Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dari suatu kepercayaan yang berhak dalam melakukan segala sesuatu.Tidak ada kesepakatan secara resmi mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain.

Dalam pandangan teisme, Mereka percaya mengenai kuasa dan keberadaan Tuhan yang merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Sementara menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. 

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa berbagai sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Konsep Tuhan secara umum sebenarnya berhubungan dengan zat yang memiliki kekuatan spiritual yang kuat dan mampu menciptakan alam semesta. Hampir semua agama di Indonesia percaya dan memahami konsep Tuhan.

Suatu ketika, saya menghadiri sebuah kelas “World Religion” di mana kelas tersebut membahas mengenai agama dari penjuru dunia. Guru saya menerangkan tentang konsep dalam agama Buddha, Jainisme, dan Taoism. Hal yang membuat saya tertarik adalah persamaan konsep ketuhanan mereka.

Agama Budha, Jainisme, dan Taoism memiliki konsep Tuhan yang berbeda dengan agama lainnya. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan dalam pengertian mereka sedikit berbeda dengan kepercayaan Tuhan agama lain.

Satu hal yang sedikit unik dari ketiga agama ini adalah mereka tidak menyembah Tuhan yang spesifik, namun mereka mempercayai adanya kehidupan akhirat dan kehidupan di dunia ini seperti lingkaran, tidak memiliki awal dan akhir. Semua yang dialami di kehidupan akhirat adalah karma dari kehidupan mereka di dunia.

Lalu, ini sangat menarik perhatian saya. Bagaimana bisa mereka tidak memiliki Tuhan tertentu tapi mempercayai adanya kehidupan setelah akhirat.

Dalam konteks agama Buddha, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam adalah sesuatu yang "tanpa Aku" (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan (tidak memiliki kepribadian) dan tidak dapat diuraikan seperti apa pun wujud serta rupanya.

Agama Buddha sangat menekankan ajaran Sidharta Gautama. Sebenarnya, Sidharta Gautama bukanlah seorang Tuhan yang disembah, ia adalah hanya seorang pemimpin ajaran agama Buddha yang membawa pengikutnya mencari kebebasan dan kehidupan yang lebih baik.

Ibadah umat Buddha lebih fokus pada hukum spiritual mengenai alam semesta untuk mencapai pencerahan diri sehingga sampai pada akhir dari nafsu yang menyebabkan semua penderitaan kelahiran, usia, tua, penyakit, kematian, kepedihan, ratapan, dan keputusasaan bisa dilepaskan.

Tujuan utama dari Umat Buddha adalah pembentukan karakter dan pelatihan mental. Umat buddha menjalankan agamanya tanpa bertujuan pada surga atau tanpa mengembangkan rasa takut pada neraka. 

Tugas mereka adalah menjalani hidup yang benar dengan menegakkan sifat-sifat manusiawi dan kedamaian pikiran serta membebaskan hal-hal yang menyebabkan nafsu dan kesengsaraan.

Sementara itu, konsep kehidupan akhirat dalam agama Buddha sangat berhubungan dengan karma dan reinkarnasi. Mereka percaya bahwa reinkarnasi adalah sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan di kehidupan sebelumnya di dunia. 

Oleh karenanya, Buddha sangat menanamkan ajaran moksha. Moksha dilakukan untuk membebaskan nafsu dan kesengsaraan dalam kehidupan.

Di sisi lain, konsep ketuhanan Jainisme juga hampir sama dengan agama Buddha. Jainisme percaya bahwa alam semesta dan semua substansinya adalah abadi. Ia tidak memiliki awal atau akhir sehubungan dengan waktu. Alam semesta berjalan atas kemauannya sendiri oleh hukum alam yang telah berlaku.

Namun Jainisme percaya adanya Tuhan, bukan sebagai pencipta, tetapi sebagai makhluk yang sempurna. Ketika seseorang menghancurkan semua karmanya, ini berarti tandanya ia bisa menjadi jiwa yang terbebaskan dan tinggal dalam kondisi yang sangat bahagia di Moksha.

Dalam Jainisme setiap makhluk hidup memiliki potensi untuk menjadi Tuhan. Karenanya, Jain tidak memiliki satu Tuhan, tetapi Dewa Jain tak terhitung jumlahnya dan jumlahnya terus meningkat karena semakin banyak makhluk hidup mencapai pembebasan.

Jain percaya bahwa sejak awal waktu setiap makhluk hidup dikaitkan dengan karma. Tujuan utama agama adalah untuk menghapus karma yang melekat pada jiwa dan menjadi jiwa yang terbebaskan. Inti dari ajaran Jain sangat sama dengan ajaran Buddha, yaitu mencari kebebasan.

Sementara itu, agama Taoisme adalah sebuah aliran filsafat yang berasal dari Cina yang di prakarsai oleh Lao Tzu. Taoisme sudah berumur rubuan tahun, dan akar-akar pemikirannya telah ada sebelum masa Konfusiusme.

Taoisme juga sering disebut dengan agama Tao.Tao berarti kekuatan utama di dalam alam semesta yang terdapat pada semua benda, terdapat di dalam inti segala benda di surga dan di bumi, kekal abadi dan tidak dapat berubah.

Sama seperti Buddha, Taoisme juga memiliki seorang “founder” yang mengajak umatnya untuk mencari kedamaian dan kebebasan. Lao Tzu tidak mengulas sedikitpun mengenai siapakah Tuhan kaum Tao. Ia hanya menjabarkan berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menempuh jalan menuju Tuhan dan membebaskan segala kesengsaraan.

Ketiga agama tersebut terlihat sangat unik di mata saya. Meskipun berasal dari negara yang berbeda tapi ketiganya memiliki konsep yang hampir sama tentang ketuhanan. 

Buddha,Jainisme, dan Taoisme  memang tidak memiliki Tuhan tertentu untuk disembah, tetapi mereka percaya mengenai adanya Tuhan yang berkuasa. Ketiga agama tersebut sama-sama mengajarkan hidup untuk mencari kebaikan dan kebebasan dengan cara mereka masing-masing.


Referensi

https://wawasansejarah.com/ajaran-taoisme/

https://sites.fas.harvard.edu/~pluralsm/affiliates/jainism/jainedu/jaingod.htm

https://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha