Berselang sebulan setelah dipecat dari toko elektronik “Masa Depan Cerah”, Indra memutuskan untuk kerja secara freelance. 

Tak ia mengumpat Udin, pemilik “Masa Depan Cerah”, memecatnya. Menurut selentingan kabar yang Indra dengar, Udin memecatnya karena sering tidur di toko. Memang kadang pembeli datang secara tiba-tiba. Lihat penjaga toko ketiduran menimbulkan kesan kurang sedap.

Selain harus melayani pembeli di toko, Indra juga seorang tukang pasang parabola—lazim di pedesaan orang menggunakan parabola untuk bisa nonton siaran televisi nasional. Tenaga memasang parabola itulah yang diharapkan oleh “Masa Depan Cerah” sebenarnya.

Terdengar kabar oleh Indra, Udin sudah menemukan tukang pasang parabola yang baru untuk tokonya. Adalah Asoi, tak lain orang sekampung Indra.

Kurang tepat pemecatan Udin terhadap Indra sebenarnya. Mengingat Indra baru empat bulan menikah. Tentu butuh penghasilan tetap bagi seorang Indra agar dapur rumah tangganya terus mengepulkan asap.

Di sisi lain, teringat oleh Indra, bukankah sejak beristri ia jadi sering ketiduran di toko. Jelas, setiap malam istrinya tak boson-bosan ngobrol dengannya sampai waktu dini hari—jika mereka tak sedang bercinta. Mendengar omongan istrinya tiap malam, mau tak mau Indra harus meladeni. 

Istri Indra sering mengangkat permasalahan tentang rumah papan yang mereka tinggali—bekas kedai sebenarnya, milik orangtua Indra. Istri Indra, bernama Nila, memimpikan, kalau nanti tabungan Indra cukup untuk mengubah rumah papan mereka menjadi rumah beton. Setidaknya setengah beton.

Tentu tabungan Indra ada, tapi tak banyak. Tak banyak itu buat jaga-jaga saja. Belum lagi sampai untuk bisa membangun.

Dan kini, setir harus dibanting. Indra memilih jadi freelance. Sebagai tukang pasang parabola. Menjual nama dari toko ke toko.

Sebuah sepeda motor Supra-X yang sudah tak jelas bentuknya menjadi andalan profesi Indra. Kunci yang sesuai dengan payung parabola sudah tersedia di jok sepeda motor itu.

Jika ada orang membeli parabola di sebuah toko, kebetulan tidak bisa memasangnya, atau tidak punya waktu pemasang dari toko, atau tidak pula tahu sispa yang akan memasang, silahkan saja hubungi Indra lewat hp.

***

Dari setiap pelanggannya Indra terkenal, sejak ia jadi freelance, tak pernah mematok upah memasang parabola. Berapa diberilah. Serta-merta itu membuat orang senang terhadapnya.

Tersebut Sansai, seorang tukang pasang parabola di toko Anu, sudah diberi upah pasangnya oleh toko, sampai di rumah pelanggan—setelah parabola dipasang—meminta lagi upahnya kepada pemilik parabola.

Indra hanya tersenyum kecil mendengar kisah Sansai itu ketika ia selesai memasang parabola di sebuah dusun dekat muara—jalan ke dusun itu memintas, karena jalan utamanya dihadapkan oleh jembatan yang putus.

Sansai menyetel parabolanya kurang pas. Tiga hari parabola terpasang, setengah siaran sudah hilang. Gambaran itu sangat kontras dengan Indra.  

“Mau MPEG 2, MPEG 4. LNB 2 atau LNB 4,” kata Indra biasanya kepada calon pembeli ketika ia menerima pesanan.

Memang kadang Indra menerima pesanan payung parabola dan receiver serta LNB . Biasanya orang cuma punya tv, sedangkan parabola yang lama sudah rusak. Malas datang ke toko elektronik dan membeli kepada Indra saja lewat hp. 

Indra biasanya mengambilnya di toko elektronik dengan bayar dulu pakai uang pribadi. Lalu menjualnya kembali kepada si pembeli dengan mengambil keuntungan tak banyak. 10 % saja.

Lambat-laut kebiasaan Indra yang “pemurah” diketahui istrinya, Nila. Yang lantas membuat Nila uring-uriangan sehari. Malamnya Nila memunggungi Indra di dipan. Besoknya, sesudah makan lontong sayur, Nila mengajak Indra berbicara secara serius.

“Benar Uda tidak mematok upah untuk pasang parabola,” kata Nila di palanta depan rumah mereka.

“Aku tidak pandai menyebutkan angka, Nila. Tahu sendiri. Orang yang memasang parabola itu ada juga yang miskin, lebih parah dari kita.”

“Kalau miskin mengapa membeli parabola?”

“Kau tahulah di kampung. Parabola sudah seperti kebutuhan pokok. Mereka suka hiburan. Sama seperti mereka suka merokok. Atau bahkan, sama dengan beras oleh mereka.” 

“Iya kalau orang miskin yang memasang parabola. Kalau orang kaya, Uda tetap tidak mematok harga.”

“Sudah aku sebutkan. Aku tidak pandai menyebutkan angka.”

“Kalau begitu enak oleh orang, Uda,” kata Nila seperti mengultimatum. Dan beranjak.

“Belum lagi rencana kita untuk membeton rumah. Masih jauh berarti,” sambungnya.

Lalu, berjalan ke dalam rumah tanpa menengok lagi ke belakang.

Tinggallah Indra seorang bermenung sembari memandang sepeda motornya. Timbul bimbang di hatinya. Antara memperturutkan kebiasaannya atau mendengar kata-kata istri.

***

Kepandaian memasang parabola Indra dapat secara otodidak. Pernah pergi dengan Gantak memasang parabola. Tapi dengan Gantak Indra hanya diajari cara-cara memasang baut dan kunci apa yang musti dipakai, yang bagi Indra tidak perlu diajari. 

Tugas Indra sewaktu pergi dengan Gantak adalah melihat tv dalam rumah. Sedangkan di luar, Gantak menyetel payung parabola.

Indra hanya perlu berteriak lemah, biasa, sedang, atau kuat saja tentang sinyal parabola dari dalam rumah.

Tentu Indra dengan tekun memperhatikan Gantak ketika menyetel receiver parabola. Dari memperhatikan Gantak itulah ia mulai tahu sedikit demi sedikit. Yang lantas, dicobanya di sebuah parabola kawannya yang kebetulan hilang sinyal Metro Tv dan Indosiar.

Ternyata Indra mendapatkan kedua sinyal itu kembali. Semenjak itu ia lebih giat lagi belajar—antara lain juga melihat di internet.

Upahnya ikut dengan Gantak hanya bisa membeli nasi sebungkus saja di ampera. Gantak kemudian pergi merantau, yang lantas tinggallah Indra. Lalu, Indra melamar bekerja di toko “Masa Depan Cerah”. Di toko “Masa Depan Cerah” lah kemampuan memasang parabola semakin terasah.

***

Sudah tiga hari suami-istri itu tidak bertegur saja. Mandi, mandilah. Masak, memasaklah. Makan, makanlah. Tidur, tidurlah. Serba cuek. Bisu seperti batu. Dan akhirnya perasaan perempuanlah yang mengalah.

Malam harinya Nila berbicara kepada Indra di dipan.

“Bagaimana kalau aku ikut memasang parabola, Da.”

Seketika Indra terperanjat. Seperti petir di siang bolong kata-kata Nila itu. Perempuan ikut memasang parabola. Suami-istri pergi memasang parabola. Apa kata orang-orang?

“Ada-ada saja yang kau pikirkan, Nila. Malau aku. Malu aku nanti bawa istri memasang parabola. Tidak pernah dibuat orang itu.”

“Pokoknya aku ikut. Biar aku yang menyebutkan upah pasang. Kalau tidak, bagaimana hidup kita akan berlebih, Uda.”

Indra menghela napas.

“Kalau tidak boleh ikut, kita tidak akan bertegur sapa terus di rumah ini. Mau Uda selamanya begitu.”

Indra sekali lagi terperanjat.

***

Setelah menimbang semalam suntuk. Akhirnya Indra ambil keputusan. Ia membolehkan Nila ikut dengannya memasang parabola.

“Bentuk itu. Biar kita bisa membeton rumah,” kata Nila pagi itu sambil tersenyum.  

Di hari-hari selanjutnya, pelanggan akan kedatangan suami-istri berboncengan di atas sepeda motor datang ke rumah jika ada kebutuhan jasa pemasangan parabola di kampung kami dan sekitarnya.