Bila musim kemarau tiba, komunitas adat Suku Anak Dalam yang telah menetap di permukiman Desa Dwikarya Bhakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Muaro Bungo, Provinsi Jambi berbondong-bondong ngakob ikan di sungai. 

Dalam bahasa Rimba, ngakob ikan adalah tradisi menangkap ikan di sungai menggunakan dua telapak tangan, tepatnya pada musim kemarau tiba. Di musim kemarau, air sungai sudah pasti surut dan ikan-ikan akan mengumpul di suatu tempat sehingga lebih mudah ditangkap dibanding musim hujan.

Tradisi ini dikhususkan untuk perempuan Suku Anak Dalam yang sudah memiliki anak atau yang biasa dipanggil induk. Namun, anak-anak dan para remaja, baik laki-laki maupun perempuan, pun boleh juga ikut serta meramaikannya. 

Tradisi ngakob ikan ini dilakukan setiap hari selama bulan Kemarau dengan tujuan sungai yang berbeda.

Sebelum berangkat ngakob, biasanya para induk beserta anak-anak mengadakan kesepakatan untuk memilih sungai yang akan dituju. Tujuan sungai pun dipilih yang letaknya dekat dengan permukiman. 

Setelah mencapai kesepakatan, mereka akan pergi secara beramai-ramai sebab kebersamaan adalah tradisi yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Ngakob ikan ini acapkali dilakukan dari siang hingga sore hari. Meski teriknya matahari membakar kulit mereka, hal tersebut tak menyurutkan niat rombongan Suku Anak Dalam untuk berburu ikan. Tentu saja, selain bisa makan enak, ngakob ikan bisa membantu perekonomian rumah tangga.

Saat berangkat menuju sungai, mereka tidak membawa bekal atau peralatan khusus, hanya bermodal keyakinan saja. Bila yang hendak pergi adalah seluruh induk di permukiman, perjalanan akan ditempuh menggunakan sepeda motor. 

Para perempuan Suku Anak Dalam khusus daerah ini memang sudah mahir mengendarai kendaraan bermotor sebab tak sedikit dari mereka yang  tidak memiliki motor.

Bila ternyata yang hendak ikut ngakob ikan sangat ramai, yakni anak-anak dan para remaja ikut serta, biasanya mereka akan naik mobil L-300 milik Tumenggung Hari. 

Mobil ini akan dikendarai langsung oleh Tumenggung Hari untuk mengantarkan Suku Anak Dalam menuju lokasi. Setibanya di lokasi, mereka akan berbarengan terjun ke sungai untuk menangkap ikan dengan dua tangan.

Siska, remaja tanggung Suku Anak Dalam berusia dua belas tahun, mengatakan bahwa menangkap ikan baginya bukanlah hal yang sulit. Meski beberapa kali ikan yang hendak ditangkap lepas, namun lebih banyak juga ikan yang berhasil ia tangkap. 

Kata Siska lagi, beberapa warga dusun sering ikut menangkap ikan mengikuti tradisi Suku Anak Dalam. Mereka pun tidak melarang warga dusun sebab dalam kepercayaan Suku Anak Dalam apa yang ada di alam adalah milik bersama.

Tak ada mantra atau ritual khusus yang dibacakan sebelum atau sesudah ngakob ikan. Semua yang telah berada di dalam sungai boleh menangkap ikan sesukanya. 

Setelah ikan-ikan hasil ngakob didapatkan, Suku Anak Dalam akan mengambil akar pohon atau ilalang yang ada di sekitar sungai untuk mengikat ikan hasil buruan. 

Hasil yang didapatkan pun tidak sedikit. Setiap induk biasanya mendapat kurang lebih 1 kg berbagai macam ikan sungai. Ada juga yang pernah mendapat ikan hingga 3 kg lebih.

Setelah kembali ke permukiman, ikan-ikan hasil buruan akan dibagikan kepada para induk yang tidak bisa ikut ngakob ikan. Alasan tidak bisa mengikuti tradisi ngakob ikan pun beragam, mulai dari  faktor usia, menjaga anak, hingga merawat anak/keluarga yang tengah sakit.

Biasanya, ikan akan dimasak dengan cara digoreng atau direbus. Dari kedua cara ini, biasanya Suku Anak Dalam rombong Tumenggung Hari lebih suka dengan cara kedua, yakni direbus. 

Hasil ikan buruan yang direbus terasa lebih empuk saat digigit. Hal ini tentu saja memudahkan mereka saat menelan makanan, sebab tidak sedikit masyarakat Suku Anak Dalam permukiman ini yang giginya telah rusak.

Bumbu yang digunakan untuk memasak ikan sederhana saja, hanya garam dan penyedap rasa. Semenjak tinggal di permukiman dan meninggalkan hutan, Suku Anak Dalam Kecamatan Pelepat mulai mengenal penyedap rasa dari masyarakat dusun. Lauk ikan yang telah dimasak disajikan bersama nasi putih.

Hasil buruan dari ngakob ini, ternyata bukan hanya ikan saja. Terkadang mereka juga mendapatkan udang, belut, bahkan kepiting. 

Jika mendapatkan udang, terkadang mereka akan mengembalikan udang tersebut ke dalam sungai atau mengumpulkan udang di suatu tempat untuk sengaja diberikan ke warga dusun sebab memakan udang termasuk salah satu pantangan bagi laki-laki Suku Anak Dalam.