Dalam bukunya 212 The Extra Degree, Mac Anderson dan Sam Parker menggunakan analogi dengan air panas dan air mendidih untuk membedakan sejauh mana upaya manusia saat ini untuk meraih kesuksesan. 

Air panas memang bermanfaat untuk kesehatan. Namun, air mendidih akan menghasilkan uap panas yang jika dimanfaatkan akan bisa menjadi energi yang bisa menggerakkan kereta api. Hanya beda satu derajat saja, air panas bisa menjadi air mendidih yang mengeluarkan uap panas (hot steam) yang menghasilkan energi tinggi. 

Mengingat keduanya dari Amerika Serikat, maka ukuran derajat suhu yang digunakan adalah derajat Fahrenheit. Anderson dan Parker menyebutkan perbedaan 1 derajat itulah yang akan membawa manusia menuju kesuksesan. 

Meningkatkan suhu air dari suhu kamar hingga mendidih membutuhkan energi kalor yang tidak sedikit. Tingkat energi kalor yang diberikan akan menentukan sejauh mana suhu air bisa ditingkatkan. Bahkan, untuk mencapai titik didih, harus ada energi kalor didih yang diberikan. 

Sama halnya saat manusia ingin mencapai kesuksesan, upaya yang dilakukan tentu menentukan tingkat kesuksesan yang dicapai. Jika selama ini energi yang dikeluarkan biasa saja, maka kesuksesan besar hanya berupa mimpi tak tercapai. 

HOT STEAM dalam dunia pendidikan bukan sekadar uap panas. HOT singkatan dari Higher Order Thinking atau kemampuan penalaran tingkat tinggi, merupakan salah satu kemampuan yang harus dipupuk dan dibentuk dalam diri siswa untuk bisa bersaing di abad 21. 

Istilah ini menjadi sering terdengar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memutuskan untuk mulai memberikan soal bertipe HOT di Ujian Nasional. Kegemparan pun mewarnai dunia pendidikan Indonesia karena siswa tidak disiapkan dengan kemampuan berpikir tersebut. 

Miskonsepsi bahwa HOT hanya berupa kemampuan menjawab soal perlu ditelaah kembali. HOT merupakan kemampuan anak didik untuk mengolah informasi dan mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan. Kemampuan ini tidak bisa serta-merta terbentuk pada seseorang tanpa adanya pembiasaan menganalisis dan mengevaluasi di dalam kelas. Pendekatan pengajaran di kelas harus dibuat sedemikian rupa sehingga ilmu dijelajahi dan ditemukan, bukan sekadar diberitahukan. 

Pada tanggal 14-15 Desember 2018 yang lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Indonesia STEAM Week, sebuah momentum dari upaya dunia pendidikan untuk menyiapkan generasi emas di masa depan. STEAM singkatan dari Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics. merupakan metode pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai elemen pelajaran. 

Berbeda dengan pembelajaran dalam satuan mata pelajaran terpisah, maka pembelajaran STEAM mengintegrasikan materi maupun proyek yang bisa diintegrasikan antara kedua atau bahkan lima pelajaran yang tergabung di dalamnya. Istilah yang lebih terkenal adalah pembelajaran terintegrasi STEM, yang tidak memiliki elemen Art (Seni) di dalamnya. 

Elemen Science (sains), merupakan penerapan ilmu alam (lingkungan, biologi, kimia, dan fisika), yang mengaitkan manusia dengan alam dan berbagai makhluk hidup lainnya. 

Penerapan sains dalam STEAM berbeda dengan melakukan eksperimen atau percobaan pembuktian teori. Namun, lebih kepada menanamkan kebiasaan siswa untuk mengintegrasikan teori sains dengan materi pelajaran lain untuk menghasilkan solusi yang ramah lingkungan. Selain itu, juga membiasakan siswa berpikir ilmiah, dengan melakukan proses observasi, penelitian, dan deduksi.

Elemen Technology (teknologi) menandakan pembelajaran dimulai dengan siswa mahir menggunakan aplikasi teknologi hingga akhirnya nanti mampu menciptakan teknologi baru, baik teknologi berbasis informasi dan komputer, maupun teknologi pengolahan sederhana. 

Teknologi pada dasarnya adalah perangkat maupun tata laksana pekerjaan yang bisa memperingan tugas manusia. Sehingga, pengaplikasian teknologi pada pembelajaran STEAM bukan sekadar menggunakan gawai maupun perangkat komputer saja. 

Elemen Engineering (rekayasa), berarti siswa diajak untuk mendesain hingga membuat produk yang bisa membantu hidup manusia. Contoh paling sederhana adalah dengan merekayasa bentuk kendaraan pengangkut dengan syarat dimensi maupun pembebanan tertentu. Kegiatan merekayasa ini bisa dilakukan di tahap sekolah dasar dan menengah. Dengan pengalaman merekayasa, siswa diminta untuk kreatif membuka diri dari segala kemungkinan yang bisa mereka lakukan. 

Elemen Art (seni) diikutsertakan bukan sekadar supaya judulnya menjadi STEAM, tetapi karena dengan adanya unsur keindahan dan estetika dalam Art (seni), maka hasil karya apapun yang dihasilkan akan memberikan daya guna dan nilai estetika yang menyejukkan dipandang. Mengingat saat ini dunia semakin disemarakkan dengan visual yang memanjakan mata. Penanaman nilai estetika seni pada siswa juga menjadi poin penting yang diperhitungkan dalam menyelesaikan sebuah proyek. 

Elemen Mathematics (matematika) dalam STEAM berarti bukan hanya berhitung dan berkutat menyelesaikan soal saja. Namun, bagaimana mengaplikasikan persamaan maupun teori matematika untuk menyelesaikan proyek yang diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain. Dengan STEAM, membuat Matematika menjadi riil dan diterapkan ada dalam setiap sudut kegiatan manusia. 

Sebagai seorang pendidik yang sudah dan terus menerapkannya, saya melihat bahwa HOT dan STEAM bukan dihadirkan untuk menggantikan kurikulum yang ada. Saya memakai Kurikulum Nasional sebagai petunjuk materi dan kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa. Dalam teknis penyampaian materi, saya memakai STEAM sebagai salah satu metode pembelajaran integrasi, yang bisa diaplikasikan untuk melatih cara anak bernalar hingga bisa mencapai kemampuan untuk bernalar tingkat tinggi atau HOT.

Bagaimanapun, penerapan HOT dan STEAM dalam pembelajaran membutuhkan kerja sama dalam satu unit yang kompak serta keberanian mencoba dari semua guru yang terlibat serta penentu kebijakan dalam sekolah. Mengubah kebiasaan dari sekedar belajar untuk ujian dan memupuk kebiasaan bernalar tidak bisa dilakukan dengan instan. Namun, jika tidak diterapkan mulai sekarang, kapan lagi kita akan memulai? 

Sesuai dengan analogi uap panas, dengan adanya HOT STEAM mewarnai Kurikulum Nasional, diharapkan bisa menyiapkan anak didik menyambut masa depan dengan energi tinggi dan lebih percaya diri. Dengan membuncahnya kebahagiaan di pagi awal tahun 2019 ini, semoga melimpah juga semangat kita untuk melangkah memajukan pendidikan di Indonesia di masa mendatang.