Hubungan interaksi antaraktor hubungan internasional di abad ke-21 telah bergeser. Pergeseran ini tidak terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Keinginan untuk memperoleh informasi yang ter-update telah menjadi kebutuhan harian, tidak terkecuali aktor berupa negara maupun aktor non-negara seperti Multinational Corperation (MNC), International Goverment Organization (IGO), Non Goverment Organization (NGO), maupun Individu.

Informasi yang diperoleh dari layanan digital memperlihatkan gambaran kemudahan akses dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Layanan digital seperti penggunaan internet dan media sosial membuka hubungan tanpa ada batasan di antara negara-negara di dunia.

Salah satu media sosial, yakni Twitter, telah menjadi bagian dari media diplomasi. Sejatinya negara merupakan aktor utama dalam diplomasi antarnegara, namun di era kontemporer ini, aktor non-negara juga terlibat aktif memainkan peran dalam proses diplomasi.

Peran aktif yang melibatkan aktor negara maupun aktor non-negara di Twitter ini memberi gambaran kepada kita bahwasanya masyarakat domestik maupun masyarakat internasional sedang berproses membentuk identitas negara maupun kebijakan negara tanpa batas.

Proses pembentukan identitas ini tidak terlepas dari keaktifan aktor-aktor dalam mengikuti perkembangan zaman di dalam menggunakan teknologi digital. Dalam hal ini, Twitter telah menjadi sarana diplomasi digital yang digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat internasional saat ini.

Salah satu contoh aktor dalam hubungan internasional yang aktif menggunakan media sosial Twitter adalah Presiden Amerika Serikat, yaitu Donald Trump. Sebelum menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sudah menggunakan Twitter sebagai media komunikasi untuk memengaruhi opini publik terkait berbagai isu domestik Amerika Serikat, terutama ketika mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat melawan Hillary Clinton pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016.

Melalui akun pribadinya @realDonalTrump di platform Twitter, dia membangun diplomasi dua arah dengan pengikutnya yang sifatnya informal, seperti tidak adanya unsur-unsur yang bisa dilihat dari gestur tubuh, ekspresi wajah; mendengarkan suara dan informasinya bisa diketahui tanpa batas wilayah berdaulat.

Menurut sebuah lembaga penelitian dari Finlandia, salah satu upaya yang membuat Trump mampu memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat adalah karena pemahaman dan dominasinya dalam memanfaatkan media digital dan mengampanyekan kebijakan-kebijakan yang akan diambil jika terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Langka tersebut ternyata cukup efektif untuk menghantarkanya menjadi Presiden Amerika Serikat periode 2017-2021.

Meskipun belum secara resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung memanfaatkan media sosial Twitter untuk mengkomunikasikan pesan-pesannya ke dunia internasional. Melalui Twitter pada 28 November 2016, ia mengingatkan Kuba bahwa pemerintahannya akan mengubah hubungan diplomasi Amerika Serikat dengan Kuba jika Havana tidak memberikan Washington "perjanjian yang lebih baik". 

Tidak cukup dengan pernyataannya mengenai Kuba, pada 2 Desember 2016, Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan lewat Twitter untuk membenarkan percakapannya dengan Presiden Taiwan Tsai-Ing-Wen, percakapan yang membuat Beijing meradang. Bukan hanya itu, Trump pun langsung menuduh Cina telah melakukan praktik perdagangan yang merugikan Amerika Serikat dan melakukan penambahan kekuatan militer di Laut China Selatan

Terkini, Hubungan Amerika Serikat dengan Mexico terkait perbatasan, Presiden Donald Trump menyatakan akan melakukan shutdown jika Demokrat tidak menyingkirkan hukum imigran seperti Catch and Realease. “Sudah saatnya diberlakukan hukum imigrasi yang pantas! Kami butuh orang hebat untuk datang ke Amerika Serikat!” ujar Trump di Twitter.

Cuitan tersebut mendeskripsikan bahwa, sebagai kepala negara yang super power di dunia, penggunaan media Twitter oleh orang nomor satu di Amerika Serikat ini telah bertransformasi dari awalnya yang hanya menjadi sarana komunikasi informal kini telah menjadi sarana diplomasi modern yang dapat berpengaruh terhadap berbagai kebijakan dunia saat ini.

Penggunaan Twitter sebagai media diplomasi modern yang dimanfaatkan masyarakat internasional pada umumnya dan khususnya dalam beberapa contoh kasus Donald Trump tersebut di atas mendeskripsikan bahwa dewasa ini Twitter menjadi sarana efektif yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat pengguna media sosial tanpa memperhatikan ruang dan waktu.

Sebagai media yang dianggap efektif, Twitter juga menjadi sorotan terkait penggunaan keterbatasan jumlah karakter dalam setiap pesan yang disampaikan. Dengan maksimum 140 karakter dalam setiap pesan, pengguna diplomasi digital Twitter tidak dapat menyampaikan pesan secara menyeluruh sehingga dalam beberapa isu menimbulkan berbagai pandangan berbeda dan cenderung kontroversial.

Menjadikan Twitter sebagai sarana diplomasi digital dapat menjadi solusi untuk praktik-praktik berdiplomasi yang walaupun bersifat informal namun dalam beberapa isu sangat berpengaruh terhadap berbagai pengambilan keputusan, baik di level internasional maupun dalam wilayah domestik berbagai negara di dunia.

Dan tentunya dalam memanfaatkan Twitter sebagai sarana diplomasi digital, perlu untuk memastikan informasi yang disebarkan, terutama terkait isu-isu strategis dalam hubungan antarnegara perlu difilter secara bijaksana untuk memastikan informasi tersebut tidak menimbulkan konflik baru dari adanya penyebaran informasi yang tidak berimbang.