Saya hampir tidak berpikir ketika menulis. Jika ada suatu hal yang saya ingin tuliskan, saya akan tuliskan, entah saat itu juga, atau di lain waktu ketika saya merasakan flow untuk menulis muncul. Saya pribadi sebenarnya merasa belum siap menulis tentang uang, karena saya juga masih memiliki blok tertentu terkait hal tersebut. Tetapi entah bagaimana, tangan saya tiba-tiba ingin menulisnya. Mungkin ada yang membutuhkan informasi tersebut, sesedikit apapun yang saya tahu. Entahlah.

Pada awalnya, kita mungkin tahu bahwa pada zaman dahulu, manusia tidak mengenal uang, bahkan mungkin masih terjadi di beberapa tempat. Manusia hanya mengenal barter atau pertukaran. Mungkin di suatu masa, manusia menyadari sistem barter itu tidak praktis dan kemudian diciptakanlah sistem uang untuk mempermudah dalam tukar menukar barang. Tetapi pengkondisian seperti itu membuat manusia lupa akan hakikat uang yang sebenarnya. 

Money is simply energy exchange.

Selama ratusan tahun, manusia belajar bahwa uang adalah suatu barang yang digunakan untuk mendapatkan sesuatu. Uang bermanifestasi secara fisik dalam beragam bentuk, entah itu kertas, logam, cek, atau hal lainnya. Manusia dikondisikan dengan hal tersebut, bahwa uang seakan tampak seperti benda mati yang hanya berguna untuk membeli barang atau membayar tagihan.

Segala sesuatu yang ada di semesta ini memiliki energi dan kesadaran tertentu. Apapun, termasuk uang. Dalam bahasa inggris, uang disebut juga currency. Kenapa begitu? Saya juga tidak tahu. Mungkin untuk menyimbolkan hakikat uang itu sendiri sebagai aliran energi; currency-current-aliran, kira-kira mudahnya begitu. 

Uang adalah bentuk fisik dari aliran energi tersebut yang bisa kita lihat dengan mudah. Kamu bekerja dari jam 8 sampai jam 5, lalu sebulan kemudian kamu mendapatkan uang sebagai pengganti energi yang kamu keluarkan untuk pekerjaan tersebut. Uang itu lalu kamu gunakan untuk membayar tagihan, membiayai sekolah dan kebutuhan keluarga, dan menabung. 

Di sisi lain anak kamu mendapatkan uang untuk dirinya sendiri, untuk waktu yang ia berikan ketika susah payah bersekolah, atau untuk energi cinta yang ia berikan pada kamu sebagai orangtua, atau untuk hal lain yang saya tidak tahu. 

Di kehidupan lainnya, seorang penjual barang mendapatkan uang sebagai ganti barang yang ia jual ditambah biaya lain yang ia keluarkan untuk menjual barang itu, entah sewa toko, waktu menunggu, atau upah pekerja. Uang yang ia dapatkan pun bergerak lagi, untuk membayar tagihan, membeli makanan dan sebagainya. Pada akhirnya uang selalu bergerak dan mengalir, karena uang adalah energi yang senantiasa mengalir; current, seperti asal namanya.


Tetapi ada hal lain yang mungkin luput. Uang adalah pertukaran energi. Energi yang ditukar itu bisa berwujud dalam beragam bentuk dan bisa saja tidak melulu berbentuk uang hasil bekerja. Energi itu banyak bentuknya. Senyum, cinta kasih, dan terima kasih itu juga membawa energi tertentu. 

Ketika kita memberikannya pada orang lain, sesederhana apapun cara dan bentuknya, akan ada energi yang mengalir balik kepada kita, entah dalam bentuk senyum atau kasih yang serupa, atau makanan, atau kesempatan, atau bahkan pekerjaan, baik dari orang itu atau mungkin dari orang lain yang sama sekali tidak kita kenal. Kita tidak tahu bagaimana caranya Semesta bekerja, karena seringnya di luar apa yang kita mampu kita pikirkan.

Ketika memahami uang sebagai energi, kita mungkin bisa memperbaiki hubungan kita dengan uang. Untuk sebagian orang, ketika mendengar kata uang, yang terasa adalah perasaan tidak nyaman, tidak aman, tidak cukup, atau tidak layak. Perasaan seperti itu terkadang membuat blok dalam diri kita. Saya juga mengalaminya. Menulis semua ini bukan berarti saya bebas dari blok itu.


Tetapi dari apa yang pernah saya alami, kelimpahan tidak hanya sebatas uang secara fisik. Misalkan begini, kamu hanyalah anak kos yang punya uang terbatas tetapi kemudian kamu merasa aneh karena kamu tidak pernah berkekurangan. Kamu bertanya pada diri sendiri, bagaimana bisa? Kemudian kamu mendata apa yang terjadi selama sebulan ke belakang ketika uang yang kamu pegang secara fisik jumlahnya sedikit. 

Oh, ternyata nenek tua yang sering kamu ajak ngobrol sore-sore sering memberi nasi bungkus untuk kamu, atau tiba-tiba ada tetangga yang membagikan sembako, atau teman-teman kamu tiba-tiba berpatungan memberi barang yang kamu inginkan, atau teman kos sering membagi snacknya karena senyum dan keramahan yang sering kamu berikan, atau ketika pergi liburan di saat uang terbatas, tiba-tiba kamu mendapat tumpangan tempat tinggal dan makanan gratis, bahkan naik kendaraan gratis, atau karena jutaan hal lain yang mungkin terjadi sehingga bahkan dengan uang yang secara fisik terbatas, kamu tetap berkecukupan. 

Dari situ mungkin kemudian kita menyadari bahwa energi non fisik yang bersifat sama seperti uang itu hadir dan selalu mencukupi kebutuhan kita bahkan mungkin jika kita tidak memegang dan melihat energi itu secara fisik.

Aliran energi itulah yang mengalir memberkati kita, itulah current yang sama, yang salah satunya jika bermanifestasi secara fisik dapat berwujud uang kertas, logam, emas, atau benda apapun. 

Tetapi kita tahu, mereka bukan hanya benda fisik sebatas uang. Mereka hidup dalam kesadarannya dan mengalir dalam berbagai bentuk. Karena uang adalah energi, maka sebenarnya uang bersifat netral dan hadir untuk mensupport kita dalam kehidupan ini. Jika kemudian uang disalahgunakan, manusianya sendiri itulah yang kacau bukan uangnya.


Uang adalah salah satu manifestasi fisik dari kelimpahan atau abundance. Kita tidak bisa membatasi bahwa kelimpahan itu hanya sebatas uang. Lebih dari itu, kelimpahan adalah energi, termasuk perasaan berkelimpahan itu sendiri, meskipun secara fisik mungkin tidak punya uang. 

Kebutuhan dasar manusia untuk tetap hidup mungkin hanya sesederhana bernapas, makan, minum, juga tempat tinggal. Dan alam begitu murah hati menyediakan semuanya, secara berkelimpahan; udara, air, tanah untuk tinggal dan juga menghasilkan makanan.

Faktanya, ada begitu banyak hal yang layak disebut sebagai kelimpahan dalam hidup kita, juga layak untuk disyukuri. Semuanya adalah energi. Uang juga energi. Dan untuk mendapatkan makanan, rumah atau apapun, bisa saja kita tidak memerlukan uang secara nyata. Siapa yang tahu apa yang bisa terjadi dalam jutaan probabilitas di dunia ini. 

We receive what we give. Untuk setiap energi yang kita berikan dan pancarkan, itulah yang akan kita dapatkan. Ketika merasa kekurangan maka itulah yang akan kita alami. Begitu pula sebaliknya. Jika kita hidup dalam perasaan berkelimpahan, itu juga yang kita alami. 

Sayangnya ini berlaku bukan hanya di pikiran sadar tetapi juga di pikiran tidak sadar. Kita mungkin berpikir kita tidak merasa berkekurangan, tetapi jauh dalam diri secara tanpa sadar kita merasa kekurangan bukan materi tetapi mental. 

The feeling of not enough and insecurity, trap us in the state of lack. Itulah yang kemudian bermanifestasi dan mungkin menghalangi aliran berkat Semesta datang pada kita.

Hal seperti ini tidak bisa dipahami dari apa yang orang lain katakan, melainkan harus dialami dan disadari sendiri. Kesadaran itu juga tidak bisa dipaksakan karena biasanya kesadaran itu datang dengan sendirinya ketika kita sudah siap, muncul tiba-tiba seperti pencuri di malam hari.

Rasanya tidak cukup membahas uang, yang saling terkait dengan banyak hal, hanya dalam satu artikel. Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya menuliskan apa yang saya tulis. Saya hanya menyadari sesuatu lalu menuliskannya, menenun semuanya dalam bentuk kata-kata yang kamu baca. 

Saya juga masih merasakan blok yang tiada jauh berbeda, pun bukan orang yang paling tahu karena saya juga belajar dan bertumbuh dari apa yang saya tulis, alami, dan rasakan di setiap momennya. Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu only for your highest and greatest good.


Salam bahagia dan mulia.

Gus Fik.