju Pura Uluwatu melewati Batu Layah dan Balangan.

Kita membutuhkan pengalaman lebih agar bisa bereinkarnasi beberapa kali. Seorang teman terdengar sembarangan. Tentu ia menolak dibilang congkak. Baginya hanya senang jika segala tentangnya diprioritaskan. Kita tak akan pernah menemukan samudra baru, hingga berani meninggalkan pelabuhan. Suaranya lagi.

Kami menatap pemilik perahu. Meminta penjelasan. Ternyata Bli Midun sendiri tak ikut serta bersama kami. Ia menyerahkan nasib kami pada nelayan tua yang akhirnya kami tahu pendengarannya sedikit terganggu. Seorang teman ragu dengan keputusan ini. Apalagi saat perahu dengan sangat tidak nyaman mulai bergoyang.

Benarlah isyarat alam. Belumlah kami sampai di Pantai Padang Padang, ombak tinggi terasa menghantam. Jantung-jantung mulai berguncangan. Dengan bahasa isyarat semampunya, pada nelayan tua kami meminta perjalanan dibatalkan. Tentu setelah kerja keras meyakinkan teman lain jika ini diteruskan. Perahu yang beberapa meter dari Pantai Balangan berputar balik ke Jimbaran.

Perjalanan yang tak lebih setengah jam menyisakan kuyup dan caci-maki. Entah pada siapa. Beberapa saat ketika kami rehat di tembok pencegah ombak, dengan cara yang khas nelayan tua menjelaskan: dua hari lalu seorang nelayan hilang, hingga sekarang belum ditemukan. Ia mengira kami tim dari Jakarta yang bertugas mencari jejak nelayan malang itu. Mendengarnya kami saling tatap.

Saat ujung siang mulai datang, kami serukan selamat tinggal pada Kedonganan. Kemudian membuat jarak untuk melesat ke barat laut menuju Dermaga Gilimanuk. Saat gelap hinggap, kami rasakan jejak Kedonganan masih ikut bergelombang.

Di langit cahaya gemintang menunjukkan, nun di samudra sana seorang nelayan bujang bersyair: Aku nelayan di atas sampan, memilih kesendirian, memahami roh ayah yang menyertai, ketika badai, ketika gelombang, ketika taufan, memberi salam. Adalah keriangan di rumah ayah. 

Ikan baronang, kakap merah, kepiting, udang, cumi, dan semua hewan laut yang mengitarinya, di antara mereka tak ada yang tidak menyunggingkan senyum menang.

Ref: Aku Nelayan di Atas Sampan