I. Curahan Penyair

Seandainya aku penyair yang bertapa ditengah sepi, tentu aku bisa membuat kau jatuh cinta pada rindu-rinduku, sejatuh-jatuhnya
Akh, aku mungkin terlalu banyak berandai-andai, semua jelas, lain pula pada hal nyata ;
Aku hanya penyair kota yang dibesarkan oleh kebencian, kesibukan dan tuntutan akan uang,

Dengan begitu, aku tak sekalipun mampu membuat puisi indah yang bisa membawa ke sebuah tempat yang penuh dengan relung kasih sayang,
sungguh, perihal kadar perasaan, aku sepenuhnya yakin, tak ada yang membedakan antara penyair sepi dan penyair kota, hanya saya penyair kota tak mampu melukiskan dengan detail terkait rasa membuncah dalam jiwanya

aku dengar kabar dari karibmu, bahwa kau tak menyukai puisi, sebab kau terlalu percaya dengan tata rias wajah, tas paris dan gincu dibibirmu
Kau tidak pernah sekalipun memuliakan kata, kau selalu menyembah citra orang padakau,

Bagaimana ini ?
dari mana aku harus memulai ?
Mencoba masuk untuk menyebarkan benih-benih cinta dan menerbitkan buku puisi didalam jiwamu ?

Ingin kuadukan perkara ini ke penyair sepi, tapi dalam sangkaku; penyair manapun tak akan sanggup membuat kau mencintai kata dalam puisi bahkan menumbuhkan cintamu padaku,
Baiklah, aku akan menulis puisi tentang politik saja

II. Sajak Beruk

Terkadang aku merasa,
Aku tak ubahnya seekor beruk, yang melonjak-lonjak kegirangan ketika mendapat makan
Aku mengakui aku memang lincah, selalu mencoba mencari-cari kutu walau hanya kutu buku dan punya senyum khas, serupa beruk,

Tapi yang membedakan, aku tak bisa memanjat batang kelapa,
Aku pun tak terikat oleh tali sama hal nya dengan beruk, walau harus akui aku di ikat tali yang tak tampak kasat mata,

Kalau beruk punya tuan, aku pun punya tuan, yang membedakan tuan ku tak berada disampingku, ia dibelakang layar,
Dalam buku pelajaran, tentu saja beruk suka pisang, aku pun suka pisang, beruk suka makan pisang kawannya, aku pun juga mencuri pisang kawanku,

Tangan beruk yang panjang memaknai bahwa tanganku harus lebih panjang dari beruk,
"Aku tak ingin kalah, apalagi hanya dengan seekor beruk", bisikku dalam hati,
Tapi, aku penasaran ;
Apakah beruk meneguk secangkir kopi dan membuat sajak di kala pagi ?

Dan juga, apakah beruk jatuh cinta dengan gadis yang di pulau ?
Entahlah,

III. Perihal Kamar Mandi

Ayolah, sekali ini saja aku meminta kau untuk masuk ke kamar mandiku yang tak berpintu, lalu kau bebas mengetuk pintu masa-lalumu dan mengintip bahkan melihat dengan malu ataupun tanpa tersipu mengenai masa depanmu,

terserah kau saja,
Jikalau ragu masih menancap jua, aku berikan padamu waktu sekitar 3 menit untuk berfikir matang-matang serupa buah di batang,

Cepatlah, pikiranku gampang berubah, bisa saja dalam sekejap waktu aku membencimu dan tak lagi kuajak kau masuk kedalam kamar mandiku yang tak berpintu
Dan, kau tetap seperti itu

Tak punya masa,
Tak bisa merasai bagaimana kusamnya dinding-dinding berlumut disini,
Kau tak akan pernah tahu apa bentuk kotoran yang membuatmu geram, menderam

Kau bisa saja melihat bentuk anakmu dikemudian hari didalam sini,
Tapi, kau seolah menertawaiku
"Dan akhirnya, kau selalu saja percaya pada yang tersurat, yang tersirat kau kaburkan"

Masa lalu yang kusampaikan tadi, maupun masa depan kau tak akan mampu melihat bahkan mengintipnya.
Ini kamar mandi;
Sebentar lagi, akan kusuruh tuhan membuatkan pintu dari ketidakpercayaanmu