Indonesia merupakan negeri kaya. Bentangan alam memiliki potensi beragam rupa. Mulai dari tambang di negeri Papua. Minyak di Sumatera. Hutan Kalimantan. Nuansa industri di setiap pulau. Pertanian di pulau Jawa. Semuanya merupakan kekayaan yang tak terbatas nilai memberikan kesejahteraan pada bangsa dan negeri tercinta.

Bentangan alam Indonesia kaya lahan gambut, terutama Riau. Lahan gambut yang kaya karbon memerlukan waktu lama dalam penanganan kebakarannya. Peristiwa ini menyebabkan  Indonesia  diselubungi asap dan jutaan orang di Asia Tenggara terpapar asap  yang berisi kabut beracun. Bencana asap berdampak buruk, tiga kali lipat emisi gas rumah kaca tahunan di Indonesia.

Kebakaran hutan merupakan langganan tahunan Indonesia. Kondisi terburuk terjadi tahun 2015 antara bulan Juni dan Oktober. Sekitar 2,6 juta hektar lahan terbakar.  Kebakaran tersebut menjadi bencana terlama dan paling buruk dalam dua puluh tahun terakhir disebabkan musim kemarau  yang panjang.

Keberadaan asap menyelubungi bumi,  menyulitkan manusia melakukan aktivitas di luar rumah. Udara tercemar asap memberi dampak banyaknya masyarakat terserang ISPA. Kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi lumpuh. Bagaimana tidak, setiap hari tanpa jedah menghirup udara berracun.

Keadaan ini menimbulkan kesadaran banyak pihak. Berupaya dengan segenap kemampuan untuk memberikan sumbangsih dalam penanganan bencana asap. Upaya sederhana dalam penanganan asap agar masyarakat dapat meneruskan kegiatan sehari-hari dilakukan oleh berbagai instansi, perusahaan maupun masyarakat peduli bencana.

Salah satu upaya tersebut dengan melakukan kegiatan sosial pembagian masker. Apabila terjadi bencana asap sangat mudah ditemukan pembagian masker gratis dari banyak kalangan.

Namun hal tersebut tentu bukan akhir dari upaya penanganan bencana asap. Setiap instansi maupun industri terus memaksimalkan peran masing-masing.

Kebakaran hutan menjadi tanggungjawab bersama. Hutan adalah jantung kehidupan. Hidup sehat sangat dipengaruhi udara sehat dan bersih. Tidak hanya itu, perusahaan yang menggunakan pohon sebagai bahan baku harus terus menjaga kelestarian hutan. Tidak hanya dengan menjaga hutan tapi membuat Hutan Tanaman Industri (HTI). Agar produksi perusahaan tidak mengganggu hutan alam raya negeri ini.

Saat hutan terbakar, banyak aspek menjadi tinjauan industri terutama perusahaan yang menjadikan pohon sebagai bahan baku. Titik api merupakan musuh besar yang harus segera ditindak dengan cepat tanggap dan tepat.

Keberadaan titik api yang menjadi hotspot dapat menjalar kemana-mana, baik hutan maupun Hutan Tanaman Industri (HTI) milik perusahaan.  Apabila sebaran titik api tidak ditanggulangi secara tanggap maka perusahaan akan mengalami kerugian.

Bila pohon terbakar, produksi bisa berhenti sedangkan kebutuhan pasar kertas semakin meningkat. Tentu hal tersebut tidak diinginkan oleh perusahaan. Karena setiap perusahaan memerlukan banyak sekali dana dalam operasional dan memberi salary kepada karyawan.

PT. Indah Kiat Pulp and Papper (IKPP) Perawang Mill membuat manajemen tanggap api disebut Fire Management. Fire Management menjadi napas produksi dengan pemantauan satelit. Pemantauan tersebut menggunakan sensor detektor.

Detektor tersebut dipasang sebanyak 30 titik pada distrik HTI milik perusahaan. Alat pemantau ini merekam thermal (panas) sehingga semua sumber panas terdeteksi.  Melalui alat ini setiap panas yang terdeteksi tidak lantas menjadi hotspot, bisa jadi karena adanya faktor lain seperti proses distribusi minyak  yang dibawa kapal-kapal maka harus dilakukan verifikasi  agar data yang diperoleh akurat dan dapat dilakukan tindakan secara cepat.

Selain mendeteksi panas, detektor yang digunakan juga dapat membaca kelembaban udara, curah hujan dan cuaca pada  distrik  yang ada. Semua data ditampilkan di dasbor monitor yang digunakan fire prevention team. Fire prevention team berfungsi sebagai pemantau titik api yang ada di distrik dengan tujuan meminimalisir kebakaran hutan, sedangan di lapangan diatasi dengan penyiraman dan mencegah cepat alir sebaran api.

Apabila suatu distrik telah dinyatakan memiliki hotspot maka fire management di setiap distrik dikerahkan dengan maksimal baik menggunakan alat mekanik maupun hand tool. Alat mekanik untuk melakukan pemadaman titik api yang ada dan hand tool digunakan untuk memperkecil distrik yang terbakar dengan membuat batas-batas tertentu agar api tidak mencapai distrik yang lebih luas.

Dalam pelaksanaan di lapangan, setiap orang yang melakukan tugas pemadaman api harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Alat ini harus memenuhi sertfikasi kelayakan sesuai standar Kesehatan Keselamatan Kerja (K3). Sebagaimana jargon dalam upaya peningkatan safety kerja di Perawang Mill yakni “safety gencar produksi lancar”.

Upaya penanganan kebakaran hutan ini menunjukkan hasil dengan membaiknya kualitas udara yang dihirup dan makin mengecilnya lahan hutan yang terbakar. Pekerjaan fire management menjadi serdadu api dapat meminimalisir dan menangani kebakaran hutan secara cepat tanggap dan tepat sehingga HTI terjaga, meningkatkan produksi dan memperbaiki kualitas lingkungan. Manusia menghirup udara segar. Aktivitas berjalan lancar.