Tak lengkap rasanya tinggal di Jakarta tanpa icip-icip pemikiran para simpatisan JIL. Anda tentu akan mengatakan onggokan tanah ini sebagai Singapura—reklamasi masih berjalan bukan?—jika tak ada kultwit dari mas Ulil Abshar-Abdalla, Akhmad Sahal, dan Luthfi Assyaukanie sebagai pelopor dalam Islam ala manusia urban.

Hal ini tidak terkait karena markas JIL yang berada di Jakarta, namun pemikiran yang mereka telurkan adalah bentuk respon terhadap keresahan mengimplementasikan agama dalam atmosfer kota. Berapa banyak dari kita yang secara terbata-bata membaca al quran hanya karena jadwal kantor yang begitu padat, maksudku karena quran seringkali hanya bisa ditafsirkan secara sangat lateral di desa. Tentu Anda akan malas membaca kitab suci semacam itu, namun di satu sisi anda haus secara spiritual.  

Salah satu siasat yang dilakukan oleh beberapa kalangan adalah dengan memisahkan agama dari rutinitas sehari hari. Agama kemudian ditempatkan di akhir pekan. Beberapa mungkin melakukan penebusan dosa dengan melakukan amal sebanyak mungkin, beberapa manusia adalah politisi yang gemar bermain proyek. Cara beragama dengan melakukan split personality, dimana diberikan garis jelas antara ranah pribadi dan ranah publik.

Cara pendefinisian manusia dengan memisahkan seperti kasus banyak kaum urban adalah justru tindakan mendekonstruksi jati diri. Anda tak akan bisa disebut sebagai yang bernama “anton” jika anda hanyalah seorang kepala manager perusahaan tertentu. Anton adalah yang juga solat dengan khusyu’ di tengah malam.

Para politisi seenaknya hajatan uang rakyat karena merasa agama sedang tidak bermain di sana. Ia di sana, bermain proyek, adalah dia sebagai seorang politisi ulung, bukan politisi yang juga sekaligus islam. Baru setelah korupsi, dia melakukan bersih-bersih uang dengan sedekah ke adinda-adindanya. Apakah ini mentalitas yang kita inginkan?

Agama yang diaplikasikan bersifat semu. Karena beragama adalah masalah totalitas, tentu tak ada sebutan setengah karyawan bukan? Atau apakah ini jenis baru karyawan ala korporasi Hary Tanoe?

Pertama, agama ada untuk mencakup keseluruhan makna hidup, maksudku bukankah inti dari hidup adalah makna dan jika bahkan makna tersebut telah ditentukan oleh agama, lalu masih beranikah anda berseloroh mengenai opsi lain? Omong kosong.

Berangkat dari pemaknaan hidup itulah maka saya berasumsi beragama tak bisa dipisah-pisah, mengintegrasikan agama adalah masalah utama. Peminggiran agama adalah suatu bentuk kemunafikan. Bagaimana mungkin anda bekerja di Greenpeace sedang anda membuang sampah rumah tangga secara sembarangan. Modusnya sama, ranah kerja ia sebagai pegawai Greenpeace dan ranah privat ia sebagai seorang pembuang sampah.

Agama seakan adalah hanya bagi pemenuh masa tua, sebuah bentuk manifestasi dari peminggiran agama di akhir pekan. Betul bahwa agama Islam tumbuh tidak dalam atmosfer urban dan hingar-bingar industrialisasi. Ia lahir dari remah-remah kebesaran Persia dan Romawi. Mekkah hanyalah sebuah Indonesia, sedang Persia dan Romawi adalah Amerika dan China. Maka kemudian memang sewajarnya menoreh kata Islam di kota seakan mustahil dilakukan.

Jika anda adalah seorang pemuda yang tinggal di desa, beragama justru menambah amunisi kehidupan. Anda adalah pemilik ladang sehingga bisa dengan mudah solat sesuka hati. Waktu anda pergi dan pulang tak pernah dibatasi, ini menjadi alasan mengapa dulu para anggota PKI adalah mereka yang juga masih sangat religius, walaupun dengan begitu terburu-buru komunisme dianggap sama dan sebangun dengan ateisme dewasa ini.

Seringkali beragama hanya bisa dilakukan oleh mereka kelas bawah, dan kelas atas yang sudah betul-betul baik secara keuangan dengan mengikuti kelas-kelas yoga—yang tentu saja mahal. Dan bukankah menjadi seorang vegetarian mengharuskan anda kaya terlebih dahulu? Kaum menengah lah yang terus saja dilematis. Mengikuti yoga mungkin bisa, namun sekaligus juga harus tetap mencicil macbook yang baru beberapa bulan lalu dibeli.  

Bukti dimana Tuhan tak pernah hidup di kota adalah dengan melihat pengajian yang begitu digemari. Ribuan jamaah manusia kota datang berbondong-bondong mendengarkan ceramah ala-ala dari artis ulama ibu kota. Sebab itu pula mengapa yoga begitu diminati di kota-kota, karena selama 5 hari dalam seminggu ribuan kaum menengah urban tak pernah bercumbu dengan spiritualisme. Kerinduan yang membuncah menjadikan mereka berduyun-duyun ingin mendapatkan siraman rohani.

JIL yang kemudian melihat kegalauan masyarakat menengah urban dalam mengimplementasikan Islam mencoba menjembatani dengan memberikan tafsir-tafsir yang lebih lunak. Mereka menawarkan toleransi terhadap teman-teman LGBT, dimana kita dilematis karena sahabat yang begitu baik di kantor kita baru saja come out sebagai seorang gay.

Mustahil tetangga ladang seorang petani come out sebagai seorang gay, selain karena konsep gay sepertinya hanya beredar di masyarakat urban, desa adalah tempat dimana hal terbaik adalah berbaur dan menjadi satu dalam sistem masyarakat—kembali pada struktur. Problem LGBT tampaknya lebih dekat dengan keseharian masyarakat urban.

Upaya mereka cukup baik, karena agama pada dasarnya adalah integralisasi kehidupan, munafik jika memisahkan agama dari pergumulan sehari-hari dan kemudian menempatkannya dalam kolom ktp, atau akhir pekan saja. Ingin dianggap “baik” dengan tetap beragama namun hanya memberikan porsi seadanya saja. Moralitas macam apa?

Bentuk beragama seperti ini yang bisa diterima di masyarakat urban. Kota terlalu kompleks untuk hanya masalah haram dan halal. Dalam perkembangan logika contohnya sudah tak lagi memberlakukan dikotomi keras antara hitam dan putih, salah dan benar, dan lebih mengarah pada gradasi.

Akankah kita mengabaikan temuan-temuan ilmiah mengenai LGBT dan mengikuti kekolotan fatwa untuk membunuh teman-teman LGBT. Yang benar saja, bahkan para petani di desa tak pernah secara brutal seperti Freeport mengolah lahannya, karena bagi petani alam adalah bagian dari kehidupan. Dan agama justru paling utuh bisa dimaknai di desa-desa.

Jika anda kesusahan memakai jubah agama, mudah saja, tinggalkan. Tak perlu takut dianggap amoral, rasionalitas seringkali lebih banyak bermain untuk putusan-putusan ter-etis. Atau sebaliknya, anda bisa mengimplementasikan Islam seluruhnya, tanpa memotongnya berdasarkan durasi keberagamaan. Dan JIL memberikan jalan keluarnya, lewat tafsir lunak menggunakan filter fakta realita. Karena Yoga seringkali jauh dari jangkauan kantong manusia menengah ngehek urban kota.