Toynbee beranggapan bahwa Sejarah Dunia berproses seperti siklus yang bergerak ke atas dan ke bawah. Toynbee mencoba mengganti ide kemajuan sosial dengan teori siklis. Sejarah adalah jumlah dari sejumlah peradaban yang melewati tahap-tahap yang sama, yaitu kelahiran, pertumbuhan, kejatuhan, kehancuran, dan pemusnahan dan kemudian kembali lagi ke tahap awal kelahiran, dan seterusnya.

Toynbee mencoba membuktikan bahwa peradaban Barat dapat diselamatkan lewat klerikalisme. Ia mengombinasikan kepercayaan pada kultus individual dengan keperayaan pewahyuan ilahi sebagai makna sejarah dan harapan akan persatuan dengan Allah.

Toynbee mengaitkan pola sejarah dengan peradaban manusia. Toynbee menganggap peradaban sebagai sejaman dan sejajar (contemporaneous and equivalent). Toynbee mengkritik argumen yang menyatakan bahwa Peradaban Eropa Barat adalah satu-satunya peradaban dan mengkritik egosentrik kedaerahan mereka. 

“Kesatuan peradadaban” mereduksi pluraitas yang nyata dari peradaban menjadi satu. Toynbee menghitung ada 21 peradaban dan 7 peradaban di antaranya masih hidup, 14 peradaban di antaranya sudah punah, 3 peradaban mulai mengawali sejarah kembali. 

Peradaban dan masyarakat diikat oleh budaya yang sama, dan aspek terpentingnya adalah agama. Banyak sosiolog Barat yang mereduksi masyarakat dengan budaya dan budaya direduksi menjadi ide dan pengalaman fisik saja. 

Semua peradaban bergerak seperti lingkaran yang melalui tahap-tahap permulaan (genesis), pertumbuhan(growth), kerusakan (breakdown), pembubaran (dissolution), dan mati (death). Toynbee menghubungkan sejarah dengan rencana Ilahi yang mana mengikat individual yang membuat peradaban. Masyarakat dibentuk karena individu yang berkumpul dan membuat sejarahnya sendiri menurut pilihan bebasnya. 

Toynbee membuktikan bahwa kemampuan untuk membuat sejarah yang riil berada di tangan sekolompok orang yang ia sebut sebagai minoritas kreatif (creative minorities). Sebutan lain untuk mereka adalah creative personalities, the geniuses, the supermen, the superhuman, or the privileged human beings.

Mereka tampak di dalam masyarakat sebagai orang kudus, mistikus, pendiri agama, filsuf, jenderal, dan sejarawan. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam minoritas kreatif adalah Musa, Yesus, Mohammad, Petrus yang Agung, Napoleon, dan lainnya (Toynbee mengajukan 26 nama tokoh minoritas kreatif).

Semua tindakan ciptaan sosial (social creation) adalah tindakan dari pencipta individual atau yang paling sering adalah dari minoritas kreatif. Sang “Pencipta” ini (minortias kreatif) selalu menghadapi tantangan dari massa tidak kreatif (uncreative mass). 

Minoritas kreatif dipercaya, oleh Toynbee, memberi pengaruh pada paksaan sosial lewat demokrasi dan industrialisme. Kendati perbandingan minoritas kreatif dengan massa tidak kreatif itu tidak seberapa, minoritas kreatif berperan sebagai pionir yang menggerakkan perubahan. Dengan demikian, minoritas kreatif akan mempengaruhi massa tidak kreatif untuk melakukan perubahan bersama-sama. 

Bagaimana minoritas kreatif ini bekerja dapat dirumuskan dengan istilah mukjizat penciptaan. Pertama-tama, mereka akan menarik diri dari masyarakat dan masuk kedalam ekstasi ide-ide mistik mereka. Kemudian mereka akan kembali ke masyarakat dan memulai tindakan penciptaan. 

Toynbee menganggap bahwa tindakan minoritas kreatif itu sebagai mukjizat penciptaan karena bagi Toynbee mereka adalah manusia super secara literal dan mukan dalam arti metafora. Mereka dapat mempengaruhi massa (massa tidak kreatif). Pertumbuhan peradaban ditentukan oleh kerja dari individu kreatif atau minoritas kreatif yang mampu memberi pengaruh kepada massa tidak kreatif.

Massa tidak kreatif disebut pula sebagai mayoritas tidak kreatif. Untuk menghadapi mereka, Toynbee mengajukan ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu latihan (drill) dan mistisisme (mysticism). Latihan yang dimaksud adalah metode penanaman moral lewat kebiasaan-kebiasaan. 

Mistisisme mengajukan imitasi akan personalitas yang lain dan bahkan persatuan spiritual. Bagi Toynbee, masyarakat hanya dapat meniru di bagian permukaan saja (superficial)dan secara mekanis (mechanical copying – mimesis).

Tanggapan Kritis

Menurut saya, teori siklis dari Toynbee sangat bernada optimisme akan sejarah dan perkembangan peradaban. Teori ini sangat relevan bagi negara-negara jaman ini yang ingin mengembalikan kebesaran masa lalu atau ingin mencapai perkembangan semaksimal mungkin. Toynbee memusatkan perhatiannya kepada sejarah dan hubungannya dengan peradaban dan masyarakat.

Akan tetapi, menurut saya, sejarah-peradaban-dan masyarakat tidak dapat dipisahkan pula dari pembahasan negara atau sekumpulan negara yang “berkebudayaan sama.” Hal ini akan mempermudah pemahaman kita yang hidup di jaman ini yang mana batas-batas nasional sangat jelas dan terpilah satu dengan yang lain yang secara sadar atau tidak mempengaruhi kita dalam melihat sejarah-peradaban-dan masyarakat.

Teori mengenai minoritas kreatif juga sangat relevan jika kita lihat pada masa-masa kampanye di mana banyak pasangan calon presiden-wakil presiden dan legislatif yang mengemukakan janji untuk mengembalikan hal-hal baik negara di masa silam. 

Akan tetapi, Toynbee hanya menguak “motor atau agen perubahan” masyarakat yaitu dalam sosok minoritas kreatif. Menurut saya, ada faktor lain yang menentukan perubahan masyarakat, yaitu masalah politik, pengusaan terhadap media dan perkembangan industri sebagai instrumen perkembangan kebudayaan. 

Saya mau menyimpulkan bahwa teori siklis dan minoritas kreatif Toynbee sangatlah sederhana (primitive). Ada banyak hal yang luput dari perhatian Toynbee seperti bagaimana melihat peradaban yang benar-benar sudah mati seperti Mesir, Mesopotamia, Maya, dsb? 

Bagaimana hubungan penguasaan media, industri, dan ekonomi oleh minoritas kreatif dalam rangka mengubah mayoritas tidak kreatif? Bagaimana peran agama dan nilai-nilai religious masih “didengarkan” oleh masyarakat sekuler dalam rangka menjadi pendorong masyarakat?