Semuanya berawal dari keinginan untuk membuka ruang perdebatan yang sehat atas pendapat-pendapat yang berbeda tentang berbagai isu dalam masyarakat, mulai soal LGBT, komunisme, liberalisme, kesusastraan, sejarah, hingga tafsir agama.

Saya percaya, tak ada pendapat yang salah atau benar sebelum ia melalui meja uji logika, nalar, dan akal sehat. Perdebatan di Twitter akan sulit mengukur itu semua karena keterbatasan karakter. Di Facebook, orang tak punya waktu untuk saling membantah gagasan karena semua sibuk memperbarui status.

Lebih dari itu, di media sosial, kebanyakan orang sibuk berisik dan menghakimi tanpa benar-benar menaruh perhatian pada argumen itu sendiri. Di sisi lain, ada orang-orang yang diikuti oleh jutaan pengikutnya, diamini dan disebarkan apa pun yang mereka katakan, tanpa berpikir apakah itu benar atau salah.  

Kami ingin memulai tradisi itu. Sebuah perdebatan terbuka, 1 lawan 1, dari dua orang yang memiliki pendapat berbeda, tapi siap menggunakan nalar, logika, dan akal sehat untuk menunjukkan bahwa pendapat mereka memanglah benar dan layak untuk didengar dan diikuti.

Kami ingin memulai dari yang paling dekat, isu-isu yang panas di media sosial, yang tak pernah benar-benar tuntas diperdebatkan dan hanya berujung pada hujatan-hujatan. Maka kami mengundang orang seperti Tere Liye. Seorang penulis produktif dengan jutaan pembaca, yang memiliki sikap tegas untuk anti pada LGBT, komunisme, liberalisme.

Dengan perdebatan 1 lawan 1, tak akan ada yang dikeroyok atau di-bully. Ini adalah sebuah pertarungan intelektual, perayaan atas logika dan akal sehat manusia. Di ajang seperti inilah orang seperti dia bisa menunjukkan pada publik bahwa pendapat-pendapatnya memang bisa diuji di meja perdebatan.

Kemudian muncul penyebutan honor tanpa ia merasa perlu bertanya sedikit pun tentang substansi program yang kami tawarkan. Dua puluh lima juta rupiah untuk 60 menit penampilan. 

Memang, hak seseorang untuk menentukan berapa tarif yang ia minta. Tapi hak kami juga untuk mengukur, menilai berdasarkan nalar dan pengalaman kami, apakah angka tersebut masuk akal atau tidak.

Tentu saja kami semua kaget dengan angka itu hingga membicarakannya di grup WhatsApp. Kemudian screenshot perbincangan itu beredar di media sosial dan ramai di mana-mana tanpa bisa dikendalikan. 

Banyak yang kaget, banyak yang tertawa, tapi kemudian banyak juga yang mempersoalkan etika bahwa hal seperti itu tak layak dibawa ke ruang publik.

Barangkali itu ada benarnya. Bahwa penyebaran screenshot seperti itu menyalahi privacy. Tapi kami pun sudah siap dengan risiko hujatan seperti itu. Tak ada hukum yang kami langgar, tak ada sebuah informasi rahasia yang kami umbar.

Lebih dari itu, kami melakukan hal itu dengan sebuah kesadaran: ini adalah informasi yang publik harus tahu. Kami akan terima apa pun risikonya sebagai harga yang harus kami bayar. Ada hal yang lebih besar yang layak kami perjuangkan. Ada nilai yang lebih tinggi yang akan selalu kami pegang.

Saya teringat, suatu ketika di sebuah perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta Selatan, ibu-ibu pengajian yang rata-rata bersuamikan tukang bersih-bersih di perkantoran Jakarta, ojek atau sopir taksi, bahkan pengangguran, mengumpulkan iuran 150 ribu seorang demi mendatangkan ustaz idola mereka yang bertarif 75 juta sekali ceramah selama satu jam. 

Ibu-ibu ini merelakan uang belanja mereka, uang tabungan mereka, bahkan beberapa orang harus berutang demi bisa mendengarkan dakwah tentang surga dan neraka dari ustaz junjungan mereka.

Mereka yakin, dengan iuran itu, mereka akan mendapatkan pahala dan mendapatkan jaminan surga. Hidup miskin di dunia tak jadi soal, apalagi kalau sekadar berutang. Ibu-ibu ini ikhlas melakukan kebaikan di jalan Tuhan dengan bimbingan ustaz yang jadi primadona itu.

Mereka dengarkan setiap kata yang diucapkan ustaz tanpa perlu memikirkan apakah itu benar atau salah. Mereka terima semua kata-kata ustaz itu tanpa bantahan. Mereka pasrah. Atas nama pahala, atas nama surga.

Ibu-ibu itu menerima saja melihat ustaz yang mereka bayar dengan uang belanja yang mereka kumpulkan susah payah itu hidup dengan banyak harta, punya mobil dan rumah di mana-mana, bahkan bisa sampai punya istri tiga.

Sekarang, di zaman media sosial, ustaz-ustaz baru itu mondar-mandir di Twitter dan di Facebook. Mereka menjajakan ayat-ayat dan kata-kata, berjualan buku, menerima undangan ceramah di mana-mana. Semua atas nama Tuhan, semua demi kebaikan. 

Membaca apa yang mereka tulis di Facebook saja bisa dipercaya sebagai bentuk ibadah, apalagi kalau bisa mendengarkan mereka berceramah. Maka pantas saja jika mereka memasang tarif tinggi untuk ceramah-ceramahnya.

Jika ustaz-ustaz selebritas TV digandrungi oleh ibu-ibu pengajian, ustaz-ustaz media sosial menjadi pujaan anak-anak muda, anak SMA, hingga mahasiswa. Mereka pun melakukan berbagai upaya untuk bisa mendatangkan idola mereka itu. Membayar tarif tinggi pun tak jadi soal.

Idola-idola baru itu didatangkan hanya untuk didengarkan dan dipercaya begitu saja semua yang mereka katakan. Tak ada yang berani bertanya, apalagi membantah, meski sudah jelas-jelas apa yang mereka sampaikan salah. 

Mereka tak hadir dalam meja perdebatan yang bisa menguji pendapat menggunakan ukuran-ukuran nalar. Semuanya adalah atas nama dakwah. Semua seolah-olah adalah suara kebenaran sesuai ayat-ayat Tuhan.

Sungguh menggelisahkan ketika melihat orang-orang macam ini terus dibuntuti oleh anak-anak muda, disetujui dan disebarkan ulang apa pun yang mereka katakan, tanpa sedikit pun dipertanyakan dan dibantah. Membuat generasi muda kian kehilangan pikiran kritisnya.

Kami gagal mewujudkan debat terbuka yang kami angankan itu. Tapi, setidaknya, izinkan kami menunjukkan ke publik, terutama ke anak-anak muda, bahwa tidak setiap hal yang tampak suci itu benar-benar dilakukan untuk iman, Tuhan, atau keyakinan atas nalar itu sendiri. Kadang kala, kita semua hanya sedang mencari uang.