Surat Pertama

Hai kamu yang tengah duduk di kursi nyamanmu. Hari ini aku tengah melihat kendaraan yang berlalu lalang dari jendela atas tempat kerjaku, tak lupa sebatang pohon mangga yang bertengger manis di depan kantor tempatku bekerja.

Kali ini aku ingin menulis surat untukmu, ya, kamu yang kadang tiba-tiba muncul dalam benakku. Tapi tak apa, aku sudah bisa mengatasi pikiranku, tentunya dengan bantuan dari Tuhan yang tak pernah diam.

Saat pertama kali melihatmu, tak sedikit pun aku tertarik padamu. Karena aku berpikir kamu orang yang jutek, jadi buat apa aku harus bersusah payah mengenalmu. Namun, pikiranku salah kamu tidak jutek, kamu hanya orang pemalu bahkan untuk sekedar menyapaku.

Ah, sepertinya penilaianku padamu telah berubah 180 derajat sebab ternyata kamu adalah laki-laki baik yang mampu menghormati wanita. Oh... aku jadi merasa tersanjung dengan perlakuan manismu padaku, hingga terkadang aku tersenyum sendiri mengingat sikapmu padaku.

Entah sejak kapan ada rasa lain yang menyusup ke dalam kalbuku, aku pun tak bisa menyalahkan sikapmu dengan rasa yang ada di dalam hatiku. Tapi kuharap ini takkan menjadi perasaan yang membelengguku pada kehancuran, sepertinya aku harus mulai memasang tameng agar aku bisa mengendalikan kecamuk rasaku.

Ya sudahlah cukup sampai di sini saja suratku kali ini, lain waktu aku akan menulis lagi surat untukmu. Semoga kamu tak jemu dengan tulisan-tulisan aneh dariku.

Surat Kedua

Malam ini aku merasa sangat lelah, mungkin karena 4 malam sebelumnya aku kurang tidur. Sungguh bukan karena aku memikirkanmu, tapi aku merenungkan apa yang sebenarnya harus kulakukan untuk membentengi hatiku. Ternyata jawabannya Tuhan bisikkan di sepertiga malam-Nya, ketika keheningan menemaniku.

Kamu pun tenang saja, aku akan baik-baik saja kok. Meski kita berada di tempat yang sama, tetapi kita seperti orang asing yang tak saling menyapa, aku akan tetap baik-baik saja, sebab aku miliki DIA yang selalu menguatkanku.

Ah, sepertinya malam ini suratku hanya ini saja, aku akan menulis kembali surat untukmu, yang mungkin suatu saat nanti kamu akan membacanya. Jangan lupa berdoa dan selamat beristirahat.

Surat Ketiga

Hari ini mendung, sepertinya mentari sedang ingin bersantai tanpa menampakkan sinarnya. Kulihat kamu tengah bersiap untuk pulang ke kampung halamanmu. Hati-hati di jalan saja ya, sampaikan salamku untuk keluargamu di sana, tapi apa kamu akan tahu apa yang kutulis ini. Tak apalah yang penting aku sudah mengatakan.

Mungkin aku akan merindukanmu atau aku cukup memendamnya dalam diam? Ah, memikirkan itu hanya membuatku pusing. Lebih baik aku fokus saja pada hal lain yang saat ini tengah aku kerjakan, salah satunya mempersiapkan acara wisuda yang semakin dekat dengan hari H.

Selamat jalan laki-laki bersuara lembut, take care dan jangan lupa bawa oleh-oleh ya atau buah tangan yang lain, mungkin kabar bahagia dari keluargamu yang berhubungan denganku. Oh tidak, sepertinya aku mulai terlalu banyak berkhayal, hati-hati saja di jalannya dan selamat sampai tempat tujuanmu. Tunggu surat lanjutanku ya.

Surat Keempat

Pagi ini rasanya aku malas untuk bangun dari tempat tidurku, terlebih ketika kulihat di jendela kamarku langit masih mendung dan terdengar suara rintik hujan kecil. Tapi aku masih tetap harus bekerja, jadi kusibak selimutku dan mulai bangkit untuk segera bersiap berangkat bekerja.

Oh ya, hari ini kamu masih di kampung halamanmu kah atau sudah kembali ke kota rantaumu untuk segera kembali menjalani rutinitasmu? Ehm, sekali lagi aku memikirkanmu. Seharusnya aku fokus mengerjakan pekerjaanku bukannya sedikit-sedikit teralihkan dengan lintasan senyummu.

Hai, laki-laki bersuara lembut, sudah seminggu lebih kita bak orang asing, kuharap ada kabar bahagia kan datang padaku, tak seperti langit kelabu hari ini. Namun, tetap saja aku harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Ya, aku harus bersiaga dengan segala takdir yang tak seindah angan.


Surat Kelima

Seminggu terakhir ini cuaca mendung diselingi hujan, kadang aku malas untuk berangkat bekerja terlebih selimut dan tempat tidurku seolah melambai-lambai untuk kunikmati. Tetapi aku harus tetap semangat, bukankah kamu pun sudah kembali ke kota tempatmu meniti karir.

Hubungan kita masih sama saja, masih berjalan di tempat sepulang dirimu dari kampung halamanmu. Meski kadang kamu menyapa, tapi tetap saja ada jarak di antara kita. Lalu bagaimana dengan perasaanku, aku sudah berusaha menekan segala imajinasiku tentangmu, namun nyatanya rasa yang ada enggan untuk bergeser dari dalam hatiku.

Seharusnya, aku sadar bahwa keberharapan pada hal yang fana takkan bisa menjadi pengokohan. Ada Dzat yang tak kasat mata Yang Maha Menentukan segalanya, pada-Nya lah aku harusnya berharap. Tetapi tak dapat kupungkiri ada sepercik api harapan padamu yang mungkin kan memberikan cahaya bintang dalam hidupku.

Surat Keenam

Ini surat keenam yang kutulis untukmu dan entah kapan aku berani memberikannya kepadamu. Akhir-akhir ini engkau semakin menjauh dan asing di mataku, kamu malah semakin terlihat dekat dengan wanita dari seberang kantormu. Apa mungkin ini saatnya aku mengubur semua perasaanku dan merelakan hatiku terluka dengan melihatmu bersamanya?

Aku masih tak menemukan jawaban yang tepat, karena jujur aku takkan sanggup untuk melakukan itu. Tapi aku tak bisa egois ketika dengan mataku sendiri, aku melihat kilatan emosi yang tak pernah engkau tunjukkan padaku kamu perlihatkan padanya. Sepertinya itu sudah menjadi jawaban mengapa akhir-akhir ini kamu cenderung mengabaikanku.

Mungkin aku benar-benar harus melepaskan perasaanku, dan melihatmu bersamanya. Oke, selamat tinggal cinta dalam diamku dan semoga engkau bahagia laki-laki bersuara lembut.

Surat Ketujuh

Ini surat ketujuh dan terakhirku untukmu, mungkin ini juga akan menjadi pertemuan terakhir kita karena aku akan segera berpindah dari kota ini. Kota yang selalu berselimutkan kabut dengan keindahan alam yang tak pernah kulihat di kota kelahiranku. Aku memilih menerima penawaran promosi jabatanku ke kota lain, karena aku ingin menata hatiku kembali.

Aku sungguh terhenyak ketika dengan ringannya kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu dengan wanita di seberang kantormu telah menjalin hubungan. Saat itu aku seakan tak bisa bernapas seolah udara di sekitarku lenyap tak bersisa, tetapi kebahagiaan di wajahmu tak kunjung surut yang membuatku tersadar bahwa aku telah terlambat untuk mengungkapkan perasaanku.

Wahai laki-laki bersuara lembut aku pamit, semoga engkau bahagia dengan pilihanmu, tolong jangan berikan perhatianmu lagi kepadaku. Seperti kata-kataku di awal surat ini, aku akan baik-baik saja. Namun beri aku waktu untuk membuat semuanya baik kembali, sampai saat itu tiba kuharap kita takkan pernah bertemu.