Tulisan bisa jadi senjata bisa juga (berisi) omong kosong belaka. Tulisan ini bermula setelah saya membaca 2 (dua) tulisan, yakni “Tulisan Itu Senjata” oleh Musmawarman Abdullah, dan “Buku (Masih) Menjadi Guru (!)(?)” oleh Mohamad Sobary.

Tulisan itu senjata. Musmawarman Abdullah memulai tulisannya (Tulisan Itu Senjata) dengan ajakan-ajakan yang sangat ‘provokatif’. Saya sangat setuju dan tertarik dengan ajakannya tersebut. Oleh karena itu, saya kutip secara utuh tulisannya sebagai berikut :

“Teruslah menulis dengan gaya kurang ajar sampai orang-orang terpelajar marah, lalu mereka belajar menulis untuk menghantam tulisan-tulisanmu yang kurang ajar. Orang-orang baik terkadang harus rajin dipancing. Kalau tidak, mereka nyaman terus dengan kebaikannya. Atau dengan kata lain, menulislah dengan frasa, klausa, dan kalimat-kalimat kurang ajar, kendati menyangkut hal yang sedang digandrungi banyak orang, agar banyak orang terpancing emosinya untuk belajar menulis buat menzalimi tulisanmu”.

Pada titik ini sudah sering dijumpai tulisan-tulisan ‘kurang ajar’ yang berseliweran di media cetak (biasanya dijumpai pada perang opini di surat kabar, yang menurut saya ada saja tulisan-tulisan yang ‘kurang ajar’ untuk memancing amarah orang atau kelompok tertentu) sampai dengan tulisan-tulisan di medsos (entah itu hanya cuitan saja, status saja, atau opini). Khusus media yang sebut terakhir ini (medsos), lebih banyak dan sering saya jumpai di Facebook dan Twitter (mungkin di medsos lain juga, tetapi saya cenderung menjumpai di 2 medsos tadi yang kebetulan lebih sering saya gunakan).

Menulis adalah senjata. Bagi Musmawarman Abdullah bahwa tidak mungkin kita berperang dengan bedil terus menerus. Jika demikian matilah semua keponakan yang kita punya kelak (bukan hanya keponakan saja sebenarnya tapi semua kenalan kita juga, saudara dan teman-teman kita juga, orang yang kita kenal juga). 

Belanda kewalahan memerangi Aceh dengan senjata sehingga mereka nyaris balik ke Batavia, sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa orang Aceh berperan bukan hanya dengan bedil, tetapi dengan sastra, yakni Hikayat Prang Sabi. Dan Akhirnya Belanda meminta bantuan Snouck Hurgonje untuk memerangi Aceh dengan sastra juga. Alhasil, dalam waktu singkat nyaris semua orang penting Aceh masuk perangkap. Perang Aceh menggambarkan bahwa kata-kata bisa jadi senjata.

Musmawarman Abdullah juga dengan provokatifnya mengajak kita untuk menulis dengan gaya kurang ajar untuk mendobrak sekat-sekat kenyamanan orang-orang baik yang selama ini diam saja ketika terjadi persoalan-persoalan yang menyengsarakan masyarakat, mengajak orang untuk rajin membaca dan menanggapi maksud dan tujuan tulisan kurang ajar yang berseliweran di berbagai media. 

Tapi saran saya agar jangan kelewat kurang ajar, karena kurang ajar juga ada sanksinya, yang lagi-lagi menurut Musmawarman Abdullah, seperti bogem mentah di jidat, yang membuatmu segera merapat ke puskesmas terdekat, namun di sisi lain juga telah berhasil membuat orang-orang berkepala batu menjadi rajin membaca. Mudah-mudahan setelah terkena bogem mentah, kita juga semakin mengerti bahwa tulisan adalah senjata, dan senjata bisa "makan" tuan juga.

Tulisan bisa juga hanya (berisi) omong kosong saja. Hal ini banyak juga saya temukan di area medsos dan juga dalam buku. Bahkan menurut Mohamad Sobary bahwa banyak buku omong kosong menyergap kehidupan kita. Dan omong kosong itu kian merayap kemana-mana. Mereka yang cacat politik, cacat moral, dan cacat sosial menerbitkan buku omong kosong untuk menghapus kecacatan mereka. 

Tapi menurut saya ini tidak seberapa. Media massa termasuk media online kini menuliskan omong kosong-omong kosong yang tidak kalah fantastisnya (tentu tidak semua media begitu). Omong kosong itu (baik berupa laporan-laporan tentang peristiwa-peristiwa tertentu, atau wawancara tentang hal-hal tertentu) kemudian diteruskan tautannya (untuk media online) oleh orang-orang tertentu juga sebagai informasi penting gak penting di medsos. 

Orang-orang ini mudah-mudahan orang-orang kurang ajar yang tergerak hatinya untuk menerobos zona-zona nyaman orang-orang baik yang sudah cukup lama bersembunyi dan berebut gua dengan manusia purba. Kalau mereka tidak kurang ajar, kemungkinan otak mereka dipenuhi omong kosong belaka. Dan saking omong kosongnya, otak mereka tidak mampu lagi mengenali tulisan-tulisan omong kosong atau tidak.

Mohamad Sobary dalam tulisannya menjadi sangat cemas dengan buku omong kosong yang semakin banyak menyergap kehidupan kita. Buku yang dulunya menjadi “guru” kini mudah dikapitalisasi-sebenarnya dimanipulasi-menjadi dagangan politik, rohani, dan bisnis. Kita didesak-desak oleh buku yang tidak ada manfaatnya.

Tapi Mohamad Sobary dan kita semua tentunya, harusnya lebih cemas dengan tulisan-tulisan di media online juga medsos yang banyak manipulasi, yang memuat omong kosong, pembodohan, dan tidak mendidik. Dan kita harus semakin cemas ketika tulisan-tulisan tersebut dibagikan secara bebas -terserah gue lah-di medsos, entah sebagai bentuk keseriusan atau keisengan saja. Sadar atau tidak, hal tersebut sama saja dengan sedang memperpanjang omong kosong yang ada, mendukungnya, dan akhirnya membodohi kita juga. Parah!

Terus pertanyaannya kita harus bagaimana? Meminjam ungkapan Benjamin Franklin :  “Tulislah sesuatu yang layak dibaca atau lakukan sesuatu yang layak untuk ditulis (either write something worth reading or do something worth writing)”. Tulislah sesuatu yang layak dibaca (dengan gaya kurang ajar atau tidak itu terserah), kemudian sebarkan (terserah juga mau di media mana saja). Cukup itu saja dulu.