Di Indonesia, terdapat begitu banyak perguruan tinggi bergengsi dengan standar kualitas dan fasilitas yang begitu mempuni. Tak hanya perguruan tinggi negeri (PTN) saja, tetapi perguruan tinggi swasta (PTS) pun kian menjamur di seluruh bagian wilayah Indonesia.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristek Dikti) di tahun 2017, jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang telah terdaftar sebanyak 4.504 unit.

PTS menyumbang angka tertinggi sebanyak 3.136 unit perguruan tinggi, sedangkan PTN hanya sebanyak 122 unit. Sisanya, terdiri dari perguruan tinggi berbasis agama dan perguruan tinggi lainnya di bawah naungan Kementerian Agama atau lembaga negara dengan sistem kedinasannya.

Apalagi saat ini kita tengah berada di zaman serba teknologi digital. Segala aspek kehidupan selalu dipenuhi dengan sentuhan teknologi, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi pun mulai merambah ke berbagai bidang, seperti ekonomi, industri, kesehatan, bahkan juga dunia pendidikan.

Awalnya proses pembelajaran hanya terjadi di ruangan kelas dengan mengandalkan kertas dan papan tulis sebagai media pendukungnya. Namun sekarang, proses belajar-mengajar tidak terikat oleh ruang dan waktu lagi, melainkan telah menggunakan media internet sebagai media pendukung.  

Era digitalisasi menuntut setiap perguruan tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, agar mampu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi munculnya berbagai perguruan tinggi asing dengan model “cyber class”. 

Teknologi komunikasi digital yang tumbuh dan berkembang dengan akselerasi tinggi dapat memunculkan bentuk-bentuk pendidikan tinggi dengan teknik atau sistem pembelajaran melalui media internet, yang dikenal sebagai “virtual university”. Hal ini dapat menyebabkan munculnya peluang dan tantangan baru bagi perguruan tinggi dalam dunia pendidikan di era 4.0.

Dunia pendidikan di perguruan tinggi dituntut untuk dapat mengolaborasikan antara asas yang terkandung dalam tri darma perguruan tinggi dengan kemajuan teknologi digital di era 4.0. 

Era 4.0 kita kenal sebagai era revolusi industri, di mana segala segi kehidupan didominasi oleh pemanfaatan teknologi digital guna mempermudah aktivitas sehari-hari, terutama dalam aspek pendidikan melalui metode pembelajarannya.  

Teknologi digital, khususnya teknologi informasi (IT), dapat dimanfaatkan sebagai strategi jitu dalam meningkatkan kualitas serta keunggulan perguruan tinggi, yang mencakup kurikulum, fasilitas, pelayanan, serta sistem pembelajaran yang secara keseluruhan telah menggunakan teknologi digital.

Berikut merupakan salah satu upaya dalam pemanfaatan serta penerapan teknologi digital dalam perguruan tinggi, di antaranya melalui program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang dapat berkontribusi dalam mencerdaskan anak muda sebagai generasi bangsa.

PJJ dalam bentuk e-learning dianggap sebagai salah satu cara untuk memenuhi tuntutan pendidikan di era digital, dengan bantuan para pengajar (dosen) yang telah teruji. PJJ dianggap sebagai fenomena yang muncul dan tidak dapat dihindari di dunia pendidikan, akibat adanya kemajuan revolusi industri 4.0 yang berbasis pada cyberspace.

Metode pembelajaran e-learning dilakukan dengan cara menggabungkan antara teknologi elektronik dengan teknologi internet dalam sistem pembelajaran. Berikut merupakan deretan perguruan tinggi di Indonesia yang telah melakukan sistem pembelajaran e-learning, seperti, Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Terbuka (UT), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gunadarma, dan perguruan tinggi lainnya.  

Aturan mengenai sistem pembelajaran PJJ sendiri terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bahwasanya PJJ diartikan sebagai sistem pendidikan di mana antara tenaga pendidik dan peserta didik, tidak berada di satu tempat yang sama atau terpisah, dengan sistem pembelajaran yang mengandalkan sumber pembelajaran teknologi informasi, dan media pendukung lainnya.

Sebelumnya, metode pembelajaran ini telah digunakan oleh Amerika Serikat sejak tahun 1892. Ketika Universitas Chicago meluncurkan program pembelajaran jarak jauh pertamanya untuk tingkat perguruan tinggi, metode ini terus mengalami perkembangan seiring dengan kemunculan berbagai teknologi komunikasi informasi, termasuk satelit dan internet.

Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan pengembangan Asychronous Learning Network Web di tahun 1996, dicetuskan oleh John Bourne yang merujuk pada kemampuan dalam memberikan pendidikan kapan saja dan di mana saja melalui internet.

Pada era 4.0 ini, kita akan menghadapi wajah baru perguruan tinggi di masa sekarang maupun di masa mendatang, di mana perguruan tinggi tidak lagi mengandalkan gedung sebagai pusat sarana kegiatan perkuliahan, melainkan telah beralih fungsi dengan penerapan teknologi informasi dalam sistem pembelajaran.

Terdapat beberapa kampus yang telah menerapkan e-learning di beberapa bagian, seperti pelayanan administratif kampus, perpustakaan yang menyediakan referensi literasi digital, metode pembelajaran yang sudah menggunakan sistem online dengan bentuk clasroomless, borderless, serta pemanfaatan media sosial, maupun bidang lainnya yang dapat menunjang kemajuan dunia pendidikan.  

Menurut Muhadjir Effendi selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dunia pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi mahasiswa dalam memasuki era revolusi industri 4.0. Di antaranya, mahasiswa selaku peserta didik diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, keterampilan berkomunikasi, bekerja sama, serta kemampuan dalam berkolaborasi.

Apalagi jika menilik ke belakang, sebuah tantangan kerja sama yang telah ditawarkan pihak Universitas of California Los Angles (UCLA) tentang sistem pendidikan berbasis teknologi informasi yang diungkapkan oleh Muhammad Nasir, selaku Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia. 

Maka ada baiknya jika Indonesia lebih mengkroscek ulang untuk memperbaiki kurikulum yang dianggap tidak memadai dalam proses peningkatan mutu pendidikan menuju era 4.0

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh organisasi terkemuka di Universitas Cambridge Internasional Inggris, telah menemukan fakta baru bahwa pelajar Indonesia telah menggunakan teknologi ruang kelas lebih banyak dan berhasil mengalahkan negara yang lebih maju. 

Ini merupakan bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia sudah memiliki bekal kecakapan dan kemampuan dalam menggunakan teknologi digital. Sehingga sebutan generasi muda yang gagap teknologi alias gaptek sedikit demi sedikit dapat diminimalisasi.

Pelajar Indonesia pun menjadi salah satu pengguna teknologi tertinggi di dunia dalam bidang pendidikan. Dengan peringkat tertinggi secara global dalam penggunaan ruang komputer sebanyak 40 persen, serta menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam penggunaan komputer desktop sebanyak 54 persen setelah Amerika Serikat. 

Dan lebih dari dua pertiga pelajar Indonesia, 67 persennya menggunakan smartphone di kelas dan menggunakannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebanyak 81 persen. Data ini berhasil diperoleh melalui sebuah postingan media online bbc.com yang diunggah pada 11 Desember 2018.

Mahasiswa selaku pemikir, inovator, dan penyambung lidah rakyat serta pemimpin masa depan, diharapkan lebih memiliki integrasi kepada teknologi yang dapat mendukung dalam hal mempersiapkan mereka agar dapat bersaing di pasar global.

Ben Schmidt, selaku Direktur Regional Asia Tenggara dan Pasifik Cambridge International, memaparkan tentang penerapan teknologi dalam dunia pembelajaran, yang dapat dijadikan sebagai peluang untuk meningkatkan daya inovasi dan kreativitas mahasiswa dalam praktik pembelajaran.

Sementara Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kemendikbud, Gatot Purnomo,menjelaskan dengan adanya bantuan teknologi, tenaga pengajar dapat lebih efisien dalam mengelola materi dan fokus pada pembentukan karakter siswa serta dapat mengasah pemikiran kritis melalui ruang kelas interaktif.

Namun dalam implementasinya, tentu saja tidak hanya terdapat peluang-peluang yang dapat menyukseskan sistem pembelajaran saja, melainkan juga ditemukan kendala yang dapat menghambat proses pembelajaran dalam hal pemanfaatan tekonologi digital di perguruan tinggi. Salah satunya ialah ketidaksiapan SDM dalam mengelola teknologi informasi. Sehingga langkah utama untuk mengatasi hal ini, perlu diadakan pelatihan bagi warga kampus, terutama para dosen, agar lebih memahami penggunaan teknologi ini.

Melihat era revolusi industri 4.0, secara tidak langsung telah menuntut dosen untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya dalam menyesuaikan diri terhadap kemajuan zaman. Agar dosen lebih adaptif terhadap perubahan dan tidak gaptek dalam proses pembelajaran.

Seperti yang dituturkan seorang Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi (SDID) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristedikti), Ali Ghufron Mukti, bahwa tidak ada dosen yang mampu bertahan jika tidak responsif dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kemajuan teknologi.

Selain itu, sistem keuangan juga harus mendukung, sebab dalam proses migrasi data dari kertas ke sistem informasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini termasuk pengembangan sistem informasi dalam hal penyediaan software, hardware, bandwidth, serta biaya maintenance. Serta kendala lainnya yang kadang-kadang muncul dari sistem birokrasi perguruan tinggi itu sendiri.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan program sistem pembelajaran PJJ, di antaranya: pihak perguruan tinggi harus berbasis teknologi informasi dan komunikasi di segala bidangnya, memberikan pelatihan dan menambah keahlian para tenaga pengajar dalam meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi digital, serta sistem jaringan yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Sementara jika melihat secara menyeluruh, tidak semua perguruan tinggi yang secara keseluruhan telah tersentuh teknologi digital. Sebab, masih ditemukan perguruan tinggi yang masih menerapkan sistem pembelajaran yang sama dari tahun ke tahun, dan sama sekali tidak mengalami perubahan ke arah teknologi digital.

Apabila seluruh perguruan tinggi menerapkan sistem pembelajaran e-learning secara full, maka dapat dikatakan gedung perkuliahan hanya sebatas simbol semata. Karena pada kenyataannya, di dalam gedung kampus tersebut, tidak terjadi kegiatan belajar-mengajar. Sehingga berdampak pada pengurangan dosen yang sedikit demi sedikit tidak dibutuhkan lagi dalam bentuk pembelajaran tatap muka.

Tidak hanya sistem pembelajaran e-learning yang mengarah kepada sistem pembelajaran PJJ saja, tetapi perguruan tinggi juga dapat memanfaatkan kemajuan IT dalam bentuk hybrid atau blanded learning sebagai sistem pembelajaran, di mana dosen dapat mengolaborasikan sistem pembelajaran tatap muka langsung dengan sistem pembelajaran secara daring (online), yang dikenal dengan sistem pembelajaran campuran.