Demo tolak Omnibus Law Cipta Kerja pada Kamis, 08 Oktober lalu mungkin adalah demo terbesar yang terjadi tahun ini. Demo gabungan buruh, mahasiswa, dan pelajar membuat penulis bangga sebagai mantan mahasiswa. 

Ternyata tuduhan masyarakat kalau mahasiswa sudah tidak peduli dengan rakyat kecil itu salah. Bahkan akhir September 2019 kawasan gedung DPR RI dipenuhi oleh lautan mahasiswa yang menolak RUU KPK. Termasuk penulis di dalamnya. Tepuk tangan buat penulis, eh buat mahasiswa, prok...prok...prok.

Tapi, belajar dari demo tahun lalu dan demo yang baru saja berlalu, ada beberapa catatan yang harus diperbaiki agar demonya lebih greget dan gak cuma bakar-bakaran doang. Supaya demonya lebih gereget, berikut ini yang harus pendemo lakukan:

1. Siapkan Pasukan Yang Solid

Biasanya masing-masing kelompok punya koordinator lapangannya (Korlap) sendiri. Sebelum demo juga biasanya ada teknis lapangan (teklap), di sini para Korlap bisa ketemu dulu atau vcall untuk manyatukan suara dan tujuan. Karena yang sudah-sudah kalau pasukannya gak solid banyak penyusup yang masuk, dan biasanya mereka yang buat onar. Strategi ini sulit sih, tapi enggak ada jalan lain supaya demonya gereget.

2. Kuasai Data dan Informasi

Waktu demo kemarin di sosmed banyak yang ribut, "emang loe udah baca naskahnya?" Terus dibalas, "Emang DPR, menteri, dan presiden juga udah baca," dan masih banyak lagi. 

Memang untuk membaca naskah yang sampai 900-an lembar atau di versi sekarang sampai 1.035 lembar engap juga dan enggak harus semua orang baca, cukup beberapa orang yang ahli di bidang itu. 

Nah, ke depannya kalau demo lagi orang-orang ahli itu juga harus menguasai data dan informasi yang lengkap. Gunanya untuk menyerang titik lemah pemerintah dan menjaga diri dari serangan-serangan yang tidak terprediksi sebelumnya. Ke depannya kita bisa mengembangkan teknologi komunikasi yang lebih canggih, agar koordinasi antar korlap dan pasukan terbangun solid. 

Bisa dibayangkan kalau demo di masa depan mahasiswa yang demo menggunakan seperangkat teknologi yang canggih. Anti gas air mata, anti jaringan internet mati, dan sebagainya.

3. Siapkan Langkah Lebih dari Satu

Bukan rahasia lagi kalau setiap ada demo pemerintah sudah menyiapkan pasukan polisi bersenjata lengkap. Di media mereka juga sudah menyiapkan narasi "Demo ini ditunggangi." Nah, ini gunanya punya langkah lebih dari satu. Saat diserang dari sisi yang lain, kita sudah siap dengan serangan balik. Bahkan langkah kita bisa lebih cepat dari mereka. Siapkan rencana a, b, c, sampai z. 

Di sinilah gunanya teklap. Selain membicarakan lokasi demo dan mobilisasi massa, para korlap pun harus menyiapkan rencana cadangan yang sukar dirusak penyusup. Terdengar sulit, tapi ke depannya bisa dilakukan, syaratnya kompak. 

4. Membaca Kemungkinan Terburuk dan Cara Menanganinya

Kemungkinan terburuk saat demo itu aksi represif polisi; pembubaran paksa pakai gas air mata, aksi kekerasan, dan penangkapan. Sementara dari penyusup; memprovokasi pasukan, merusak fasilitas umum, dan sebagainya. Kemungkinan ini sudah harus diwanti-wanti sejak awal dan siapkan cara penanganannya kalau sampai terjadi. 

5. Masa Pendemo Punya Data Tawar

Masa demo lebih sering dianggap anarkis dan tukang rusuh. Kenapa? Karena penguasa tidak melihat massa sebagai ancaman. Penguasa menganggapnya biasa dan akan berlalu setelah azan maghrib berkumandang. 

Lain halnya kalau kita punya sesuatu hal yang kalau tidak dituruti maka penguasa akan terancam secara nyata. Di sini permainan tawar menawar dilakukan. (Bukan tawaran menawar supaya gerakan digembosi seperti demo yang sudah-sudah).

6. Hindari Kesalahan Sekecil Apapun

Ini mungkin terdengar sangat sulit, tapi bukan mustahil untuk diwujudkan. Kesalahan kecil sejak teklap sampai pelaksanaan harus dihindari, karena kesalahan kecil biasanya memicu kesalahan-kesalahan yang lain.

Kalau syarat-syarat itu terpenuhi mungkin demo kita akan sesuai tujuan. 

Jadi enggak ada lagi yang bilang, "demo ini ditunggangi, demo ini cuma ngerusuh dan rusak fasilitas umum doang. Perbaikan harus dilakukan karena perjalanan aksi massa masih panjang. Demo atau aksi massa akan terus terjadi sampai sila kelima terwujud di Tanah Air.