Bahasa pengantar komunikasi (lingua franca) yang sifatnya biasa atau reguler sering ricuh dengan bahasa suci (lingua sacra) yang banyak terdapat pada kalam Tuhan di kitab suci.

Lingua sacra atau bahasa liturgis adalah bahasa yang dibudidayakan dan digunakan terutama untuk ibadah keagamaan atau alasan keagamaan lainnya.

Ketika bahasa dikaitkan dengan ibadah dan para penganutnya telah memberikan suatu ciri kebajikan kepada bahasa ibadah, maka pada waktu itu pula mereka dengan sengaja tidak memberikan keistimewaan kepada bahasa pengantar komunikasi atau bahasa ibu mereka (lingua franca).

Apakah lingua sacra merupakan produk kebahasaan lingua franca atau produk ketuhanan?

Berkaitan dengan hal ini, sering terjadi perdebatan yang memicu kontroversi, khususnya timbulnya sektarianisme kalam pada masing-masing agama.

Sebagai contoh, untuk mengerti isi sebuah kitab suci yang penuh dengan lingua sacra atau bahasa liturgis, maka salah satu syarat mutlaknya adalah menguasai bahasa pengantar (lingua franca) di mana kalam (lingua sacra) tersebut diturunkan.

Misal, untuk mengerti Alquran sebagai lingua sacra, maka harus paham Bahasa Arab sebagai lingua franca untuk menggali kandungannya. Untuk mengerti Alkitab Ibrani harus mengerti bahasa Ibrani dan lain sebagainya.

Pada umumnya mandat yang diberikan Tuhan kepada wakil atau pesuruhnya di bumi yang berupa Nabi, Rasul, atau sejenisnya yang hanya ditujukan pada lokal wilayah tertentu yang dibatasi oleh jangkauan bahasa pengantarnya (lingua franca).

Ini berarti lingua sacra mengekor pada lingua franca setempat dan bukan sebaliknya, lingua franca mengekor pada lingua sacra.

Jika lingua franca mengekor pada lingua sacra, maka yang terjadi adalah miskomunikasi. Umat pasti kebingungan dengan bahasa liturgis (lingua sacra) yang tak mereka pahami. 

Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara lingua franca dan lingua sacra. Tanpa kemampuan lingua franca yang baik, maka kumpulan lingua sacra pada kitab suci akan menjadi onggokan kata-kata yang tak berarti.

Kesucian sebuah lingua sacra sangat bergantung pada kemampuan penguasaan lingua franca di mana kalam tersebut diturunkan.

Makin kacau lingua franca-nya, makin kacau pula pembacaan dan penggalian makna lingua sacra-nya. Lingua franca menjadi syarat mutlak untuk menarik makna dari pesan-pesan yang terkandung di dalam kalam tersebut.

Sakralitas bahasa suci (lingua sacra) milik Tuhan berkaitan erat dengan kemukjizatan yang pernah ditampilkan. Misal, susahnya meniru keindahan dan rumitnya kekacuan (rasa arbitrer) bahasa Tuhan.  

Dengan begitu, maka muncul pandangan bahwa bahasa kitab suci itu berbeda dengan bahasa pengantar (lingua franca) yang sifatnya reguler atau biasa tadi itu. Apakah ini benar?

Jika benar, bahwa bahasa kitab suci itu berbeda dengan bahasa pengantar komunikasi, kenapa mudah dan bisa dimengerti?

Pada perkembangan selanjutnya, hal tersebut menimbulkan perdebatan teologis, apakah Tuhan itu sebagai pencipta (kreator) bahasa suci (lingua sacra) atau sebaliknya sebagai pengguna (klien) juga?

Jika Tuhan sebagai pencipta lingua sacra, kenapa ada kanonisasi kitab suci yang sangat subjektif sekali dengan lingua franca?

Kanonisasi yang dimaksud mencakup lima proses utama: komposisi, sirkulasi, revisi koleksi, dan pengakuan atau rekognisi.

Konsep sakralitas lingua sacra merupakan kata kunci dalam proses kanonisasi teks kitab suci sebagai teks yang memiliki otoritas. Namun, karena lima proses utama yang tersebut di atas, justru akan mereduksi sakralitas alias mengalami desakralitas teks.

Pun begitu, konsep sakralitas ini berangsur-angsur turun dengan adanya penyebarluasan agama ke luar wilayah lingua franca setempat. Perbedaan-perbedaan konten kitab suci menunjukkan bahwa Tuhan telah sukses berubah menjadi klien mereka.

Hal ini dibuktikan dengan adanya produktivas “versio interpretum” atau penerjemahan lingua sacra pada kitab suci tertentu tanpa menyertakan bahasa sumber.

Wacana linguistik lingua sacra telah menjadi obyek material yang diolah secara leluasa para penafsir masoretik dan penafsir retorik.

Aktivitas penafsiran paling tidak telah menurunkan sakralitas lingua sacra. Dalam artian, lingua sacra itu tak jauh beda dari lingua franca. Kemunculan tipologi retoris dalam tafsir merupakan salah satu konsep metafora bahasa komunikasi biasa (lingua franca).

Tidak bisa dimungkiri, spekulasi penafsiran pada gilirannya juga harus berhadapan dengan artikulasi sastrawi dari bahasa setempat. Seperti halnya pada Alquran, akan selalu ada persingungannya dengan tradisi retorika Arab.

Salah satu persinggungannya adalah majaz (ekspresi figuratif) pada Alquran sebagai lingua sacra, dan majaz pada Bahasa Arab sebagai lingua franca.

Bentuk ekspersi figuratif atau majaz paling awal dari Bahasa Arab adalah dua pola, yaitu elipsis (hadzf) dan peringkasan (ikhtisar).

Namun, elipsis dan peringkasan ini telah dijadikan keistimewaan atau sisi superioritas tersendiri pada lingua sacra yang ada di Alquran. Padahal, keduanya; baik elipsis ataupun peringkasan, sudah biasa atau telah ada di dalam gramatikal Bahasa Arab sejak awal. 

Ini berarti pula bahwa pembedahan elipsis dan peringkasan lingua sacra pada Alquran dapat dilakukan dengan memakai Bahasa Arab reguler atau biasa.

Hegemoni lingua sacra pada Alquran adalah ketika fungsi profan dari retorika Bahasa Arab reguler mulai ditinggalkan dan menuju fungsi yang sakral, atau setidaknya, telah menjadi inferior di bawah fungsi sakral tersebut.

Padahal, salah satu tolok ukur utama dalam transisi dari tafsir tekstual (masoretik) ke tafsir retoris (retorik) adalah status Bahasa Arab itu sendiri sebagai lingua franca.

Istilah eksegese berarti membawa keluar atau mengeluarkan. Apabila dikenakan pada tulisan, maka kata tersebut berarti membaca atau menggali arti tulisan-tulisan tersebut. Dan ini terjadi pada sebagian besar lingua sacra pada kitab suci. 

Kopulasi antara eksegese dengan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer (manasuka), akhirnya membuat perbedaan antara lingua sacra dan lingua franca makin menipis alias tak jauh beda. 

Pengertian bahasa liturgis atau lingua sacra yang seringkali diartikan sebagai bahasa yang diucapkan dan ditulis dalam masyarakat di mana teks-teks suci agama pertama kali ditetapkan, akhirnya hanya bertahan di awal saja. 

Teks-teks suci yang diharapkan akan tetap, beku dan kebal terhadap perkembangan linguistik hanya tinggal kenangan. Dalam kasus ini, akan selalu ada ketakutan kehilangan keaslian dan keakuratan akibat terjemahan atau terjemahan ulang.

Bahasa liturgis yang semula dipegang dengan kesungguhan dan martabat yang tidak dimiliki oleh bahasa sehari-hari, pelan namun pasti, akan terkikis oleh eksegese.