Ruta Sepetys mengajak kita untuk menyaksikan tragedi lain yang tidak tersingkap dalam sejarah gelap tragedi kemanusiaan. Tragedi yang diangkat dalam novelnya tersebut berkaitan dengan Perang Dunia II yang terjadi pada tahun 1945. 

Secara umum, novel tersebut bercerita mengenai perjuangan masyarakat Prusia Timur yang terpaksa mengungsi untuk mencari tempat aman agar bisa bertahan hidup ketika perang mulai merambah wilayah mereka. Namun yang menarik adalah sang pengarang berhasil mengemas materi sejarah yang begitu kompleks dalam sebuah novel historical yang apik. 

Kisah bermula ketika jutaan pengungsi saling berjuang dan bertemu dalam pelarian dengan empat tokoh utama dalam novel yang masing-masing membawa rahasia. Empat tokoh tersebut seakan menjadi perwakilan ribuan pengungsi sehingga berhasil membuat pembaca seakan merasakan dan menyaksikan perjuangan bertahan hidup saat perang terjadi. 

Seorang wanita bernama Joana, yang mencap dirinya sebagai seorang pembelot karena meninggalkan wilayah Lituania jauh sebelum perintah evakuasi dikeluarkan oleh Pemerintahan Jerman. Joana menjadi penggambaran watak seorang wanita yang jika dilihat dari luar begitu peduli dan kuat namun menyimpan banyak luka dari penantian panjang untuk bertemu kembali dengan keluarganya serta rasa bersalah karena sepupunya yang terbunuh. 

Seorang gadis Polandia berumur 15 tahun bernama Emilia, yang dari luar terlihat sangat rapuh namun sebenarnya sangat berani dan memiliki tekad kuat untuk mempertahankan kehidupan dan haknya. 

Tokoh pemuda bernama Florian sebagai sosok pemuda misterius yang menyimpan banyak rahasia atas pilihan-pilihan salah yang berusaha dia perbaiki dalam pelariannya. 

Terakhir, sosok pemuda bernama Alfred dengan watak yang cenderung penakut dan terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk ikut dalam ekspedisi penyelamatan pengungsi menggunakan kapal Wilhelm Gustloff. 

Selain keempat tokoh utama, terdapat beberapa orang yang ikut dalam rombongan tersebut. Seorang pria tua pengrajin sepatu bernama Heinz, seorang anak laki-laki bernama Klaus, seorang gadis buta bernama Inggrid dan seorang perempuan lain bernama Eva dengan watak yang mungkin paling banyak mendapat gambaran negatif dari pembaca, khususnya dalam novel dengan tema bertahan hidup.

Klimaksnya memiliki kemiripan dengan tragedi tenggelamnya Titanic. Semua pengungsi merasa lega ketika Wilhelm Gustloff mulai meninggalkan Gotenhafen menuju Kiel. 

Di atas Wilhelm Gustloff, para tokoh utama mulai membayangkan kehidupan yang akan mereka dapatkan setelah Wilhelm Gustloff berlabuh di Kiel. Setidaknya sampai terdengar bunyi ledakan yang besar.

Hal terburuk yang menjadi ketakutan para pengungsi terjadi. Rusia mulai melancarkan serangan. Torpedo yang diluncurkan kapal selam Rusia menyerang Wilhelm Gustloff. 

Tidak memakan waktu lama untuk membuat Wilhelm Gustloff mulai tenggelam ke dalam pekatnya Laut Baltik. Pengungsi saling memperebutkan pelampung atau entah apa pun itu yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. 

Situasi bertambah buruk ketika sekoci yang seharusnya berjumlah 22 buah hanya tersisa 12 buah dengan total pengungsi yang tidak sebanding jumlahnya. 

Keempat tokoh utama saling bertemu di dek atas untuk sama-sama bisa menyelamatkan diri dengan sekoci terakhir yang tersisa. Namun tidak semuanya berhasil naik. 

Emilia yang seharusnya naik setelah Joana, menyuruh Florian untuk naik menggantikannya serta memberikan bayinya kepada pemuda tersebut. Mendengar perkataan petugas kapal bahwa sekoci itu masih muat untuk satu orang lagi, si pria pengrajin sepatu memohon agar Klaus bisa ikut dalam sekoci tersebut.

Dari keempat tokoh utama dalam novel, yang berhasil selamat hanya Florian dan Joana, ditambah Halinka anak Emilia dan Klaus. 

Ruta Sepetys berhasil mengalahkan asumsi orang banyak bahwa mempelajari sejarah selalu berkaitan dengan hal membosankan dan monoton. Ide membalut kisah fiksi dengan sejarah adalah inovasi cemerlang untuk meningkatkan minat baca, khususnya seputar sejarah. 

Tak tanggung-tanggung, banyak sumber yang digunakan oleh Ruta dalam menulis Salt to the Sea. Salah satunya adalah berbagi cerita dengan penyelam pertama yang berkunjung ke bangkai Wilhelm Gustloff hingga menyusuri kembali rute-rute yang dilewati para pengungsi untuk bisa sampai ke Wilhelm Gustloff demi detail sejarah yang penting untuk dituliskan.

Sebenarnya, akhir kisah fiksi novel ini tidak menjadi fokus utama dalam novel bergenre historical ini, karena tokoh-tokoh tersebut pada intinya hanya sebatas fiksi. Tapi, kisah fiksi yang diceritakan tersebut berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan ribuan pengungsi untuk bisa bertahan hidup. 

Kematian sembilan ribu lebih nyawa pengungsi yang menjadi penutup tragedi tenggelamnya kapal Wilhelm Gustloff bukanlah kisah fiksi dan seharusnya tidak dilupakan sebagai bagian dari sejarah. Walaupun tidak sepopuler tragedi maritim lainnya seperti Titanic dan Lusitania, bangkai Wilhelm Gustloff yang sekarang berada di dasar perairan Laut Baltik menjadi saksi bisu sembilan ribu orang lebih pernah meregang nyawa di dalamnya.