Hari ini saya berduka atas berita kematian Melinda Zidemi, seorang calon pendeta perempuan muda dari Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) di Sungai Baung, Ogang Komering Ilir, Sumatra Selatan pada hari Senin, 25 Maret kemarin. Korban disebut diperkosa sebelum kemudian dibunuh oleh dua orang yang mengenakan pakaian bak ninja.

Rasa duka yang dalam mendera hati dan pikiran saya, oleh sebab saya berdiri dalam situasi yang sama dengan korban, sebagai seorang calon pendeta perempuan muda yang bertugas di pelosok pedalaman negeri ini.

Calon pendeta adalah suatu prosedur pelayanan yang harus ditempuh seorang Sarjana Pendidikan Teologi untuk menjadi Pendeta di suatu lembaga gereja. Ia melayani dalam suatu jangka waktu tertentu sesuai prosedur lembaga gereja tersebut sampai diteguhkan atau diangkat menjadi seorang Pendeta sepenuhnya.

Ketentuan prosedur ini menempatkan perempuan di titik-titik penuh risiko, sebab ia harus siap ditempatkan di mana saja. Situasi tanpa daya tawar seperti ini menjadi lebih rentan kepada perempuan, karena ada banyak risiko yang harus siap diterima oleh para Calon Pendeta Perempuan muda sebagai konsekuensi pelayanannya.

Apalagi, kita tahu dalam konteks pelayanan pada dunia yang patriarki, kehadiran perempuan sering kali bias gender. Bahkan potensi menjadi korban pelecehan seksual lebih rentan kepada Calon Pendeta Perempuan ketimbang kepada Calon Pendeta Laki-Laki.

Orang cenderung lebih dapat menghargai religiositas yang maskulin. Sering kali perempuan tidak dihormati dalam kepemimpinan religiusnya, sama seperti laki-laki dihormati, hanya karena dia perempuan.

Lebih malang lagi, bagi beberapa perempuan lainnya, Calon Pendeta Perempuan muda dipandang sebagai suatu ancaman bilamana suami atau pacar mereka tergoda. Sementara, di mata para lelaki, ia adalah objek imaginasi seks.

Gurauan-gurauan yang bersifat melecehkan para Calon Pendeta Perempuan menunjukkan ada yang salah dengan cara beragama kita.

Pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Calon Pendeta Perempuan muda di Sungai Baung adalah suatu keironisan dalam realitas masyarakat kita yang katanya beragama. Suatu bukti bahwa kita belum beragama dengan tulus dan sungguh-sungguh.

Seperti kebanyakan masalah pemerkosaan pada umumnya, pemerkosaan terhadap Calon pendeta Perempuan GKII ini adalah suatu terorisme seksual. Ada sesuatu yang ingin dikatakan pelaku kepada korban dalam aksi sadisnya, ada suatu pernyataan sikap tentang kekuasaan dan perasaan dominasi sebagai laki-laki.

Ironisnya, peristiwa semacam ini terekam dalam sejarah Kitab Suci orang Kristen. Seolah-olah pemerkosaan terhadap perempuan sebagai suatu teror adalah pengulangan kekejian berulang-ulang terhadap eksistensi perempuan.

Dalam cerita Perjanjian Lama di Alkitab, adalah perempuan-perempuan seperti Dina – anak perempuan Yakub (Kejadian 34:1-31),  Tamar – anak perempuan Raja Daud (II samuel 13:1-22), Gundik Lewi tak bernama dalam Hakim-Hakim 19:1-10, yang juga menjadi korban dari suatu pemerkosaan.

Dina diperkosa oleh Sikhem, anak Hemor, Raja orang Hewi dengan suatu motif kekuasaan yang ia gengam sebagai anak dari seorang raja. Sekalipun kisah ini kemudian menjadi sepotong cuplikan dalam kisah pencitraan saudara-saudara laki-lakinya yang haus kekuasaan.

Tamar diperkosa oleh saudara tirinya, Amnon, juga dalam motif dominasi dan rasa bermegah diri sebagai anak laki-laki ayahnya Raja Daud. Ia anggap diri lebih berharga dan tinggi derajatnya dibanding saudari tirinya. Barang tentu ayah mereka lebih berpihak kepada Amnon.

Gundik Lewi tak bernama diperkosa beramai-ramai oleh sekelompok orang dari suku Benyamin juga dalam motif kekuasaan. Ketika seluruh penduduk kota itu menolak untuk membuka pintu rumah bagi ia, dan suaminya – sang Lewi, seorang tua dari suku Efraim – pendatang di sana, jutru menyambut mereka dengan ramah.

Perasaan dominasi laki-laki penduduk Asli Gibeah kepada para laki-laki pendatang di sini menjadi latar dari cerita pemerkosaan tubuh Gundik lewi tak bernama.

Pemerkosaan menjadi suatu kekejiaan dalam kerangka orang ingin menjadi penguasa atas orang lain; orang ingin menciptakan ruang dominasinya dengan melukai dan menyakiti orang lain. Demikianlah pemerkosaan adalah suatu terorisme seksual.

Maka, bukankah terorisme harus dilawan dengan sikap berani? Bukankah tujuan terorisme adalah menyebar teror atau ketakutan? Demikian halnya dengan pemerkosaan sebagai suatu terorisme seksual. Setiap elemen harus melawan dengan menyatakan sikap bahwa kami tidak takut.

Lembaga gereja perlu menyatakan sikap bahwa gereja tidak takut untuk menerima dan menempatkan pendeta perempuan, pun calon pendeta perempuan muda di seluluruh pelosok wilayah pelayanan; dan bahwa gereja memiliki suatu keberpihakan gender terhadap pelayanan seorang pendeta perempuan muda.

Bahwa Lembaga Gereja siap “pasang badan” mengayomi perjuangan keadilan bagi keamanan dan kesejahteraan pelayan-pelayan perempuan.

Demikian juga jemaat/umat/masyarakat konteks di mana sang pendeta perempuan muda mengabdikan dirinya dengan tulus dan berani, lantas mengabaikan segala ketakutan-ketakutannya sebagai perempuan.

Masyarakat harus menjadi “keluarga” yang turut bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan seorang pelayan perempuan muda. Pelayan perempuan muda perlu menjadi “anak perempuan kita sendiri” yang kita jaga kehormatan dan keselamatannya

Dan yang paling penting adalah mari menjadi dunia yang ramah kepada kerja dan pelayanan perempuan. Mari mendidik anak-anak laki-laki kita menjadi anak laki-laki-laki yang menjujung nilai-nilai keseteraan, menghormati kemanusiaan tanpa membelahnya menjadi laki-laki dan perempuan.

Mari mendidik anak-anak perempuan kita menjadi anak-anak perempuan yang berani mengkaryakan hidupnya bagi orang lain. Tidak takut kepada teror kekerasan seksual yang menghantui langkah gerak perempuan berkarya di luar atau bahkan jauh dari rumah.

Bagi saya, kematian Calon Pendeta Perempuan muda di Ogang Komering Ilir adalah suatu kematian yang syahid. Suatu kematian yang bersaksi. Kami tidak takut, kami tidak akan berhenti mengabdi, kami akan terus bekerja dan melayani dengan tubuh perempuan kami.