Mihrigul Tursun, 29, seketika menangis saat penerjemahnya membacakan kisah penindasan yang dilakukan pemerintah Cina terhadap etnis Uighur di wilayah Xinjiang dalam sidang pemeriksaan yang diadakan oleh Congressional-Executive Comission on China di Washington, Amerika Serikat pada 29 November 2018.

Tangisan itu terlihat perih dan menggambarkan penderitaan yang pernah ia alami ketika masih berada di kamp yang didiami oleh etnis Uighur. Kamp tersebut dilengkapi dengan kamera pengawas. Di beberapa tempat terdapat pos-pos untuk menginterogasi ke mana saja mereka akan pergi.

Beberapa warga Uighur sendiri ditugasi untuk menjadi mata-mata bagi warga Uighur yang lain supaya pemerintah dapat mengetahui jika ada tindakan-tindakan ilegal yang terjadi. Informasi yang diberikan oleh mata-mata ini termasuk jika ada seseorang yang berhenti merokok, menolak minum alkohol, atau bahkan jika menolak untuk menyaksikan berita yang ditayangkan Cina.

Sekitar 10 juta warga etnis Uighur tinggal di Cina dan sekitar 300 ribu tersebar di Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kirgizstan. Bahasa yang mereka gunakan termasuk dalam bagian bahas Turki yang bermuara pada bahasa Altaik (Turki, Mongol, dan Manchu-Tungu) yang memiliki kemiripan kosakata, morfologi, dan struktur sintaksisnya. Mayoritas warga Uighur adalah Muslim.

Jika kita pelajari sejarah suku Uighur, pada abad ke-8, mereka mendirikan kerajaan di sepanjang Sungai Orhon (Orkhon) yang berada di daerah utara Mongolia dan berbatasan dengan Rusia. Pada tahun 840, wilayah ini dikuasai oleh suku Kyrgiz hingga membuat suku Uighur bermigrasi ke daerah pegunungan Tien (Tian) Shen di wilayah Xinjiang. 

Di sanalah mereka kembali membangun kerajaan di dataran rendah Turfan, namun digulingkan oleh perluasan suku Mongol pada abad ke-13. Kemudian pada abad ke-18, kekaisaran Qing menaklukan wilayah Xinjiang hingga akhirnya jatuh ke tangan Beijing dengan bantuan Uni Soviet pada tahun 1949.

Beberapa abad terakhir, suku Uighur lemah dalam perjuangan politiknya, kecuali di abad 19 ketika mereka melakukan pemberontakan melawan Beijing. Kemudian sejumlah besar etnis Han mulai berpindah ke Xinjiang setelah didirikannya otonomi di sana sekitar tahun 1950-an. Hingga pada awal abad 20, suku Han menduduki 2 per 5 dari total populasi di Xinjiang.

Melihat sejarah panjang warga suku Uighur di Xinjiang, menggambarkan mereka sudah lama menjadi bagian dari dataran yang kini dikuasai pemerintah Komunis Cina. Sudah seharusnya pemerintahan Cina memperlakukan mereka seperti warga negara Cina pada umumnya. Beberapa teori penindasan (Detaining) sering kali dialamatkan kepada imigran, pencari suaka, dan teroris di beberapa negara seperti Inggris, Kanada, Prancis, dan AS.

Namun, dalam kasus Uighur, mereka bukanlah pencari suaka. Benar, jika dilihat sejarahnya, mereka adalah imigran dari wilayah Mongolia. Tetapi mereka telah bermigrasi sejak lebih dari sepuluh abad yang lalu dan bisa dianggap mereka sudah menjadi warga tetap di sana.

Apa yang dilakukan pemerintah Cina terhadap warga Uighur mirip sekali dengan yang dilakukan pemerintah Israel kepada warga Palestina yang menerapkan checkpoints bagi mereka yang keluar dari kediamannya. Acap kali petugas checkpoints dengan sengaja menghambat proses perizinan keluar wilayah kediaman mereka.

Praktik semacam ini seharusnya sudah tidak dilakukan lagi oleh negara mana pun walaupun dengan alasan keamanan. 

Semenjak tragedi 9/11 di AS, represi terhadap warga Uighur di Xinjiang meningkat karena beberapa kelompok mereka dianggap kelompok separatis, ekstremis, dan teroris. Bahkan seniman kenamaan Uighur Abdurehim Heyit pun ditahan karena dianggap berseberangan ideologi dengan pemerintah Cina.

Warga Uighur tidak sendirian. Warga Tibet di Larung Gar yang mayoritas beragama Buddha pun mendapat perlakuan yang kurang lebih sama dari pemerintah Cina. Sejak 2008, pemerintah Cina melakukan represi terhadap bahasa dan budaya warga Tibet. Bahkan gambar sosok Dalai Lama pun dilarang disebar di penjuru wilayah.

Pelbagai macam represi ini harus menjadi kritik bagi pemerintahan Xi Jinping yang sedang membangun citra Cina sebagai negara kuat dan berpengaruh. Tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia. Perang dagang Cina-AS menjadi perbincangan media dunia. Kekuatan besar yang dibangun Cina masih menyimpan cacat dalam tubuh pemerintahan mereka. Pelanggaran Hak Asasi Manusia harus mereka hentikan.

Tangis Mihrigul Tursun dan warga Uighur lain masih mengalir deras. Kita belum lupa apa yang terjadi terhadap warga Rohingya di Myanmar yang kini hidupnya terkatung-katung di Bangladesh. Ini pun dirasakan oleh warga Uighur. 

Perlakuan pemerintah Cina terhadap warga Uighur menjadi coreng atas prestasi Xi Jinping yang mulai mendunia. Ke mana pun Cina mengembangkan sayapnya, warga Uighur termasuk warga Tibet pantas lepas dari penindasan.